Senin, 24 Desember 2012

Fallin in Love For The Second Time



 Hari ini hujan deras sedang mengguyur kota Bogor, aku yang sejak tadi berdiri di balkon depan kamarku sangat menikmati pemandangan indah yang terhampar tepat di depan mata, aku sangat senang saat hujan deras tengah mengguyur kota kelahiranku ini karena aku bisa menikmati indahnya pemandangan gunung salak yang sedang di selimuti oleh kabut tebal, pemandangan itu seakan menghipnotisku untuk selalu merasa tenang, apalagi dengan di temani secangkir Good Day Chocochino kesukaanku,tapi untuk saat ini aku tidak berlama-lama menikmati pemandangan itu seperti biasanya, tiba-tiba aku teringat oleh seseorang yang selalu aku rindukan, yang dulu pernah mengisi hari-hariku dengan sangat indah laki-laki itu adalah Kafi, Kafi adalah pacar pertamaku saat aku menduduki bangku SMA kelas 3 Kafi selalu berhasil menimbulkan senyum dan tawa di wajahku bahkan dalam hubungan kami jarang bertengkar, tapi sejak malam sebelum pengumuman kelulusan tiba aku mendapat pesan singkat dari Roni yang isinya mengatakan bahwa Kafi telah meninggalkan kita semua untuk selamanya, peristiwa itu benar-benar membuatku merasa benar-benar sangat terpuruk aku merasakan kehilangan orang yang aku sayang untuk ke dua kalinya setelah papa meninggal saat aku masih berada di kelas 3 sd. Kafi meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat perjalanan menuju rumahku untuk memberikan sesuatu sebelum kami masuk ke Universitas yang kami pilih,tapi malam itu Kafi benar-benar membawa perpisahan yang sangat menyakitkan bagiku bahkan aku belum sempat bertemu dan bercanda dengan Kafi seperti biasanya karena Kafi melarangku untuk bertemu dengannya sampai malam sebelum kelulusan tiba,Kafi sempat mengatakan satu hal untukku yang aku belum mengerti apa maksudnya “Yo kamu engga boleh takut sama gelap, karena suatu saat kita akan kembalidan akan berada di tempat yang amat gelap dan di sana pastinya engga bakalan ada aku lagi loh yo” aku tidak mengerti apa maksudnya kembali dan apa maksudnya kalo Kafi tidak akan ada lagi untukku, tapi setelah aku melihat jasad Kafi di makamkan, aku baru mengerti bahwa tidak selamanya tuhan menghendaki orang yang kita sayang berada di sisi kita untuk menjaga dari apa yang selama ini kita takutkan.

Bayangan wajah Kafi saat tertawa dan saat menatapku dengan tatapan yang sangat teduh sering melintas di benakku hingga saat ini, itu adalah satu-satunya alasan kenapa aku menutup hati sampai aku benar-benar menemukan sosok laki-laki seperti Kafi. Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku saat aku mulai merasakan getar dari ponselku, aku segera membuka pesan singkat yang tertera pada layar ponselku, ternyata itu dari Karin “Yo udah siap buat KKN besok belom? Kita akan menempuh perjalanan panjang loh jangan lupa bawa lampu baterai ya biar engga gelagapan nanti di sana hehe” aku hanya tersenyum melihat pesan singkat yang di kirimkan oleh Karin, Karin adalah sahabatku, kami dekat sejak kami masih Tk, sejak saat itu kami mengambil sekolah SD yang sama tapi kami terpisah saat kami memasuki jenjang SMP, tapi pada akhirnya kami bertemu lagi saat ospek di SMA 6 Bogor. Karin adalah sahabat sekaligus sodara perempuan yang sangat baik untukku saat hari duka akan Kafi justru Karinlah yang hampir 1 minggu menemaniku di kamarnya, dan sekarang kami menjadi mahasiswi di Universitas Djuanda dengan jurusan yang sama pula. Besok adalah hari dimana kami melakukan kegiatan KKN terutama untuk mahasiswa jurusan Budidaya Pertanian di desa Sukmajaya, banyak orang yang bilang bahwa di daerah itu belum semua warga menggunakan listrik oleh sebab itu aku harus membawa lampu baterai yang ada di kamarnya untuk berjaga-jaga. Aku pun menyadari kalau hari sudah mulai malam, tanpa berpikir panjang aku segera masuk ke dalam kamarnya dan mulai menyalakan lampu di kamarnya. Setelah menyalakan lampu aku segera mengambil koper dan mulai memasukkan beberapa potong baju dan celana ke dalam koper tak lupa juga aku membawa almamater serta lampu baterai dan baterainya ke dalam koper, setelah semuanya selesai aku segera turun menuju dapur untuk mengambil beberapa snack dari dalam kulkas dan masuk kembali ke kamar.
Hampir setiap malam aku berada di rumah hanya di temani dengan bi Imas yang sudah bekerja dengan keluarga kami hampir 15 tahun, sedangkan mama bekerja dan baru pulang selepas adzan Isya. Aku adalah anak semata wayang yang akan meneruskan perjalanan perusahaan milik papa yang selama ini di kembangkan sementara oleh mama, setelah mengambil beberapa snack dan minuman dingin juga tak lupa aku menyapa bi Imas yang sedang asyik menikmati kopi panasnya di ruang belakang aku pun berjalan menaiki anak tangga menuju kamarku yang bernuansa hijau pastel dengan semua furniture berbahan dasar kayu, aku sangat senang dengan berbagai macam novel dan dvd kartun sehingga di dalam kamarku ada 3 buah rak kayu. Dari 3 rak tersebut hampir semua terisi oleh novel dan dvd kartun, sambil membuka snack potato aku berjalan menuju salah satu rak untuk mengambil satu novel yang baru kemarin aku beli dan belum sempat aku baca, setelah mengambil buku itu aku mencari posisi yang nyaman di atas tempat tidur, aku mulai membaca halaman per halaman di temani dengan snack dan suara hujan di luar kamarku. Setengah jam berlalu aku mendengar suara mama yang baru saja pulang dari kantor, segera aku  meletakkan novel yang tadi sedang aku baca dan berlari menghampiri mama yang baru saja pulang “hai ma” sapaku sesampainya aku di bawah dan melihat mamanya duduk manis di ruang tengah “hai na, kamu sudah makan malam?” tanya mama setelah melihatku duduk di sebelah mamanya “belum,mama sudah makan?” tanyaku sambil melepaskan pelukan dari tubuh mamanya “belum juga, oh iya mama bawa toge goreng tuh kamu mau engga? Mama bawa 3 kita makan bareng-bareng yuk sama bi Imas juga” kata mama sambil mengelus rambut anak semata wayangnya itu “yuk ma, aku juga laper nih hehe tapi mama engga ganti baju dulu?” tanyaku sambil memegang tangan mamanya “iya deh mama ganti baju dulu ya na” kata mama sambil berlalu memasuki kamar, sambil menunggu mama ganti baju aku mengetikkan pesan singkat untuk Karin “ka, udah prepare belom? Besok berangkat jam brapa? Berangkat bareng yuks” setelah mengetikkan pesan singkat aku menekan tombol SEND.

“yuk na kita makan, bi Imas mana?” kata mama tiba-tiba yang sudah berganti baju dan menuju ruang makan “iya ma bentar, bi Imas ada di kamarnya kali ma” kataku sambil berdiri dan menghampiri mama di ruang makan, setelah bi Imas muncul mereka mulai makan bersama-sama di ruang makan, aku selalu menceritakan kisah yang lucu dan menyenangkan di depan mama, aku tidak ingin membuat mama khawatir, aku pun tidak mengatakan pada  mama tentang kondisi desa Sukmajaya yang belum semua warga menggunakan listrik agar mama merasa tenang saat aku tidak berada di rumah, “gimana persiapan kamu na buat KKN besok?” kata mama di sela-sela mereka makan “udah lengkap semua ma” kataku sambil menyuapkan toge terakhir ke dalam mulut “di sana ada listrik kan na?” kata mama khawatir “ada kok ma tenang aja” kataku menenangkan mama “oh bagus deh kalo gitu kamu hati-hati ya na di sana, biar gimana itu lingkungan baru kamu harus hati-hati” kata mama mengingatkannya “iya ma” kataku singkat namun menenangkan. Setelah makan malam habis aku sedikit bercerita tentang Karin yang sedang menaksir tentor di kampusnya “kalo Karin aja bisa dapet gebetan baru terus kamu kapan dong na dapet gebetan baru juga? Apa jangan-jangan kamu juga udah punya tapi engga mau di kasih tau mama ya?” kata mama menggoda “ih mama apaan sih,aku belom punya gebetan baru kok mah, belom ada yang kaya Kafi soalnya” kataku  menepis candaan mama “na engga semua orang itu bisa kaya Kafi, engga semua orang itu sama na, mau sampe kapan kamu menutup hati untuk yang lain? Kamu itu manis na kamu pantas kok dapat yang lebih baik” kata mama menasehati “tapi Cuma Kafi ma yang bikin aku senyum dan ketawa terus” kataku yang tiba-tiba teringat memori indah saat SMA yang di laluinya bersama Kafi “untuk membuat kamu tersenyum dan tertawa engga hanya dengan candaan yang di buat-buat ada saatnya kamu akan tertawa dan tersenyum saat kamu mengingat kejadian lucu bersama seseorang yang tidak kamu duga” kata mama mencoba untuk membuka hati anaknya “engga tau deh ma aku bingung” kataku pasrah “yaudah na,kamu tidur sana besok kamu harus berangkat pagi kan?” kata mama mengingatkan “iya ma,night ma,night bi Imas aku tidur duluan ya” kataku sambil berlalu meninggalkan ruang makan dan berjalan menuju kamarnya.

Sesampainya aku di kamar aku membuka balasan pesan singkat dari Karin “udah semua siap kok,boleh kita berangkat jam 6 ya, gue samper lo oke jangan ngaret” setelah membaca pesan itu aku mengetikkan balasan pesan singkat untuk Karin “oke, jangan lupa bawa EXTRA baterai ya, takut engga cukup baterai yang gue bawa hehehe” setelah membalas pesan singkat Karin, aku mulai menyetel alarm jam 5 pagi dan segera menarik selimut karena malam itu cuaca sangat dingin, hujan yang sedari tadi mengguyur kota Bogortidak ada tanda-tanda akan berhenti. KRIIINGGGG.... KRIIINGGG..KRRIIINGGG.. aku terbangun karena alarm yang aku pasang telah berdering, segera aku menuju kamar mandi untuk bersiap-siap, setelah keluar dari kamar mandi aku melihat jam dinding berbentuk Keroppi yang terpampang di atas tempat tidur, jam sudah menunjukkan pukul 5.35 segera aku membuka lemari dan mencari pakaian yang pas untuk hari ini, setelah berpakaian aku mulai mengeringkan rambutku yang ikal dan memoleskan bedak dan lipgloss di wajahku, tak lama kemudian sosok Karin telah duduk di tempat tidurnya “lama amet mba, buruan apa” kata Karin yang tidak sabar “iye mba sabar eeh orang mah” kataku yang sedang menyisirkan rambut “hehe,eh iya na katanya si Tata tentor kita itu ada Ferdi loh” kata Karin antusias “Ferdi? Ferdi yang mana ya?” kataku sambil mengingat wajah Ferdi “ih bolot pisan eta teh, itu loh si Ferdi angkatan di atas kita 2 tahun yang gantengnya maut itu loh” kata Karin sok tau “yee.. sembarangan ngatain gue bolot, ya kali engga tau gue, udah yuk kita jalan” kataku mengakhiri pembicaran tentang Ferdi yang aku sendiri pun tidak tau dia itu siapa. Selama di perjalanan menuju kampus kami selalu membicarakan tentang laki-laki yang sedang PDKT dengan Karin “iya kemarin dia ngajak gue hangout bareng tapi gue engga mau” kata Karin penuh tanda tanya “kenapa?” kataku penasaran “ya lo tau lah,mana mau gue baru kenal udah ngajak jalan kaya gitu kesannya gue murahan banget” kata Karin dengan muka mulai cemberut, Karin adalah perempuan yang sangat feminin,sangat menarik dan sangat modis, Karin asli Jakarta tetapi dia sudah lama tinggal di Bogor makanya dia sedikit berbeda dari mahasiswa yang asli dari kota Bogor dari segi berpakaian dan caranya berbicara, meskipun begitu Karin sangat pandai beradaptasi dan dia tidak ingin para lelaki menganggapnya cewe murahan. Sesampainya kami di kampus, kami langsung menuju aula untuk berkumpul, setelah semua berkumpul kami pergi menuju bus yang telah terparkir rapi di dekat gedung fak. Budidaya Pertanian, perjalanan pun di mulai, butuh waktu sekitar 12 jam untuk bisa sampai ke daerah tersebut, sepanjang jalan aku membaca novel yang belum selesai dibaca semalam sedangkan Karin tengah asik mendengarkan ipodnya.
12 jam berlalu mereka mulai memasuki jalan perkampungan yang tidak rata, di kanan dan kiri terhampar sawah yang tidak ada tanaman padi satu pun tanda para petani telah mengalami musim panen, di sepanjang jalan pun terlihat banyak anak kecil yang bermain di pinggir sawah, tak lama kemudian bus pun berhenti tanda kami sudah sampai, “ayo semuanya turun,bawa peralatan masing-masing jangan sampe ada yang ketinggalan” kata seseorang lewat pengeras suara, tanpa menunggu lama semua penghuni bus turun membawa peralatan masing-masing dan semua peralatan yang di butuhkan selama kegiatan KKN berlangsung. Setelah semua telah di turunkan para mahasiswa dan mahasiswi mendengarkan kata-kata penyambutan dari kepala desa, 15 menit waktu yang di butuhkan untuk penyambutan kami para peserta KKN setelah itu kami di ajak ke tempat singgah sementara, untuk para mahasiswi rumah singgahnya berada di sebelah kanan sedangkan untuk para mahasiswa rumah singgahnya berada di sebelah kiri. Rumah itu terbentuk semi permanen dengan lantai hanya di selimuti semen dan tembok tak bercat hanya tumpukan batu bata dan semen yang menghiasi tembok itu. “Hari ini semua peserta KKN beristirahat tetapi jam 9 malam semua peserta KKN berkumpul di rumah singgah putri untuk pembagian kelompok” kata salah seorang mahasiswa lewat pengeras suara, setelah para peserta merapihkan seluruh barang-barang mereka dan beristirahat para peserta berkumpul di ruang tengah rumah singgah putri, waktu berjalan dengan sangat cepat mereka telah menentukan anggota kelompok beserta ketuanya dan mulai besok mereka mulai melaksanakan tugas mereka, aku dan Karin masuk dalam kelompok yang berbeda, aku ada di kelompok yang mengurus masalah penanaman padi organik sedangkan Karin di tempatkan di kelompok yang mengurus masalah pengolahan padi organik menjadi beras organik. Aku sekelompok dengan Ferdi laki-laki yang tadi pagi sempat di bicarakan oleh Karin, bahkan Ferdi menjadi  ketua di dalam kelompokku. Setelah membicarakan kelompok kami segera tidur untuk mempersiapkan hari esok yang akan di mulai pada jam 5 pagi. Setelah sampai di kamar aku mengucap syukur karena di kamarku sudah terdapat listrik yang terang aku berdoa semoga teman sekamarku bisa tidur dalam keadaan terang. Beberapa menit kemudian para penghuni kamar itu berdatangan setelah semuanya sudah masuk kamar aku memberanikan diri bertanya kepada mereka “ada yang keberatan engga kalo tidur lampunya engga di matiin?” kataku kepada peserta yang lain selain Karin, “gue siih engga keberatan kalo tidur lampunya nyala,kalo kalian?” tanya Dinda kepada mahasiswi yang lain, semuanya menggeleng menandakan mereka tidak keberata jika lampu tetap di nyalakan. “makasih ya” kataku kepada mahasiswi yang lain, aku  pun melirik Karin dengan tersenyum sebagai isyarat bahwa malam ini dia akan tidur dengan nyenyak malam ini.

KRINGGGG..... serentak jam beker para mahasiswi di kamar aku pun berdering, satu persatu dari mereka pun mulai menjajaki alam sadar dan mulai mengambil handuk mereka dan pergi mengantri ke kamar mandi agar mendapat giliran untuk mandi, begitu pun dengan aku dan Karin kami telah ikut mengantri agar dapat mendapat giliran untuk menyegarkan badan kami, setelah selesai mandi dan bersiap-siap aku menemui Ferdi untuk ikut memberikan pengarahan kepada para petani di desa Sukmajaya. Hanya butuh waktu satu jam untuk memberikan pengarahan tentang cara menanam padi organik kepada para petani telah selesai, maka praktek pun segera di lakukan secepatnya, suasana saat itu sangat ramai oleh warga sekitar yang berkumpul mengitari kelompok kami, tak jarang para ibu-ibu pun berdatangan dengan anak-anaknya hanya sekedar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi atau pun karena mereka tertarik dengan apa yang kami lakukan untuk memperbaiki kehidupan mereka dengan menanam padi organik. Banyak para petani yang pro dan kontra dengan apa yang kami terapkan, hari pun sudah siang aku pun sudah lelah karena harus berbicara panjang lebar sejak tadi pagi tetapi aku melihat satu sosok yang masih bersemangat dengan jarak kurang lebih 1 meter dariku dia sedang memberikan penjelasan lebih lanjut kepada beberapa orang dengan sabar dan penuh dengan wibawa, aku pun hanya tersenyum kagum melihat dia yang sangat sabar menghadapi warga sekitar, wajahnya sangat familiar untukku namun sampai sekarang aku pun tidak tau siapa dia, “hayooo lagi liatin Raka yaaa, naksir apa lu sama dia? Haha” kata Karin yang membuat aku kaget karena aku terlalu serius memperhatikan dia “ah apa ? naksir? Engga lah hati gue masih tetep untuk Kafi kok ka” kata aku tergagap karena kaget “yaelah yo ngapain sih masih mikirin Kafi, Kafi juga pasti lo mau move on dari dia, gue yakin Kafi pasti sedih ngeliat lo yang masih mengharapkan dia” kata Karin dengan tatapan prihatin, aku hanya senyum dan berkata “belom saatnya ka, gue dapet penggantinya Kafi” kataku lirih “kenapa lo engga sama Ferdi aja? Gue denger-denger sih dia naksir lo” kata Karin menyemangati “haha engga tertarik sama dia dari tampangnya aja gue udah tau kalo dia playboy” kataku asal karena aku memang tidak tertarik sama sekali dengan Ferdi menurutku dia terlalu ganjen untuk ukuran cowo macam dia “hah? Serius? Yaudah deh jangan gue engga mau lo sakit hati gara-gara cowo yang engga bertanggung jawab” kata Karin dengan penuh perhatian, aku hanya tersenyum dan mengangguk.

Selama ini aku tidak mempunyai banyak teman dekat karena aku lebih suka menghabiskan waktuku untuk membaca novel ataupun menonton kartun, tak terlalu sering aku dan Karin pergi keluar untuk menonton bioskop ataupun hangout bareng, “eh anak-anak udah pada mau makan siang tuh ke sana yuk” kata Karin tanpa menunggu jawaban dariku dia telah menarik tanganku menuju rumah singgah putri, di sini kami mempunyai kelompok yang hanya memiliki tugas untuk memasak dan membuat minuman untuk peserta yang lain. Makan siang kami sederhana sayur asem,tahu goreng,ikan asin dengan sambel terasi dan nasi panas. Kami makan di teras rumah singgah putri, di sini semua kumpul untuk makan bersama tanpa ada perbedaan sedikitpun di antara kami, saat makan aku melihat Raka sedang bercanda bersama temannya yang lain aku hanya tertawa melihat Raka yang sedang di bully oleh teman-temannya. Setelah makan siang kami pun mulai merapihkan rumah yang sudah berantakan agar rapi seperti semula, butuh waktu setengah jam untuk merapikan rumah setelah itu kami para peserta KKN pergi ke kebun talas untuk memberikan pengarahan tentang pupuk yang harus di pakai agar menghasilkan talas yang berkualitas, meskipun jam menunjukkan pukul 2 siang tetapi udara di sana tetap saja dingin karena letak desa Sukmajaya di lereng gunung salak, saat di kebun aku mendapat kesulitan untuk menjelaskan kepada warna cara pengolahan pupuk alami tiba-tiba Raka datang menghampiri aku dan menjelaskan lebih detail sehingga para warga mengerti, setelah semua warga mengerti Raka pun berkata “kalo emang ada kesulitan jangan takut buat minta bantuan orang lain ya” kata Raka dengan memamerkan senyumnya yang manis “iya makasih ya” kataku “haha iya sama-sama, gue Raka lo?” kata Raka sambil menjulurkan tangannya “gue Yona” kataku sambil menjabat tangan Raka “oh lo yang namanya Yona?” kata Raka terkejut “iya kenapa emang?” kataku bingung “engga kenapa-napa sih, gue Cuma tau losering nulis cerpen di majalah kampus kan ?” kata Raka meyakinkan “iya kenapa? Jelek  ya?” kataku tidak percaya diri “hmm sebenernya sih gue belom baca cerpen lo kaya gimana, Cuma tau aja dari anak-anak di kampus”kata Raka menejelaskan “oh gitu” kataku “ eh gue ke sana dulu ya ada yang harus gue kerjain soalnya”kata Raka, belom sempat di jawab Raka sudah pergi menghampiri temannya.

3 minggu lebih telah di lewati oleh kami para peserta KKN untuk mengajak warga agar bisa memperbaiki kehidupan mereka nantinya, selama kami di sini telah banyak yang kami lakukan untuk warga sekitar terutama pengarahan dan praktik tentang penanaman padi organik,cara mengolah beras organik sampai memberikan bantuan pengajaran untuk anak Sd, semua kami lakukan untuk warga di desa Sukmajaya,dan selam disini aku merasa terganggu dengan kehadiran ferdi yang mendekatiku, selama 3 minggu di sini aku tidak bisa memberi kabar sekalipun sama mama karena sinyal yang terpancar dari operatorku tidak bisa sampai ke daerah ini, selama di sini pun aku semakin sering memperhatikan gerak-gerik Raka, seperti hari ini saat hujan deras mengguyur kota kelahiranku,di rumah singgah putri semua peserta berkumpul untuk sekedar  bermain poker ataupun bercerita tapi satu orang yang tidak terlalu menarik untuk orang lain tapi sangat menarik perhatianku dia mempunyai tinggi sekitar 170cm berambut cepak,berkulit putih dan hanya menyukai kaos polos warna putih,saat ini Raka sedang duduk di teras sambil mengenakan headset, aku sedang membaca novel kedua yang aku bawa dari rumah, hanya saat aku berpindah posisi aku melirik Raka yang duduk tak jauh dariku. Tak terasa hari sudah malam, teman-teman yang lain pun satu persatu mulai masuk ke kamar masing-masing untuk tidur meninggalkan aku dan Raka di teras, “hey” kata Raka sambil menepuk lenganku, akupun menoleh ke arahnya “kenapa?” kataku “lo engga tidur? Yang lain udah pada tidur loh” kata Raka meningatkan “emang ya? Kok gue engga liat mereka pada masuk kamar ya?”kata ku sambil melihat ke arah ruang tengah yang sudah kosong dan gelap “dari tadi lo di panggil sama Karin tapi engga nyaut” kata Raka sambil terkekeh “terus tinggal kita berdua doang nih?” kataku sambil mentap melas ke arah Raka, Raka pun tak menjawab hanya menganggukkan kepalanya yang sudah menjadi jawaban untuk pertanyaanku,”hmm.. lo mau engga, kaloo” kataku ragu-ragu “kalo apa?” kata Raka penasaran “kalo nganterin gue sampe depan kamar soalnya gue takut lewatin ruang tengah itu” kataku sambil menunjuk ke arah ruang tengah yang gelap “yaudah yuk, lo takut gelap ya?” kata Raka menebak, aku pun hanya diam dan mengangguk, tiba-tiba Raka menggandeng tanganku dan mengantarkanku sampai ke depan pintu kamar,aku membuka kamr dan ada sedikit cahaya yang menyorot ke wajah Raka sehingga wajah Raka terlihat sangat jelas, “hmm.. makasih ya ka” kataku sambil tersenyum, “iya sama-sama yo, good night ya” kata Raka sambil tersenyum, aku pun segera menutup pintu sebelum Raka berlalu, aku mengambil posisi tidur di pojok tepat di sebelah Karin karena hanya tempat itu yang tersisa, tanpa menunggu lama mataku pun terpejam dan terlelap hingga aku mendengar alarm kami berbunyi serentak KRIIINGG.. aku pun mulai kembali sadar dari alam mimpi yang sedang membawaku ke atas gunung melihat indahnya sawah yang terbentang di bawah sana. Seperti biasa kami segera mengantri kamar mandi agar mendapat giliran untuk mandi.

Tak lama giliranku pun datang aku segera masuk ke kamar mandi, setelah selesai aku pun keluar dengan memakai baju lengkap, hari ini jadwalku adalah mengajari para petani cara merawat tanaman padi organik yang tidak membutuhkan pestisida, saat aku berada di sawah dan sedang mengajari para petani tiba-tiba Ferdi menarik tanganku dan mengajakku ke suatu tempat yang sangat sepi,beberapa hari terakhir ini aku mengabaikan pertanyaan-pertanyaan Ferdi masalah pribadiku dengan Kafi, aku sangat terganggu dengan hal itu, berkali-kali aku sudah bilang sama dia bahwa itu adalah masalah pribadiku tapi dia tetap saja menanyakan hal yang sama, aku berusaha melepaskan tanganku dari genggaman Ferdi tapi genggaman itu terlalu kuat, ternyata Ferdi membawaku ke lumbung dan pintu lumbung pun di tutup rapat,aku di pojokkan dan di kurung dengan badan Ferdi yang bidang, aku sangat takut karena aku belum pernah di perlakukan kasar seperti ini “lo mau apa Fer?” tanyaku mencoba bersabar “na,selama ini gue udah coba buat deketin lo, tapi kenapa lo selalu menghindar dari gue? Apa gue engga pantes buat lo? Apa gue engga pantes buat gantiin posisi cowo lo yang udah mati itu? “ PLAAKKK tiba-tiba tanganku telah mendarat mulus di pipi Ferdi entah kenapa selama Ferdi membicarakan Kafi seperti itu aku berubah menjadi sensitif, Ferdi pun geram dan melempar kepalaku ke arah tembok kayu di belakangku “lo akan jadi milik gue selamanya na,engga ada yang bisa milikin lo selain gue” bisiknya tepat di kupingku,aku hanya memejamkan mata dan berdoa semoga semua ini tidak benar-benar terjadi, aku sangat paham apabila cowo murka seakan-akan hatinya telah berubah menjadi batu dan pikirannya pun telah di kendalikan oleh setan,meraka akan berbuat apapun selama itu bisa membuat mereka puas. Tiba-tiba ada tangan yang merangkul tubuhku dan mendekapnya, aku hanya diam dan menangis karena aku sudah terlampau takut aku tidak mendengar suara apapun sampai aku membuka mata dan melihat Karin di sisiku “lo udah sadar yo? Yaampun syukur deh lo tuh pingsan lama banget sih yo semuanya pada khawatir sama lo tau” kata Karin panjang lebar, tapi aku hanya tersenyum tanpa mendengar jelas apa yang di bicarakan oleh Karin, kepalaku seakan-akan telah tertimpa sesuatu yang sangat berat, aku pun mencoba untuk duduk tapi di tahan oleh laki-laki, aku tidak melihatnya jelas “lo tidur aja dulu yo,sampe lo bener-bener sembuh” kata laki-laki itu, aku pun hanya mengangguk dan kembali tertidur.
KRINGGG... seperti biasa suara alarm bunyi serempak, aku pun mulai sadar dan segera ke kamar mandi, tidak seperti biasa aku mengantri untuk mandi, kamar mandi masih sepi aku pun segera masuk untuk membersihkan badanku yang terasa sangat lengket, ketika aku keluar dari kamar mandi dan menuju kamar aku di peluk Karin “yaampun yo lo engga kenapa-kenapa kan?? Lo udah sehat kan yo?” tanya Karin tanpa jeda “iya gue engga kenapa-kenapa kok,gue sehat juga,lo kenapa sih nanya gue kaya gitu kaya gue abis ngalamin kecelakaan aja” kataku heran “yaampun yooo jadi lo engga inget sama sekali?” kata Karin histeris, aku hanya menatap Karin dan menggeleng “yaampun yoo lo engga liat plester di leher lo itu? Lo tuh kemaren hampir di bunuh sama Ferdi yooo” kata Karin menerangkan “hah di bunuh? Emang dia ada motif apa buat bunuh gue?” kataku heran sambil memegang leher yang telah di plester “diakan udah lama suka sama lo yo, dan pas dia deketin lo, lo menghindar terus dari dia karena itu dia tuh pengen milikin lo selamanya dia pengen lo itu hanya milik dia seorang engga ada yang lain” kata Karin membeberkan semuanya “terus kenapa tiba-tiba gue bisa ada di kamar?” kataku masih bingung “lo tuh pingsan setelah kepala lo di bentur ke arah tembok lumbung dengan kencang,untung Raka liat ada yang aneh pas lo di tarik sama Ferdi dengan kasar dan berinisiatif memanggil orang-orang yang sedang berada di pos kamling untuk membuntuti lo, jadi sebelum lo di bunuh ya si Ferdi udah di tangkap duluan deh” jelas Karin yang membuatku terdiam “kok kaya di sinetron ya ka?” kataku kepada Karin “haha lu oon amat sih lo haha” kata Karin sambil cengengesan “ih serius kaya udah di rencanain gitu si Ferdi buat ngebunuh gue,lagi tuh cowo sadis amat sih mau bunuh gue kalo mau milikin gue kenapa engga di nikahin aja gitu jangan di bunuh” kataku sambil cemberut “haha intinya Cuma satu yo, karena dia udah tau kalo dia bakalan di tolak sama lo” kata Karin menjelaskan “iya juga sih ka siapa yang mau nikah sama orang kaya Ferdi ih ogaaah” kataku sambil mengangkat bahu “haha udah ah gue mandi dulu?” kata Karin “oh iya gue juga mau ke sawah” kataku sambil terburu-buru keluar dari kamar.

Sesampainya di sawah aku tidak melihat ada keramaian, sawah sepi tidak ada orang yang sedang beraktivitas hanya sekumpulan anak kecil yang bermain-main di tepi sawah, akupun baru menyadari betapa indahnya desa ini berada di lereng gunung dan di kelilingi oleh dua bukit, banyak terasering yang terhampar di bawah sana, ada sungai yang sangat jernih tempat para anak kecil ataupun warga bermain air, aku sangat tertarik dengan kehidupan desa, dengan lingkungannya yang masih asri dan indah,dengan warganya yang sangat ramah, hanya saja aku kesulitan untuk tinggal di desa yang belum mempunyai listrik, aku pun berjalan menuju saung yang berada di tengah sawah setibanya di sana aku melihat Raka “hey” sapaku kepadanya, “hey yo, udah sembuh?” kata Raka setelah melihatku “udah kok, hmm makasih ya ka udah nolongin gue waktu itu” kataku sambil memamerkan senyum termanisku “haha yaelah santai aja kali kan tiap manusia harus saling menolong kan” kata Raka membalas senyumku yang tak kalah manisnya, “eh iya kapan kita pulang?” tanyaku “besok”kata Raka singkat “hah?? Besok bukannya masih ada 2 hari lagi ya?” tanyaku kaget “haha emang lo pingsan udah berapa lama yo?” kata Raka sambil tertawa “emang berapa lama?” tanyaku “lo pingsan aja udah 2 hari yo” kata Raka memberitahu “yaampun terus tugas gimana? Udah selesai? Pantes sawah sepi” kataku menyesal “udah kok tinggal bikin laporannya aja” kata Raka sambil memainkan gitarnya, “lo bisa main gitar juga?” tanyaku pada Raka “menurut lo?” kata Raka menggoda “hmm engga bisa” kataku sambil tersenyum “kok gitu?” tanya Raka heran “iya gue tau lo Cuma megang gitar doang kan biar di bilang bisa main gitar padahal mah engga bisa tuuh ya kan?” kataku sambil cengengesan “haha sok tau, gue bisa kali main gitar mau apa gue nyanyiin?” kata Raka menawari “haha gitu dong jangan di pegang-pegang aja tuh gitar haha” kataku sambil tertawa “bilang mba kalo mau di nyanyiin sama gue haha” kata Raka, tak lama Raka pun memainkan gitarnya dan mengalunkan lagu karya Adhitya Sofyan “Blue Sky Collapse
Still everyday I think about you
I know for a fact that’s not your problem
But if you change your mind you’ll find me
Hanging on to the place
Where the big blue sky collapse

“Hmm bagus juga suaranya” kataku sambil melirik Raka yang sedang berusaha menyalakan rokonya, “haha iyalah kalo lo minta di nyanyiin sms gue aja ya haha” kata Raka sambil cengengesan “oh iya setelah KKN kita pada pisah ya?” kataku dengan wajah memelas “hmm ya engga pisah juga sih kan kita satu kampus pasti ketemulah oh iya minta nomor lo dong” kata Raka “iya juga sih, tapi kan pasti pada sibuk masing-masing, buat apa?” kataku “buat jadi nomor togel haha, ya buat di save lah anak-anak yang lain juga gue mintain jadi sewaktu-waktu mau kumpul kan tinggal sms” jelas Raka “oh oke mana hp lo sini” kataku, Raka pun mengambil ponselnya yang tergeletak di sampingnya. Sampai menjelang sore mereka berada di saung itu bercanda dan tertawa, Raka selalu melakukan hal-hal aneh yang membuat aku menggelengkan kepala, setelah lelah kami pulang ke rumah singgah untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk di bawa pulang. Ini adalah malam terakhir aku dan peserta yang lain tidur di rumah singgah rasanya enggan untuk mengakhiri kegiatan ini apalagi setelah menikmati pemandangan desa itu tadi pagi sampai menjelang sore bersama Raka rasanya lebih tidak mau meninggalkan desa yang mempunyai alam yang begitu asri nan indah, tapi mama di rumah yang menguatkan hati untuk segera pulang ke rumah, karena di sini tidak dapat sinyal ponsel ya terpaksa tidak bisa mengabari mama tentang keadaanku. Malam ini kami berkumpul di ruang tengah seperti biasa sampai jam 9 malam namun untuk kali ini aku masuk kamar terlebih dulu karena tidak mau melihat suasana ruang tengah yang sepi dan gelap lagi.

Keesokan harinya kami telah siap dan mendengarkan kata-kata perpisahan dari kepala desa kali ini butuh waktu 10 menit untuk menyampaikannya. Bus kami pun telah tiba, satu persatu kami menaiki bus, setelah semua masuk bus pun perlahan menjauh pergi meninggalkan desa Sukmajaya yang akan sulit untuk di lupakan. Sesampainya kami di kota kami pun akan menjalani aktivitas masing-masing, sepulang ini aku akan menyiapkan satu buah cerpen untuk di share di majalah kampus. 12 jam berlalu, kami sampai di kampus pukul 8 malam, segera aku dan Karin menghampiri mobilku yang telah terparkir di kampus selama satu bulan lamanya. Setelah berpamitan dengan teman-teman yang lain “yuk ka kita pulang” kataku sambil menatap Karin yang sudah duduk manis di sampingku, Karin pun hanya mengangguk dan tak lama aku pun menancap gas memecah suasana malam kota Bogor, setelah mengantar Karin pulang tak lama aku pun mulai memasuki halaman rumah karena rumah kami bersebelahan jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke dalam rumah, mobil Suzuki Swift warna biru mudaku telah terparkir manis di garasi, saat aku keluar dari dalam mobil mama sudah menyambutku dengan perasaan kangen yang luar biasa setelah satu bulan tidak bertemu denganku, aku melepaskan pelukan mama dan membantu bi Imas membawa koperku, sesampainya di ruang tengah aku beristirahat sebentar dan mulai menceritakan pengalamanku selama di desa Sukmajaya tanpa menceritakan bagian terburuk dari pengalamanku itu, setelah puas bercerita aku pun beranjak bagun dari sofa ruang tengah dan mulai berjalan menaiki anak tangga menuju kamar tercintaku. Sesampainya aku di kamar aku langsung mandi dan berganti pakaian, aku merebahkan badanku di atas kasur tiba-tiba terbayang wajah Raka selama di desa Sukmajaya, saat Raka melakukan hal-hal aneh, saat Raka mengantarnya ke kamar semua masih teringat jelas di benakku. Tiba-tiba satu hal yang baru di sadari olehku hanya 3 orang yang memanggilku dengan sebutan “Yo” papa,Kafi dan Karin tetapi saat aku di sana ada satu orang yang selalu memanggilku Yo selain Karin, dia adalah Raka sejak awal berkenalan dengan Raka di kebun talas, Raka sudah memanggilku dengan sebutan Yo dan Raka pula lah yang selalu membuatku tersenyum dan tertawa meskipun dia tidak membuat candaan yang Kafi sering lakukan “mungkin benar kata mama suatu saat akan ada yang membuatku tersenyum dan tertawa meskipun dia tidak membuat melakukan apa yang di lakukan oleh Kafi dulu dan mungkin Rakalah orangnya” hatinya membatin.
Beberapa bulan kemudian hubungan aku dengan Raka semakin dekat hari ini Raka akan mengajakku ke suatu tempat dimana kita bisa melihat langit luas tanpa terhalang “berapa lama lagi kita sampe?” kataku pada Raka “engga lama lagi kok sabar yaaa” kata Raka menenangkanku, tak lama motor Vixion warna hitam itu terparkir dengan mulus di parkiran yang sangat sepi “ini tempat apa?” tanyaku “nanti kamu juga tau” kata Raka sambil menggandeng tanganku, aku dan Raka menyuri jalan setapak namun tak lama mataku di tutup oleh kedua tangan Raka perlahan-lahan tapi pasti menyusuri jalan setapak yang tersisa, butuh beberapa langkah sebelum akhirnya Raka menghentikan langkahnya, terdengar suara berisik air dan suara kicauan burung “kamu udah siap?” bisik Raka di telingaku aku hanya mengangguk tanda siap. Di lepasnya kedua tangan Raka dari mataku tak lama mataku melihat air terjun dengan dengan beberapa cabang daun yang di penuhi beberapa burung yang bertengger di sana “kamu tau tempat ini darimana ka?” kataku takjub melihat pemandangan yang belum pernah aku temui “haha ada deh, kamu suka yo?”tanya Raka “suka banget yo, aku suka banget suasana kaya gini” kataku dengan wajah gembira “kamu bakalan tambah senang engga kalo jam ini,menit  ini,dan detik ini juga kamu jadi pacar aku untuk waktu yang tidak akan pernah kita tentukan?” ucap Raka sambil membalikkan tubuhku menghadapnya, aku pun tersenyum dalam diam, sejenak aku tidak bisa mengambil keputusan akan tetapi hatiku mengatakan bahwa saat ini i’m fallin in love for the second time , tanpa menunggu lama “kamu terlalu bodoh untuk bertanya seperti itu sama aku, karena saat ini i’m fallin in love for the second time with you” sambil tersenyum Raka memeluk pinggangku dan mulai mengecup bibirku “Kafi mungkin ini saatnya aku melanjutkan hidup tanpa bayanganmu terimakasih untuk waktu yang kamu berikan kepadaku yang membuat aku menemukan cinta keduaku, kamu akan selalu ada di dalam hatiku Kaf” hatiku membatin, sekarang aku dan Raka resmi menjadi sepasang kekasih dengan alam menjadi saksinya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar