Hari
ini hujan deras sedang mengguyur kota Bogor, aku yang sejak tadi berdiri di
balkon depan kamarku sangat menikmati pemandangan indah yang terhampar tepat di
depan mata, aku sangat senang saat hujan deras tengah mengguyur kota
kelahiranku ini karena aku bisa menikmati indahnya pemandangan gunung salak
yang sedang di selimuti oleh kabut tebal, pemandangan itu seakan menghipnotisku
untuk selalu merasa tenang, apalagi dengan di temani secangkir Good Day Chocochino kesukaanku,tapi
untuk saat ini aku tidak berlama-lama menikmati pemandangan itu seperti biasanya,
tiba-tiba aku teringat oleh seseorang yang selalu aku rindukan, yang dulu
pernah mengisi hari-hariku dengan sangat indah laki-laki itu adalah Kafi, Kafi
adalah pacar pertamaku saat aku menduduki bangku SMA kelas 3 Kafi selalu
berhasil menimbulkan senyum dan tawa di wajahku bahkan dalam hubungan kami
jarang bertengkar, tapi sejak malam sebelum pengumuman kelulusan tiba aku
mendapat pesan singkat dari Roni yang isinya mengatakan bahwa Kafi telah
meninggalkan kita semua untuk selamanya, peristiwa itu benar-benar membuatku
merasa benar-benar sangat terpuruk aku merasakan kehilangan orang yang aku
sayang untuk ke dua kalinya setelah papa meninggal saat aku masih berada di
kelas 3 sd. Kafi meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat perjalanan menuju
rumahku untuk memberikan sesuatu sebelum kami masuk ke Universitas yang kami
pilih,tapi malam itu Kafi benar-benar membawa perpisahan yang sangat
menyakitkan bagiku bahkan aku belum sempat bertemu dan bercanda dengan Kafi
seperti biasanya karena Kafi melarangku untuk bertemu dengannya sampai malam
sebelum kelulusan tiba,Kafi sempat mengatakan satu hal untukku yang aku belum
mengerti apa maksudnya “Yo kamu engga boleh takut sama gelap, karena suatu saat
kita akan kembalidan akan berada di tempat yang amat gelap dan di sana pastinya
engga bakalan ada aku lagi loh yo” aku tidak mengerti apa maksudnya kembali dan
apa maksudnya kalo Kafi tidak akan ada lagi untukku, tapi setelah aku melihat
jasad Kafi di makamkan, aku baru mengerti bahwa tidak selamanya tuhan
menghendaki orang yang kita sayang berada di sisi kita untuk menjaga dari apa
yang selama ini kita takutkan.
Bayangan
wajah Kafi saat tertawa dan saat menatapku dengan tatapan yang sangat teduh
sering melintas di benakku hingga saat ini, itu adalah satu-satunya alasan
kenapa aku menutup hati sampai aku benar-benar menemukan sosok laki-laki
seperti Kafi. Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku saat aku mulai merasakan
getar dari ponselku, aku segera membuka pesan singkat yang tertera pada layar
ponselku, ternyata itu dari Karin “Yo udah siap buat KKN besok belom? Kita akan
menempuh perjalanan panjang loh jangan lupa bawa lampu baterai ya biar engga gelagapan
nanti di sana hehe” aku hanya tersenyum melihat pesan singkat yang di kirimkan
oleh Karin, Karin adalah sahabatku, kami dekat sejak kami masih Tk, sejak saat
itu kami mengambil sekolah SD yang sama tapi kami terpisah saat kami memasuki
jenjang SMP, tapi pada akhirnya kami bertemu lagi saat ospek di SMA 6 Bogor.
Karin adalah sahabat sekaligus sodara perempuan yang sangat baik untukku saat
hari duka akan Kafi justru Karinlah yang hampir 1 minggu menemaniku di
kamarnya, dan sekarang kami menjadi mahasiswi di Universitas Djuanda dengan
jurusan yang sama pula. Besok adalah hari dimana kami melakukan kegiatan KKN
terutama untuk mahasiswa jurusan Budidaya Pertanian di desa Sukmajaya, banyak
orang yang bilang bahwa di daerah itu belum semua warga menggunakan listrik
oleh sebab itu aku harus membawa lampu baterai yang ada di kamarnya untuk
berjaga-jaga. Aku pun menyadari kalau hari sudah mulai malam, tanpa berpikir
panjang aku segera masuk ke dalam kamarnya dan mulai menyalakan lampu di
kamarnya. Setelah menyalakan lampu aku segera mengambil koper dan mulai
memasukkan beberapa potong baju dan celana ke dalam koper tak lupa juga aku
membawa almamater serta lampu baterai dan baterainya ke dalam koper, setelah
semuanya selesai aku segera turun menuju dapur untuk mengambil beberapa snack
dari dalam kulkas dan masuk kembali ke kamar.
Hampir
setiap malam aku berada di rumah hanya di temani dengan bi Imas yang sudah
bekerja dengan keluarga kami hampir 15 tahun, sedangkan mama bekerja dan baru
pulang selepas adzan Isya. Aku adalah anak semata wayang yang akan meneruskan
perjalanan perusahaan milik papa yang selama ini di kembangkan sementara oleh
mama, setelah mengambil beberapa snack dan minuman dingin juga tak lupa aku
menyapa bi Imas yang sedang asyik menikmati kopi panasnya di ruang belakang aku
pun berjalan menaiki anak tangga menuju kamarku yang bernuansa hijau pastel
dengan semua furniture berbahan dasar kayu, aku sangat senang dengan berbagai
macam novel dan dvd kartun sehingga di dalam kamarku ada 3 buah rak kayu. Dari
3 rak tersebut hampir semua terisi oleh novel dan dvd kartun, sambil membuka
snack potato aku berjalan menuju salah satu rak untuk mengambil satu novel yang
baru kemarin aku beli dan belum sempat aku baca, setelah mengambil buku itu aku
mencari posisi yang nyaman di atas tempat tidur, aku mulai membaca halaman per
halaman di temani dengan snack dan suara hujan di luar kamarku. Setengah jam
berlalu aku mendengar suara mama yang baru saja pulang dari kantor, segera aku meletakkan novel yang tadi sedang aku baca dan
berlari menghampiri mama yang baru saja pulang “hai ma” sapaku sesampainya aku
di bawah dan melihat mamanya duduk manis di ruang tengah “hai na, kamu sudah
makan malam?” tanya mama setelah melihatku duduk di sebelah mamanya “belum,mama
sudah makan?” tanyaku sambil melepaskan pelukan dari tubuh mamanya “belum juga,
oh iya mama bawa toge goreng tuh kamu mau engga? Mama bawa 3 kita makan
bareng-bareng yuk sama bi Imas juga” kata mama sambil mengelus rambut anak
semata wayangnya itu “yuk ma, aku juga laper nih hehe tapi mama engga ganti
baju dulu?” tanyaku sambil memegang tangan mamanya “iya deh mama ganti baju
dulu ya na” kata mama sambil berlalu memasuki kamar, sambil menunggu mama ganti
baju aku mengetikkan pesan singkat untuk Karin “ka, udah prepare belom? Besok
berangkat jam brapa? Berangkat bareng yuks” setelah mengetikkan pesan singkat aku
menekan tombol SEND.
“yuk
na kita makan, bi Imas mana?” kata mama tiba-tiba yang sudah berganti baju dan
menuju ruang makan “iya ma bentar, bi Imas ada di kamarnya kali ma” kataku
sambil berdiri dan menghampiri mama di ruang makan, setelah bi Imas muncul
mereka mulai makan bersama-sama di ruang makan, aku selalu menceritakan kisah
yang lucu dan menyenangkan di depan mama, aku tidak ingin membuat mama
khawatir, aku pun tidak mengatakan pada
mama tentang kondisi desa Sukmajaya yang belum semua warga menggunakan
listrik agar mama merasa tenang saat aku tidak berada di rumah, “gimana
persiapan kamu na buat KKN besok?” kata mama di sela-sela mereka makan “udah
lengkap semua ma” kataku sambil menyuapkan toge terakhir ke dalam mulut “di
sana ada listrik kan na?” kata mama khawatir “ada kok ma tenang aja” kataku menenangkan
mama “oh bagus deh kalo gitu kamu hati-hati ya na di sana, biar gimana itu
lingkungan baru kamu harus hati-hati” kata mama mengingatkannya “iya ma” kataku
singkat namun menenangkan. Setelah makan malam habis aku sedikit bercerita
tentang Karin yang sedang menaksir tentor di kampusnya “kalo Karin aja bisa
dapet gebetan baru terus kamu kapan dong na dapet gebetan baru juga? Apa jangan-jangan
kamu juga udah punya tapi engga mau di kasih tau mama ya?” kata mama menggoda
“ih mama apaan sih,aku belom punya gebetan baru kok mah, belom ada yang kaya
Kafi soalnya” kataku menepis candaan
mama “na engga semua orang itu bisa kaya Kafi, engga semua orang itu sama na,
mau sampe kapan kamu menutup hati untuk yang lain? Kamu itu manis na kamu
pantas kok dapat yang lebih baik” kata mama menasehati “tapi Cuma Kafi ma yang
bikin aku senyum dan ketawa terus” kataku yang tiba-tiba teringat memori indah
saat SMA yang di laluinya bersama Kafi “untuk membuat kamu tersenyum dan
tertawa engga hanya dengan candaan yang di buat-buat ada saatnya kamu akan
tertawa dan tersenyum saat kamu mengingat kejadian lucu bersama seseorang yang
tidak kamu duga” kata mama mencoba untuk membuka hati anaknya “engga tau deh ma
aku bingung” kataku pasrah “yaudah na,kamu tidur sana besok kamu harus
berangkat pagi kan?” kata mama mengingatkan “iya ma,night ma,night bi Imas aku
tidur duluan ya” kataku sambil berlalu meninggalkan ruang makan dan berjalan
menuju kamarnya.
Sesampainya
aku di kamar aku membuka balasan pesan singkat dari Karin “udah semua siap
kok,boleh kita berangkat jam 6 ya, gue samper lo oke jangan ngaret” setelah
membaca pesan itu aku mengetikkan balasan pesan singkat untuk Karin “oke,
jangan lupa bawa EXTRA baterai ya, takut engga cukup baterai yang gue bawa
hehehe” setelah membalas pesan singkat Karin, aku mulai menyetel alarm jam 5 pagi
dan segera menarik selimut karena malam itu cuaca sangat dingin, hujan yang sedari
tadi mengguyur kota Bogortidak ada tanda-tanda akan berhenti. KRIIINGGGG....
KRIIINGGG..KRRIIINGGG.. aku terbangun karena alarm yang aku pasang telah
berdering, segera aku menuju kamar mandi untuk bersiap-siap, setelah keluar
dari kamar mandi aku melihat jam dinding berbentuk Keroppi yang terpampang di atas tempat tidur, jam sudah menunjukkan
pukul 5.35 segera aku membuka lemari dan mencari pakaian yang pas untuk hari
ini, setelah berpakaian aku mulai mengeringkan rambutku yang ikal dan memoleskan
bedak dan lipgloss di wajahku, tak lama kemudian sosok Karin telah duduk di
tempat tidurnya “lama amet mba, buruan apa” kata Karin yang tidak sabar “iye
mba sabar eeh orang mah” kataku yang sedang menyisirkan rambut “hehe,eh iya na
katanya si Tata tentor kita itu ada Ferdi loh” kata Karin antusias “Ferdi?
Ferdi yang mana ya?” kataku sambil mengingat wajah Ferdi “ih bolot pisan eta
teh, itu loh si Ferdi angkatan di atas kita 2 tahun yang gantengnya maut itu
loh” kata Karin sok tau “yee.. sembarangan ngatain gue bolot, ya kali engga tau
gue, udah yuk kita jalan” kataku mengakhiri pembicaran tentang Ferdi yang aku
sendiri pun tidak tau dia itu siapa. Selama di perjalanan menuju kampus kami
selalu membicarakan tentang laki-laki yang sedang PDKT dengan Karin “iya
kemarin dia ngajak gue hangout bareng tapi gue engga mau” kata Karin penuh
tanda tanya “kenapa?” kataku penasaran “ya lo tau lah,mana mau gue baru kenal
udah ngajak jalan kaya gitu kesannya gue murahan banget” kata Karin dengan muka
mulai cemberut, Karin adalah perempuan yang sangat feminin,sangat menarik dan
sangat modis, Karin asli Jakarta tetapi dia sudah lama tinggal di Bogor makanya
dia sedikit berbeda dari mahasiswa yang asli dari kota Bogor dari segi
berpakaian dan caranya berbicara, meskipun begitu Karin sangat pandai
beradaptasi dan dia tidak ingin para lelaki menganggapnya cewe murahan.
Sesampainya kami di kampus, kami langsung menuju aula untuk berkumpul, setelah
semua berkumpul kami pergi menuju bus yang telah terparkir rapi di dekat gedung
fak. Budidaya Pertanian, perjalanan pun di mulai, butuh waktu sekitar 12 jam
untuk bisa sampai ke daerah tersebut, sepanjang jalan aku membaca novel yang
belum selesai dibaca semalam sedangkan Karin tengah asik mendengarkan ipodnya.
12
jam berlalu mereka mulai memasuki jalan perkampungan yang tidak rata, di kanan
dan kiri terhampar sawah yang tidak ada tanaman padi satu pun tanda para petani
telah mengalami musim panen, di sepanjang jalan pun terlihat banyak anak kecil
yang bermain di pinggir sawah, tak lama kemudian bus pun berhenti tanda kami
sudah sampai, “ayo semuanya turun,bawa peralatan masing-masing jangan sampe ada
yang ketinggalan” kata seseorang lewat pengeras suara, tanpa menunggu lama
semua penghuni bus turun membawa peralatan masing-masing dan semua peralatan
yang di butuhkan selama kegiatan KKN berlangsung. Setelah semua telah di
turunkan para mahasiswa dan mahasiswi mendengarkan kata-kata penyambutan dari
kepala desa, 15 menit waktu yang di butuhkan untuk penyambutan kami para
peserta KKN setelah itu kami di ajak ke tempat singgah sementara, untuk para
mahasiswi rumah singgahnya berada di sebelah kanan sedangkan untuk para
mahasiswa rumah singgahnya berada di sebelah kiri. Rumah itu terbentuk semi
permanen dengan lantai hanya di selimuti semen dan tembok tak bercat hanya
tumpukan batu bata dan semen yang menghiasi tembok itu. “Hari ini semua peserta
KKN beristirahat tetapi jam 9 malam semua peserta KKN berkumpul di rumah
singgah putri untuk pembagian kelompok” kata salah seorang mahasiswa lewat pengeras
suara, setelah para peserta merapihkan seluruh barang-barang mereka dan
beristirahat para peserta berkumpul di ruang tengah rumah singgah putri, waktu
berjalan dengan sangat cepat mereka telah menentukan anggota kelompok beserta
ketuanya dan mulai besok mereka mulai melaksanakan tugas mereka, aku dan Karin
masuk dalam kelompok yang berbeda, aku ada di kelompok yang mengurus masalah
penanaman padi organik sedangkan Karin di tempatkan di kelompok yang mengurus
masalah pengolahan padi organik menjadi beras organik. Aku sekelompok dengan
Ferdi laki-laki yang tadi pagi sempat di bicarakan oleh Karin, bahkan Ferdi menjadi ketua di dalam kelompokku. Setelah
membicarakan kelompok kami segera tidur untuk mempersiapkan hari esok yang akan
di mulai pada jam 5 pagi. Setelah sampai di kamar aku mengucap syukur karena di
kamarku sudah terdapat listrik yang terang aku berdoa semoga teman sekamarku
bisa tidur dalam keadaan terang. Beberapa menit kemudian para penghuni kamar
itu berdatangan setelah semuanya sudah masuk kamar aku memberanikan diri
bertanya kepada mereka “ada yang keberatan engga kalo tidur lampunya engga di
matiin?” kataku kepada peserta yang lain selain Karin, “gue siih engga
keberatan kalo tidur lampunya nyala,kalo kalian?” tanya Dinda kepada mahasiswi yang
lain, semuanya menggeleng menandakan mereka tidak keberata jika lampu tetap di
nyalakan. “makasih ya” kataku kepada mahasiswi yang lain, aku pun melirik Karin dengan tersenyum sebagai
isyarat bahwa malam ini dia akan tidur dengan nyenyak malam ini.
KRINGGGG.....
serentak jam beker para mahasiswi di kamar aku pun berdering, satu persatu dari
mereka pun mulai menjajaki alam sadar dan mulai mengambil handuk mereka dan
pergi mengantri ke kamar mandi agar mendapat giliran untuk mandi, begitu pun
dengan aku dan Karin kami telah ikut mengantri agar dapat mendapat giliran
untuk menyegarkan badan kami, setelah selesai mandi dan bersiap-siap aku
menemui Ferdi untuk ikut memberikan pengarahan kepada para petani di desa
Sukmajaya. Hanya butuh waktu satu jam untuk memberikan pengarahan tentang cara
menanam padi organik kepada para petani telah selesai, maka praktek pun segera
di lakukan secepatnya, suasana saat itu sangat ramai oleh warga sekitar yang
berkumpul mengitari kelompok kami, tak jarang para ibu-ibu pun berdatangan
dengan anak-anaknya hanya sekedar untuk mengetahui apa yang sedang terjadi atau
pun karena mereka tertarik dengan apa yang kami lakukan untuk memperbaiki
kehidupan mereka dengan menanam padi organik. Banyak para petani yang pro dan
kontra dengan apa yang kami terapkan, hari pun sudah siang aku pun sudah lelah
karena harus berbicara panjang lebar sejak tadi pagi tetapi aku melihat satu
sosok yang masih bersemangat dengan jarak kurang lebih 1 meter dariku dia
sedang memberikan penjelasan lebih lanjut kepada beberapa orang dengan sabar
dan penuh dengan wibawa, aku pun hanya tersenyum kagum melihat dia yang sangat
sabar menghadapi warga sekitar, wajahnya sangat familiar untukku namun sampai
sekarang aku pun tidak tau siapa dia, “hayooo lagi liatin Raka yaaa, naksir apa
lu sama dia? Haha” kata Karin yang membuat aku kaget karena aku terlalu serius
memperhatikan dia “ah apa ? naksir? Engga lah hati gue masih tetep untuk Kafi
kok ka” kata aku tergagap karena kaget “yaelah yo ngapain sih masih mikirin
Kafi, Kafi juga pasti lo mau move on dari dia, gue yakin Kafi pasti sedih ngeliat
lo yang masih mengharapkan dia” kata Karin dengan tatapan prihatin, aku hanya
senyum dan berkata “belom saatnya ka, gue dapet penggantinya Kafi” kataku lirih
“kenapa lo engga sama Ferdi aja? Gue denger-denger sih dia naksir lo” kata
Karin menyemangati “haha engga tertarik sama dia dari tampangnya aja gue udah
tau kalo dia playboy” kataku asal karena aku memang tidak tertarik sama sekali
dengan Ferdi menurutku dia terlalu ganjen untuk ukuran cowo macam dia “hah?
Serius? Yaudah deh jangan gue engga mau lo sakit hati gara-gara cowo yang engga
bertanggung jawab” kata Karin dengan penuh perhatian, aku hanya tersenyum dan mengangguk.
Selama
ini aku tidak mempunyai banyak teman dekat karena aku lebih suka menghabiskan
waktuku untuk membaca novel ataupun menonton kartun, tak terlalu sering aku dan
Karin pergi keluar untuk menonton bioskop ataupun hangout bareng, “eh anak-anak
udah pada mau makan siang tuh ke sana yuk” kata Karin tanpa menunggu jawaban
dariku dia telah menarik tanganku menuju rumah singgah putri, di sini kami
mempunyai kelompok yang hanya memiliki tugas untuk memasak dan membuat minuman
untuk peserta yang lain. Makan siang kami sederhana sayur asem,tahu goreng,ikan
asin dengan sambel terasi dan nasi panas. Kami makan di teras rumah singgah
putri, di sini semua kumpul untuk makan bersama tanpa ada perbedaan sedikitpun
di antara kami, saat makan aku melihat Raka sedang bercanda bersama temannya
yang lain aku hanya tertawa melihat Raka yang sedang di bully oleh
teman-temannya. Setelah makan siang kami pun mulai merapihkan rumah yang sudah
berantakan agar rapi seperti semula, butuh waktu setengah jam untuk merapikan rumah
setelah itu kami para peserta KKN pergi ke kebun talas untuk memberikan
pengarahan tentang pupuk yang harus di pakai agar menghasilkan talas yang
berkualitas, meskipun jam menunjukkan pukul 2 siang tetapi udara di sana tetap
saja dingin karena letak desa Sukmajaya di lereng gunung salak, saat di kebun
aku mendapat kesulitan untuk menjelaskan kepada warna cara pengolahan pupuk
alami tiba-tiba Raka datang menghampiri aku dan menjelaskan lebih detail sehingga
para warga mengerti, setelah semua warga mengerti Raka pun berkata “kalo emang
ada kesulitan jangan takut buat minta bantuan orang lain ya” kata Raka dengan
memamerkan senyumnya yang manis “iya makasih ya” kataku “haha iya sama-sama,
gue Raka lo?” kata Raka sambil menjulurkan tangannya “gue Yona” kataku sambil
menjabat tangan Raka “oh lo yang namanya Yona?” kata Raka terkejut “iya kenapa
emang?” kataku bingung “engga kenapa-napa sih, gue Cuma tau losering nulis
cerpen di majalah kampus kan ?” kata Raka meyakinkan “iya kenapa? Jelek ya?” kataku tidak percaya diri “hmm
sebenernya sih gue belom baca cerpen lo kaya gimana, Cuma tau aja dari
anak-anak di kampus”kata Raka menejelaskan “oh gitu” kataku “ eh gue ke sana
dulu ya ada yang harus gue kerjain soalnya”kata Raka, belom sempat di jawab
Raka sudah pergi menghampiri temannya.
3
minggu lebih telah di lewati oleh kami para peserta KKN untuk mengajak warga
agar bisa memperbaiki kehidupan mereka nantinya, selama kami di sini telah
banyak yang kami lakukan untuk warga sekitar terutama pengarahan dan praktik
tentang penanaman padi organik,cara mengolah beras organik sampai memberikan
bantuan pengajaran untuk anak Sd, semua kami lakukan untuk warga di desa
Sukmajaya,dan selam disini aku merasa terganggu dengan kehadiran ferdi yang
mendekatiku, selama 3 minggu di sini aku tidak bisa memberi kabar sekalipun
sama mama karena sinyal yang terpancar dari operatorku tidak bisa sampai ke
daerah ini, selama di sini pun aku semakin sering memperhatikan gerak-gerik
Raka, seperti hari ini saat hujan deras mengguyur kota kelahiranku,di rumah
singgah putri semua peserta berkumpul untuk sekedar bermain poker ataupun bercerita tapi satu
orang yang tidak terlalu menarik untuk orang lain tapi sangat menarik
perhatianku dia mempunyai tinggi sekitar 170cm berambut cepak,berkulit putih
dan hanya menyukai kaos polos warna putih,saat ini Raka sedang duduk di teras
sambil mengenakan headset, aku sedang membaca novel kedua yang aku bawa dari
rumah, hanya saat aku berpindah posisi aku melirik Raka yang duduk tak jauh
dariku. Tak terasa hari sudah malam, teman-teman yang lain pun satu persatu
mulai masuk ke kamar masing-masing untuk tidur meninggalkan aku dan Raka di
teras, “hey” kata Raka sambil menepuk lenganku, akupun menoleh ke arahnya
“kenapa?” kataku “lo engga tidur? Yang lain udah pada tidur loh” kata Raka
meningatkan “emang ya? Kok gue engga liat mereka pada masuk kamar ya?”kata ku
sambil melihat ke arah ruang tengah yang sudah kosong dan gelap “dari tadi lo
di panggil sama Karin tapi engga nyaut” kata Raka sambil terkekeh “terus tinggal
kita berdua doang nih?” kataku sambil mentap melas ke arah Raka, Raka pun tak
menjawab hanya menganggukkan kepalanya yang sudah menjadi jawaban untuk
pertanyaanku,”hmm.. lo mau engga, kaloo” kataku ragu-ragu “kalo apa?” kata Raka
penasaran “kalo nganterin gue sampe depan kamar soalnya gue takut lewatin ruang
tengah itu” kataku sambil menunjuk ke arah ruang tengah yang gelap “yaudah yuk,
lo takut gelap ya?” kata Raka menebak, aku pun hanya diam dan mengangguk,
tiba-tiba Raka menggandeng tanganku dan mengantarkanku sampai ke depan pintu
kamar,aku membuka kamr dan ada sedikit cahaya yang menyorot ke wajah Raka
sehingga wajah Raka terlihat sangat jelas, “hmm.. makasih ya ka” kataku sambil
tersenyum, “iya sama-sama yo, good night ya” kata Raka sambil tersenyum, aku
pun segera menutup pintu sebelum Raka berlalu, aku mengambil posisi tidur di
pojok tepat di sebelah Karin karena hanya tempat itu yang tersisa, tanpa
menunggu lama mataku pun terpejam dan terlelap hingga aku mendengar alarm kami
berbunyi serentak KRIIINGG.. aku pun mulai kembali sadar dari alam mimpi yang
sedang membawaku ke atas gunung melihat indahnya sawah yang terbentang di bawah
sana. Seperti biasa kami segera mengantri kamar mandi agar mendapat giliran
untuk mandi.
Tak
lama giliranku pun datang aku segera masuk ke kamar mandi, setelah selesai aku
pun keluar dengan memakai baju lengkap, hari ini jadwalku adalah mengajari para
petani cara merawat tanaman padi organik yang tidak membutuhkan pestisida, saat
aku berada di sawah dan sedang mengajari para petani tiba-tiba Ferdi menarik
tanganku dan mengajakku ke suatu tempat yang sangat sepi,beberapa hari terakhir
ini aku mengabaikan pertanyaan-pertanyaan Ferdi masalah pribadiku dengan Kafi,
aku sangat terganggu dengan hal itu, berkali-kali aku sudah bilang sama dia
bahwa itu adalah masalah pribadiku tapi dia tetap saja menanyakan hal yang sama,
aku berusaha melepaskan tanganku dari genggaman Ferdi tapi genggaman itu
terlalu kuat, ternyata Ferdi membawaku ke lumbung dan pintu lumbung pun di tutup
rapat,aku di pojokkan dan di kurung dengan badan Ferdi yang bidang, aku sangat
takut karena aku belum pernah di perlakukan kasar seperti ini “lo mau apa Fer?”
tanyaku mencoba bersabar “na,selama ini gue udah coba buat deketin lo, tapi
kenapa lo selalu menghindar dari gue? Apa gue engga pantes buat lo? Apa gue
engga pantes buat gantiin posisi cowo lo yang udah mati itu? “ PLAAKKK
tiba-tiba tanganku telah mendarat mulus di pipi Ferdi entah kenapa selama Ferdi
membicarakan Kafi seperti itu aku berubah menjadi sensitif, Ferdi pun geram dan
melempar kepalaku ke arah tembok kayu di belakangku “lo akan jadi milik gue
selamanya na,engga ada yang bisa milikin lo selain gue” bisiknya tepat di
kupingku,aku hanya memejamkan mata dan berdoa semoga semua ini tidak
benar-benar terjadi, aku sangat paham apabila cowo murka seakan-akan hatinya
telah berubah menjadi batu dan pikirannya pun telah di kendalikan oleh
setan,meraka akan berbuat apapun selama itu bisa membuat mereka puas. Tiba-tiba
ada tangan yang merangkul tubuhku dan mendekapnya, aku hanya diam dan menangis
karena aku sudah terlampau takut aku tidak mendengar suara apapun sampai aku
membuka mata dan melihat Karin di sisiku “lo udah sadar yo? Yaampun syukur deh
lo tuh pingsan lama banget sih yo semuanya pada khawatir sama lo tau” kata
Karin panjang lebar, tapi aku hanya tersenyum tanpa mendengar jelas apa yang di
bicarakan oleh Karin, kepalaku seakan-akan telah tertimpa sesuatu yang sangat
berat, aku pun mencoba untuk duduk tapi di tahan oleh laki-laki, aku tidak
melihatnya jelas “lo tidur aja dulu yo,sampe lo bener-bener sembuh” kata
laki-laki itu, aku pun hanya mengangguk dan kembali tertidur.
KRINGGG...
seperti biasa suara alarm bunyi serempak, aku pun mulai sadar dan segera ke
kamar mandi, tidak seperti biasa aku mengantri untuk mandi, kamar mandi masih
sepi aku pun segera masuk untuk membersihkan badanku yang terasa sangat
lengket, ketika aku keluar dari kamar mandi dan menuju kamar aku di peluk Karin
“yaampun yo lo engga kenapa-kenapa kan?? Lo udah sehat kan yo?” tanya Karin
tanpa jeda “iya gue engga kenapa-kenapa kok,gue sehat juga,lo kenapa sih nanya
gue kaya gitu kaya gue abis ngalamin kecelakaan aja” kataku heran “yaampun yooo
jadi lo engga inget sama sekali?” kata Karin histeris, aku hanya menatap Karin
dan menggeleng “yaampun yoo lo engga liat plester di leher lo itu? Lo tuh
kemaren hampir di bunuh sama Ferdi yooo” kata Karin menerangkan “hah di bunuh?
Emang dia ada motif apa buat bunuh gue?” kataku heran sambil memegang leher
yang telah di plester “diakan udah lama suka sama lo yo, dan pas dia deketin
lo, lo menghindar terus dari dia karena itu dia tuh pengen milikin lo selamanya
dia pengen lo itu hanya milik dia seorang engga ada yang lain” kata Karin
membeberkan semuanya “terus kenapa tiba-tiba gue bisa ada di kamar?” kataku
masih bingung “lo tuh pingsan setelah kepala lo di bentur ke arah tembok
lumbung dengan kencang,untung Raka liat ada yang aneh pas lo di tarik sama
Ferdi dengan kasar dan berinisiatif memanggil orang-orang yang sedang berada di
pos kamling untuk membuntuti lo, jadi sebelum lo di bunuh ya si Ferdi udah di
tangkap duluan deh” jelas Karin yang membuatku terdiam “kok kaya di sinetron ya
ka?” kataku kepada Karin “haha lu oon amat sih lo haha” kata Karin sambil
cengengesan “ih serius kaya udah di rencanain gitu si Ferdi buat ngebunuh
gue,lagi tuh cowo sadis amat sih mau bunuh gue kalo mau milikin gue kenapa
engga di nikahin aja gitu jangan di bunuh” kataku sambil cemberut “haha intinya
Cuma satu yo, karena dia udah tau kalo dia bakalan di tolak sama lo” kata Karin
menjelaskan “iya juga sih ka siapa yang mau nikah sama orang kaya Ferdi ih
ogaaah” kataku sambil mengangkat bahu “haha udah ah gue mandi dulu?” kata Karin
“oh iya gue juga mau ke sawah” kataku sambil terburu-buru keluar dari kamar.
Sesampainya
di sawah aku tidak melihat ada keramaian, sawah sepi tidak ada orang yang
sedang beraktivitas hanya sekumpulan anak kecil yang bermain-main di tepi
sawah, akupun baru menyadari betapa indahnya desa ini berada di lereng gunung
dan di kelilingi oleh dua bukit, banyak terasering yang terhampar di bawah
sana, ada sungai yang sangat jernih tempat para anak kecil ataupun warga
bermain air, aku sangat tertarik dengan kehidupan desa, dengan lingkungannya
yang masih asri dan indah,dengan warganya yang sangat ramah, hanya saja aku
kesulitan untuk tinggal di desa yang belum mempunyai listrik, aku pun berjalan
menuju saung yang berada di tengah sawah setibanya di sana aku melihat Raka “hey”
sapaku kepadanya, “hey yo, udah sembuh?” kata Raka setelah melihatku “udah kok,
hmm makasih ya ka udah nolongin gue waktu itu” kataku sambil memamerkan senyum
termanisku “haha yaelah santai aja kali kan tiap manusia harus saling menolong
kan” kata Raka membalas senyumku yang tak kalah manisnya, “eh iya kapan kita
pulang?” tanyaku “besok”kata Raka singkat “hah?? Besok bukannya masih ada 2
hari lagi ya?” tanyaku kaget “haha emang lo pingsan udah berapa lama yo?” kata
Raka sambil tertawa “emang berapa lama?” tanyaku “lo pingsan aja udah 2 hari
yo” kata Raka memberitahu “yaampun terus tugas gimana? Udah selesai? Pantes
sawah sepi” kataku menyesal “udah kok tinggal bikin laporannya aja” kata Raka
sambil memainkan gitarnya, “lo bisa main gitar juga?” tanyaku pada Raka
“menurut lo?” kata Raka menggoda “hmm engga bisa” kataku sambil tersenyum “kok
gitu?” tanya Raka heran “iya gue tau lo Cuma megang gitar doang kan biar di
bilang bisa main gitar padahal mah engga bisa tuuh ya kan?” kataku sambil
cengengesan “haha sok tau, gue bisa kali main gitar mau apa gue nyanyiin?” kata
Raka menawari “haha gitu dong jangan di pegang-pegang aja tuh gitar haha”
kataku sambil tertawa “bilang mba kalo mau di nyanyiin sama gue haha” kata
Raka, tak lama Raka pun memainkan gitarnya dan mengalunkan lagu karya Adhitya
Sofyan “Blue Sky Collapse”
Still
everyday I think about you
I
know for a fact that’s not your problem
But
if you change your mind you’ll find me
Hanging
on to the place
Where
the big blue sky collapse
“Hmm
bagus juga suaranya” kataku sambil melirik Raka yang sedang berusaha menyalakan
rokonya, “haha iyalah kalo lo minta di nyanyiin sms gue aja ya haha” kata Raka
sambil cengengesan “oh iya setelah KKN kita pada pisah ya?” kataku dengan wajah
memelas “hmm ya engga pisah juga sih kan kita satu kampus pasti ketemulah oh
iya minta nomor lo dong” kata Raka “iya juga sih, tapi kan pasti pada sibuk
masing-masing, buat apa?” kataku “buat jadi nomor togel haha, ya buat di save
lah anak-anak yang lain juga gue mintain jadi sewaktu-waktu mau kumpul kan
tinggal sms” jelas Raka “oh oke mana hp lo sini” kataku, Raka pun mengambil
ponselnya yang tergeletak di sampingnya. Sampai menjelang sore mereka berada di
saung itu bercanda dan tertawa, Raka selalu melakukan hal-hal aneh yang membuat
aku menggelengkan kepala, setelah lelah kami pulang ke rumah singgah untuk
menyiapkan segala sesuatunya untuk di bawa pulang. Ini adalah malam terakhir
aku dan peserta yang lain tidur di rumah singgah rasanya enggan untuk
mengakhiri kegiatan ini apalagi setelah menikmati pemandangan desa itu tadi
pagi sampai menjelang sore bersama Raka rasanya lebih tidak mau meninggalkan
desa yang mempunyai alam yang begitu asri nan indah, tapi mama di rumah yang
menguatkan hati untuk segera pulang ke rumah, karena di sini tidak dapat sinyal
ponsel ya terpaksa tidak bisa mengabari mama tentang keadaanku. Malam ini kami
berkumpul di ruang tengah seperti biasa sampai jam 9 malam namun untuk kali ini
aku masuk kamar terlebih dulu karena tidak mau melihat suasana ruang tengah yang
sepi dan gelap lagi.
Keesokan
harinya kami telah siap dan mendengarkan kata-kata perpisahan dari kepala desa
kali ini butuh waktu 10 menit untuk menyampaikannya. Bus kami pun telah tiba,
satu persatu kami menaiki bus, setelah semua masuk bus pun perlahan menjauh
pergi meninggalkan desa Sukmajaya yang akan sulit untuk di lupakan. Sesampainya
kami di kota kami pun akan menjalani aktivitas masing-masing, sepulang ini aku
akan menyiapkan satu buah cerpen untuk di share di majalah kampus. 12 jam
berlalu, kami sampai di kampus pukul 8 malam, segera aku dan Karin menghampiri
mobilku yang telah terparkir di kampus selama satu bulan lamanya. Setelah
berpamitan dengan teman-teman yang lain “yuk ka kita pulang” kataku sambil
menatap Karin yang sudah duduk manis di sampingku, Karin pun hanya mengangguk
dan tak lama aku pun menancap gas memecah suasana malam kota Bogor, setelah
mengantar Karin pulang tak lama aku pun mulai memasuki halaman rumah karena
rumah kami bersebelahan jadi tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke dalam
rumah, mobil Suzuki Swift warna biru mudaku telah terparkir manis di garasi,
saat aku keluar dari dalam mobil mama sudah menyambutku dengan perasaan kangen
yang luar biasa setelah satu bulan tidak bertemu denganku, aku melepaskan
pelukan mama dan membantu bi Imas membawa koperku, sesampainya di ruang tengah
aku beristirahat sebentar dan mulai menceritakan pengalamanku selama di desa
Sukmajaya tanpa menceritakan bagian terburuk dari pengalamanku itu, setelah
puas bercerita aku pun beranjak bagun dari sofa ruang tengah dan mulai berjalan
menaiki anak tangga menuju kamar tercintaku. Sesampainya aku di kamar aku
langsung mandi dan berganti pakaian, aku merebahkan badanku di atas kasur
tiba-tiba terbayang wajah Raka selama di desa Sukmajaya, saat Raka melakukan
hal-hal aneh, saat Raka mengantarnya ke kamar semua masih teringat jelas di
benakku. Tiba-tiba satu hal yang baru di sadari olehku hanya 3 orang yang
memanggilku dengan sebutan “Yo”
papa,Kafi dan Karin tetapi saat aku di sana ada satu orang yang selalu
memanggilku Yo selain Karin, dia adalah Raka sejak awal berkenalan dengan Raka
di kebun talas, Raka sudah memanggilku dengan sebutan Yo dan Raka pula lah yang
selalu membuatku tersenyum dan tertawa meskipun dia tidak membuat candaan yang
Kafi sering lakukan “mungkin benar kata
mama suatu saat akan ada yang membuatku tersenyum dan tertawa meskipun dia
tidak membuat melakukan apa yang di lakukan oleh Kafi dulu dan mungkin Rakalah
orangnya” hatinya membatin.
Beberapa
bulan kemudian hubungan aku dengan Raka semakin dekat hari ini Raka akan
mengajakku ke suatu tempat dimana kita bisa melihat langit luas tanpa terhalang
“berapa lama lagi kita sampe?” kataku pada Raka “engga lama lagi kok sabar
yaaa” kata Raka menenangkanku, tak lama motor Vixion warna hitam itu terparkir
dengan mulus di parkiran yang sangat sepi “ini tempat apa?” tanyaku “nanti kamu
juga tau” kata Raka sambil menggandeng tanganku, aku dan Raka menyuri jalan
setapak namun tak lama mataku di tutup oleh kedua tangan Raka perlahan-lahan
tapi pasti menyusuri jalan setapak yang tersisa, butuh beberapa langkah sebelum
akhirnya Raka menghentikan langkahnya, terdengar suara berisik air dan suara
kicauan burung “kamu udah siap?” bisik Raka di telingaku aku hanya mengangguk
tanda siap. Di lepasnya kedua tangan Raka dari mataku tak lama mataku melihat
air terjun dengan dengan beberapa cabang daun yang di penuhi beberapa burung
yang bertengger di sana “kamu tau tempat ini darimana ka?” kataku takjub
melihat pemandangan yang belum pernah aku temui “haha ada deh, kamu suka
yo?”tanya Raka “suka banget yo, aku suka banget suasana kaya gini” kataku
dengan wajah gembira “kamu bakalan tambah senang engga kalo jam ini,menit ini,dan detik ini juga kamu jadi pacar aku
untuk waktu yang tidak akan pernah kita tentukan?” ucap Raka sambil membalikkan
tubuhku menghadapnya, aku pun tersenyum dalam diam, sejenak aku tidak bisa
mengambil keputusan akan tetapi hatiku mengatakan bahwa saat ini i’m fallin in love for the second time ,
tanpa menunggu lama “kamu terlalu bodoh untuk bertanya seperti itu sama aku,
karena saat ini i’m fallin in love for the second time with you” sambil
tersenyum Raka memeluk pinggangku dan mulai mengecup bibirku “Kafi mungkin ini
saatnya aku melanjutkan hidup tanpa bayanganmu terimakasih untuk waktu yang
kamu berikan kepadaku yang membuat aku menemukan cinta keduaku, kamu akan
selalu ada di dalam hatiku Kaf” hatiku membatin, sekarang aku dan Raka resmi
menjadi sepasang kekasih dengan alam menjadi saksinya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar