Minggu, 30 November 2014

Dewa Skenario

sekarang jika aku rindu tanpa diminta kau pasti datang, Dan tanpa memohon kau pasti mendekap dan mencium pipiku, entah getaran apa yang mampu menyampaikan rasa rindu itu dari jiwa seorang anak kepada lelaki pertamanya. Hidupku memang sudah separuh menyentuh kata 'dewasa' namun aku tetap saja menganggap diriku seorang anak kecil yang patut untuk dimanja, tapi kehidupan begitu keras mengajarkanku untuk berdiri sendiri tanpa pijakan yang nyaman bahkan tanpa pegangan layaknya anak kecil belajar berjalan. Terpaan demi terpaan ku arungi dengan segala air mata keikhlasan, rasa percaya bahwa kebahagiaan itu pasti datang mendekap. Entahlah tuhan memang Dewa Skenario, dia menyekenariokan hidupku penuh dengan lumpur dan tanah merah, licin dan terjal layaknya aku tengah menggapai puncak gunung tertinggi dalam hidup. Aku memberanikan diri melewati terpaan itu sendiri. Jiwaku sejujurnya adalah anak kecil, tapi tidak dengan ragaku. Ragaku normal layaknya orang dewasa. Namun aku tetaplah anak kecil yang perlahan belajar bagaimana cara menjadi dewasa tetapi tidak menghilangkan identitasku layaknya anak kecil. Aku merunduk, berguling bahkan memanjat rintangan sambil menitikkan air mata. Tapi lihatlah saat ini, detik ini, aku bagai menaklukkan gunung kehidupan di ujung usia ku yang hampir menyentuh kata 'dewasa' ini, aku menemukan surgaku, menemukan cinta dari lelaki pertama yang sempat meninggalkanku sendiri menaklukkan gunung ini. Aku menemukan cahayaku kembali, menemukan jejak kaki yang telah tertutup rimbunan tanah, menemukan kembali kata 'nyaman dan aman' setelah sekian lama aku berjuang sendiri, menemukan seseorang yang akan menghapus jejak air mataku dan membantuku berjalan kembali setelah sekian lama aku melakukan itu sendiri. Sekarang aku yakin tuhanku memanglah Dewa Skenario yang hebat. Dia menciptakan likaliku hidupku dengan segala kesulitannya mengujiku dengan segala tuntutan yang seketika mampu membuatku putus asa, tetapi dia hebat. Sungguh hebat memberikanku setetes harapan setiap detiknya yang mampu membuatku bangkit dan kembali mengarungi perjalanan panjang sendirian. Dia hebat, sungguh hebat menjaga keyakinanku akan jalan cerita rumit yang berakhir bahagia sehingga aku tak meronta untuk mengakhiri cerita yang telah ia penakan, mungkin aku baru menaklukkan gunung terkecil dalam sejarah kehidupan namun bagi anak yang masih mempunyai jiwa kecil sepertiku ini adalah sebuah kelulusan yang patut aku banggakan. Aku bangga menjadi anak kecil yang mampu menemukan lelaki pertamanya diatas gunung kehidupan pertama. Dan semoga aku menemukan lelaki terakhirku digunung kehidupan berikutnya sehingga aku mampu merasakan menjadi wanita sempurna versiku sendiri.

Rabu, 12 November 2014

Lukisan dan Aku

Dalam sebuah ruang aku mencintai sebuah lukisan, lukisan usang yang memikat hati untuk selalu ku telusuri setiap detail keindahannya. Dalam rumahku aku menyimpan lukisan itu, hanya menyimpan tanpa pernah berkata bahwa akulah pemilik lukisan itu, aku masih menunggu persetujuan sang raja untuk memiliki lukisan itu. Dahulu aku sangat menyukai lukisan itu, bahkan ketika lukisan itu berpemilik, setelah pemilik itu pergi, aku semakin menyukai lukisan itu. Lalu dengan riang ku letakkan ia didepan pintu rumahku, aku tak berani membawanya masuk ke dalam rumah, takut jika nanti sang pemilik mencari lukisannya. Setiap hari ku pandang lekat-lekat lukisan itu, begitu sederhana namun menyimpan sejuta rahasia, setiap hari aku menatap lukisan itu, seolah didalam lukisan itu terdapat sebuah acara hiburan, tak jarang aku tertawa karenanya. Semakin lama lukisan itu berada didepan pintu, semakin banyak para gadis yang terpikat oleh kesederhanannya. Suatu ketika beberapa gadis datang dan pergi dengan mengaku bahwa ia lah pemilik lukisan itu. Aku merasa aku bukan pemilik lukisan itu, jadi ku biarkan saja para gadis itu pergi dengan membawa lukisan itu, dan entah mengapa, sering kali aku merasa cemburu ketika lukisan itu tengah berada diantara para gadis desa. Mungkin karna aku telah menaruh hati pada lukisan tua itu. Dan mana mungkin lukisan itu menyadari bahwa aku menyimpan sekotak perasaan yang ku kunci rapat dan tak pernah ku tunjukkan padanya. Selama lukisan itu berada diantara para gadis, aku pun membenahi rumahku yang sudah berdebu, aku sibuk membenahi dan menjamu beberapa tamu yang singgah diambang pintu, entah untuk berteduh ataupun sekedar bercengkrama. Aku telah selesai membenahi rumahku berkat bantuan magic yang mampu mengunci pintu masa lalu ku dengan sempurna. Aku pun selalu meladeni mereka yang singgah diambang pintu, entah mengapa aku merasa lelah dengan aktifitas itu, dan seketika lukisan yang dulu begitu aku cintai berada tepat didepan pintuku, melotot marah seolah aku membuangnya, sudah lama aku tak menjumpai lukisan itu berada diantara kerumunan para gadis, hampir setiap hari aku bercengkrama dengan bayangan lukisan itu, tanpa melihat sosok aslinya. Aku pun mengatakan dalam hati bahwa aku merindukan sosok lukisan itu didepan rumahku. Aku ingin membawa lukisan itu masuk sehingga ku gantungkan dalam bingkai yang Indah tepat diruang utama rumahku. Namun, aku tak mempunyai keberanian untuk melakukan itu, aku hanya ingin lukisan itu yang berkata bahwa ia ingin masuk dan tinggal didalam rumah sederhanaku, jika aku yang membawanya masuk, itu terasa tidak adil. Tak ada pesetujuan dari lukisan itu bahwa ia ingin tinggal, jadi aku masih membiarkannya didepan pintu sampai ia berkata dan aku mempersilahkannya masuk dengan senang hati.