Rabu, 01 April 2015

Secangkir Kopi Malam

     Ketika mentari tertidur. Aku melihat setitik cahaya di antara gelap, semakin ku nikmati sinarnya semakin banyak pula titik yang menyala. Semakin ku pandang, semakin terang pula rumah-rumah di kota. Aku tak pernah mencari tau siapa yang bercahaya di antara gelap malam dan aku pun tak perduli mengapa banyak manusia yang mencintai cahaya itu di balik gelap. Indahnya pohon cemara kala ini hanya terlihat bentuk umumnya saja, tak ada lagi warna hijau yang merekah. Kokohnya gunung Semeru pun hanya terlihat samar di balik kabut. Semua di makan gelap. Aku berpikir bagaimana gelap mampu menelan warna-warna indah yang nyata? Bagaimana satu titik cahaya mampu bertahan disaat semua warna lenyap tak bersisa? Desir angin di atas balkon ini menyeruak tiap helai bulu kuduku. Begitu banyak titik terang di antara gelap, membuat gelap ini tak terasa menyeramkan. Banyak deru kendaraan berlalu-lalang, bunyi klakson yang terdengar seperti nyanyian nina bobo. Aku menyesap kopi susu panas di cangkir favoritku, merasakan nikmatnya kopi sachet renceng yang hampir setiap warung menjajakannya. 
     Desir angin, suara klakson, serbuan titik cahaya dan siluet benda nyata membuatku tenggelam dalam gelap. Tenggelam dalam dingin dan mendekap rindu yang teramat dalam. Rindu yang semakin lama, semakin banyak seperti titik cahaya yang bertahan dalam gelap. Mengingat kembali tiap mimik wajah yang mengukir perasaanmu yang kian tertutup dalam kabut kenangan, sama seperti warna indah yang lenyap dalam malam. Kopi yang ku sesap, masih kopi yang sama saat kita bersama, tapi tak ada kamu di sampingku. Itulah yang berbeda. Mengukir tawa dengan lelucon bodohmu, menghabiskan waktu dengan berbagai cerita yang tak pernah bosan ku dengar. Aku merindukanmu. Hal itulah yang membuatku begitu menikmati malam. Begitu menikmati sesapan kopi yang sama di dalam cangkir yang sama di waktu yang berbeda, aku begitu menginginkan sosok nyatamu yang mampu menghiburku dalam gelap, tanpa sembunyi di antara seru deru kendaraan. Aku ingin kamu. Kamu yang tengah berada di genggamannya, jemarimu yang terselip manis di antara sela-sela jari manisnya. Aku butuh kamu. Sama seperti saat-saat sebelumnya, tak ada jangka waktu untukku dalam membutuhkanmu. Tak ada jeda waktu untukku dalam merindukanmu. Tak ada bintang di kanvas hitam langit, sama seperti pancaran sinar yang ku pancarkan melalui mata. Tak ada. Semua yang kulakukan adalah palsu, semua bahagia yang kuciptakan itu semu. Tak perlu alasan untukku tertawa, tak butuh penjelasan untukku memancarkan cahaya di mata ini. Semua sudah jelas. Aku tak tertawa tulus ketika tak ada kamu, aku tak memancarkan cahaya saat kamu tak ada di sampingku. Semua sudah jelas, alasanku bahagia adalah kamu. 
     Kamu adalah segala dari alasan untukku memancarkan ketulusan tanpa adanya kepalsuan. Aku baru sadar ketika aku melihat jemarimu terselip erat di jemarinya. Jangan tanya apakah hatiku terluka? Tentu jawabannya, iya. Namun apa dayaku? Aku tak mungkin merebutmu darinya, aku tak setega itu. Bahagiamu adalah bahagiaku, terlepas dari rasa sakit yang menghantui langkahku. Ketulusanku bagaikan malam. Tetap hadir meski terkadang kau sudah terlelap dalam indahnya mimpi, sehingga kau lupa bahwa aku ada di antara kau dan mimpi. Sayangku mungki seperti mentari, yang tak akan pernah menyesal mengiringi harimu meski kau selalu mencela sinar panasku. Aku sayang kamu, itulah ketulusan yang terjadi dan akan tersimpan dalam hati.

Kamis, 05 Februari 2015

BARU

Aku masih ingat waktu pertama kita bertemu, kemudian menjalani hari-hari bersama tanpa rasakan datang-perginya waktu. Aku masih bisa mendengar tiap untaian cerita yang kau utarakan padaku bahagia, sedih, pilu. Semua kau tumpah ruahkan padaku. Semua masih tergambar dengan jelas bahkan sekilas tampak nyata, kau nyaringkan gelak tawa saat waktu menggelitik tubuhmu atau bahkan kau menitikkan air matamu saat waktu melukai harapanmu. Sampai akhirnya waktu menunjukkan sebuah tanda tanya besar diantara aku dan kamu, kau berjalan menyusuri jejak kakiku di masa lalu, mencari kebenaran atas sebuah tanda tanya itu. Dengan cara apapun kau berusaha untuk mengungkap apa yang waktu sembunyikan dari kenyataan. Sampai kau menemukkan titik terang, sampai kau tebarkan angka acak ketika berbicara padaku. Kau punya kunci untuk pintu yang telah lama tertutup rapat, kau buka dan kau tebarkan bunga kenangan di dalamnya tawa, canda, dan air mata, semua kau tebarkan bersama bunga kenangan itu. Perlahan kau membuatku tersadar akan angka acak yang sering kau bincangkan padaku, perlahan kau menuntunku untuk menguruti angka tersebut. Angka demi angka yang merangkai sebuah cerita, membuatku merasa menjadi wanita paling bodoh karna tak menyadari hal itu. Sekarang kau menjelaskan segalanya, merangkai cerita baru yang lebih jelas dan terbuka, membuatku merasa sempurna karna memilikimu. Angka-angka yang kau tebarkan masih saja teracak tapi bedanya sekarang kau jelaskan padaku perlahan, kau urutkan angka itu untukku, kau bawaku pada duniamu. Melihat dunia dari matamu, menggenggam angin melalui jemarimu, seakan aku masuk ke dalam tubuhmu, merasakan setiap desir darah yang mengalir dalam nadimu. Itu memang terjadi, kita menyatu. Kau pun merasakan demikian, mimpi demi mimpi kita ukir, masa demi masa kita arungi, masalah demi masalah kita hadapi. Semua seolah satu, kita percaya bahwa takdir yang memertemukan kita, tapi apa kita juga percaya bila takdir menginginkan perpisahan diantara kita? aku tak berharap banyak untukmu yang menjanjikan akan tinggal, meskipun harapan itu tetap ada. Bila kau menemukannya, kejarlah.. aku takkan halangi kau untuk gapai kebahagiaanmu yang nyata. Setidaknya di luar pintu aku masih dapati kau walau hanya sebagai teman. Seperti dulu, saat pintu ini masih tertutup rapat, saat kau belum mulai mencari kebenaran di jejak masa laluku. Tawa, canda saat kita berkumpul nampaknya akan kembali hidup, seolah apa yang kau tebarkan di balik pinu ini tak pernah terjadi. Tapi, satu hal yang harus kau ingat, bahwa apa yang telah kau dapatkan di balik pintu ini dan apa yang telah kau tebarkan. Selama mungkin itu takkan pernah mati...

Rabu, 14 Januari 2015

Tentang Matahari

Senja mengingatkan aku pada satu sosok yang mungkin pernah tenggelam dan meninggalkan kenangan yang dulu tak pernah ku pekakan. Sosok yang selalu hadir kemana pun kakiku pergi, sosok yang selalu memberikanku ruang lebih untuk merasakan rasanya bahagia yang sederhana. Sosok itu selalu hadir, selalu siap entah bagaimana caranya ia mempelajari semua kisah hidupku. Sosok itu bagai matahari yang pernah tengelam dan kemudian kembali terbit ketika tau waktunya pagi. Iya, dia kembali setelah tau kalau kini telah pagi, ia kembali disaat sisa-sisa kenangan masa laluku pergi tak bersisa. Ia pernah bersinar meski ku tak tau dimana ia berdiri, ia pernah tenggelam disaat aku tak menyadari kehadirannya, kemarin saat ia tenggelam dan meninggalkan jingga, aku selalu menyempatkan diri untuk melihat kearah matahari terbit, "menunggu atau mungkin melupakan?" itu yang ada di pikiranku, aku selalu membicarakannya pada mereka, sahabatku yang mungkin tengah bosan mendengarkan ceritaku tentang sinar matahari yang kini tak lagi ku rasakan kehadirannya. Rindu, rasanya sangat rindu untuk merasakan ruang lebih dan menikmati rasanya bahagia yang sederhana, tapi apalah daya sisa kenangan itu masih tersisa kemarin. Kini aku merasakan matahari itu terbit kembali, tapi kali ini aku telah menemukan dimana ia berdiri, selama ini ia selalu berdiri disampingku. Namun sayang, kemarin sinarnya terhalang oleh kabut tebal yang kubuat sendiri sehingga jejaknya tak terlihat hingga ke pelupuk mata ini. Kini matahari itu telah terbit kembali setelah mereka menyadarkanku pada warna jingga yang ia tinggalkan dibawah langit biru, setelah mereka menceritakan kembali tentang matahari yang tengah terbit lalu tenggelam dan akhirnya ia kembali terbit. Aku hanya bisa berharap matahari itu takkan pernah tenggelam dan hanya menyisakan warna jingga yang pekat, namun aku berharap matahari itu akan bisa membawaku tenggelam dan mengukir warna jingga yang lebih pekat dibawah birunya langit bersama.