sekarang jika aku rindu tanpa diminta kau pasti datang, Dan tanpa memohon kau pasti mendekap dan mencium pipiku, entah getaran apa yang mampu menyampaikan rasa rindu itu dari jiwa seorang anak kepada lelaki pertamanya. Hidupku memang sudah separuh menyentuh kata 'dewasa' namun aku tetap saja menganggap diriku seorang anak kecil yang patut untuk dimanja, tapi kehidupan begitu keras mengajarkanku untuk berdiri sendiri tanpa pijakan yang nyaman bahkan tanpa pegangan layaknya anak kecil belajar berjalan. Terpaan demi terpaan ku arungi dengan segala air mata keikhlasan, rasa percaya bahwa kebahagiaan itu pasti datang mendekap. Entahlah tuhan memang Dewa Skenario, dia menyekenariokan hidupku penuh dengan lumpur dan tanah merah, licin dan terjal layaknya aku tengah menggapai puncak gunung tertinggi dalam hidup. Aku memberanikan diri melewati terpaan itu sendiri. Jiwaku sejujurnya adalah anak kecil, tapi tidak dengan ragaku. Ragaku normal layaknya orang dewasa. Namun aku tetaplah anak kecil yang perlahan belajar bagaimana cara menjadi dewasa tetapi tidak menghilangkan identitasku layaknya anak kecil. Aku merunduk, berguling bahkan memanjat rintangan sambil menitikkan air mata. Tapi lihatlah saat ini, detik ini, aku bagai menaklukkan gunung kehidupan di ujung usia ku yang hampir menyentuh kata 'dewasa' ini, aku menemukan surgaku, menemukan cinta dari lelaki pertama yang sempat meninggalkanku sendiri menaklukkan gunung ini. Aku menemukan cahayaku kembali, menemukan jejak kaki yang telah tertutup rimbunan tanah, menemukan kembali kata 'nyaman dan aman' setelah sekian lama aku berjuang sendiri, menemukan seseorang yang akan menghapus jejak air mataku dan membantuku berjalan kembali setelah sekian lama aku melakukan itu sendiri. Sekarang aku yakin tuhanku memanglah Dewa Skenario yang hebat. Dia menciptakan likaliku hidupku dengan segala kesulitannya mengujiku dengan segala tuntutan yang seketika mampu membuatku putus asa, tetapi dia hebat. Sungguh hebat memberikanku setetes harapan setiap detiknya yang mampu membuatku bangkit dan kembali mengarungi perjalanan panjang sendirian. Dia hebat, sungguh hebat menjaga keyakinanku akan jalan cerita rumit yang berakhir bahagia sehingga aku tak meronta untuk mengakhiri cerita yang telah ia penakan, mungkin aku baru menaklukkan gunung terkecil dalam sejarah kehidupan namun bagi anak yang masih mempunyai jiwa kecil sepertiku ini adalah sebuah kelulusan yang patut aku banggakan. Aku bangga menjadi anak kecil yang mampu menemukan lelaki pertamanya diatas gunung kehidupan pertama. Dan semoga aku menemukan lelaki terakhirku digunung kehidupan berikutnya sehingga aku mampu merasakan menjadi wanita sempurna versiku sendiri.
Minggu, 30 November 2014
Rabu, 12 November 2014
Lukisan dan Aku
Dalam sebuah ruang aku mencintai sebuah lukisan, lukisan usang yang memikat hati untuk selalu ku telusuri setiap detail keindahannya. Dalam rumahku aku menyimpan lukisan itu, hanya menyimpan tanpa pernah berkata bahwa akulah pemilik lukisan itu, aku masih menunggu persetujuan sang raja untuk memiliki lukisan itu. Dahulu aku sangat menyukai lukisan itu, bahkan ketika lukisan itu berpemilik, setelah pemilik itu pergi, aku semakin menyukai lukisan itu. Lalu dengan riang ku letakkan ia didepan pintu rumahku, aku tak berani membawanya masuk ke dalam rumah, takut jika nanti sang pemilik mencari lukisannya. Setiap hari ku pandang lekat-lekat lukisan itu, begitu sederhana namun menyimpan sejuta rahasia, setiap hari aku menatap lukisan itu, seolah didalam lukisan itu terdapat sebuah acara hiburan, tak jarang aku tertawa karenanya. Semakin lama lukisan itu berada didepan pintu, semakin banyak para gadis yang terpikat oleh kesederhanannya. Suatu ketika beberapa gadis datang dan pergi dengan mengaku bahwa ia lah pemilik lukisan itu. Aku merasa aku bukan pemilik lukisan itu, jadi ku biarkan saja para gadis itu pergi dengan membawa lukisan itu, dan entah mengapa, sering kali aku merasa cemburu ketika lukisan itu tengah berada diantara para gadis desa. Mungkin karna aku telah menaruh hati pada lukisan tua itu. Dan mana mungkin lukisan itu menyadari bahwa aku menyimpan sekotak perasaan yang ku kunci rapat dan tak pernah ku tunjukkan padanya. Selama lukisan itu berada diantara para gadis, aku pun membenahi rumahku yang sudah berdebu, aku sibuk membenahi dan menjamu beberapa tamu yang singgah diambang pintu, entah untuk berteduh ataupun sekedar bercengkrama. Aku telah selesai membenahi rumahku berkat bantuan magic yang mampu mengunci pintu masa lalu ku dengan sempurna. Aku pun selalu meladeni mereka yang singgah diambang pintu, entah mengapa aku merasa lelah dengan aktifitas itu, dan seketika lukisan yang dulu begitu aku cintai berada tepat didepan pintuku, melotot marah seolah aku membuangnya, sudah lama aku tak menjumpai lukisan itu berada diantara kerumunan para gadis, hampir setiap hari aku bercengkrama dengan bayangan lukisan itu, tanpa melihat sosok aslinya. Aku pun mengatakan dalam hati bahwa aku merindukan sosok lukisan itu didepan rumahku. Aku ingin membawa lukisan itu masuk sehingga ku gantungkan dalam bingkai yang Indah tepat diruang utama rumahku. Namun, aku tak mempunyai keberanian untuk melakukan itu, aku hanya ingin lukisan itu yang berkata bahwa ia ingin masuk dan tinggal didalam rumah sederhanaku, jika aku yang membawanya masuk, itu terasa tidak adil. Tak ada pesetujuan dari lukisan itu bahwa ia ingin tinggal, jadi aku masih membiarkannya didepan pintu sampai ia berkata dan aku mempersilahkannya masuk dengan senang hati.
Jumat, 24 Oktober 2014
Pengemis Kehidupan
Aku adalah pengemis, pengemis berkedok mahasiswa yang memiliki sejuta kepura-puraan ceria. Pengemis yang mencoba tegar dalam terpaan hidup. Aku adalah pengemis yang tak miskin harta, tak miskin keceriaan, aku adalah pengemis yang selalu kehausan. Haus akan dekapan hangat dan nyaman, hangat akan belaian lembut yang mampu menyapu sejuta rasa risih. Aku adalah pengemis yang mencoba menuntun orang melewati semak berduri tanpa lecet sedikitpun, aku tau. Aku hanyalah pengemis bodoh yang mencoba tegar, sok pahlawan, sok pintar dan sok baik adalah jelmaanku dalam setiap pikiran orang lain. Aku pengemis, yang mencoba mengantarkan paket keceriaan kepada orang sekelilingku, yang mencoba bahagia meski hati terluka. Aku adalah pengemis yang pertama, merasakan bahwa material itu sama sekali tak berharga dibanding sebuah ketulusan. Aku adalah pengemis yang kedua, mengatakan bahwa satu luka memiliki satu derita dan kecewa. Aku adalah pengemis yang ketiga, mengatakan bahwa aku hidup untuk melihat orang bahagia. Iya mereka bukan aku. Aku baik, karena aku ingin bukan karena aku ini sok baik. Aku peduli, karena aku sayang, sayang sama mereka yang membutuhkan kasih sayangku untuk mendekap hangat peluh mereka. Aku tulus, karena kelak aku ingin anak-anakku diberi ketulusan melalui orang lain. Aku memang terluka tapi aku tak ingin mereka melihat warna hidupku yang sejelasnya, aku memang kecewa tapi aku tak ingin mereka melihat kesedihanku dibalik tirai keceriaan. Dan, aku memang derita tapi aku takkan membiarkan mereka melihatku dengan tatapan iba. Warnaku memang kelam, tapi aku adalah pengemis yang bermurah hati untuk mewarnai hidup orang lain. Lukaku memang tak seindah luka dalam perban, namun aku adalah pengemis yang ria akan keceriaan. Aku tak tau kelak aku kan menjadi pengemis atau tidak. Mengais-ngais sisa perhatian dan kasih sayang dari hati setiap manusia. Aku tak tau kelak anak-anakku kan merasakan apa. Merasakan kehidupan yang arogan dari neraka-neraka kehidupan. Aku pengemis yang mengais perhatian dan kasih sayang, namun aku tak dendam dengan kehidupan bahkan dengan tuhan. Aku hanya ingin bermimpi kelak anak-anakku kan merasakan ketulusan dan keceriaan tanpa adanya topeng kepura-puraan yang saat ini ku perankan.
Senin, 20 Oktober 2014
Malam Ini
Suasana malam ini begitu menggairahkan, banyak cerita dibalik kelamnya sang malam, dingin, hembusan angin begitu dingin menyelimuti ruas tulang ini, tuas api pun berkobar menghantarkan bau khas kehangatan. Tak ada satu pun bintang yang menghiasi hitamnya langit, tak ada naungan yang menjanjikan kehangatan malam, hanya bising yang mengantarkanku pada kerinduan senja, aku rindu saat dimana langit berubah warna menjadi jingga, aku rindu dimana burung-burung sibuk berkicau dan mengepakkan sayap untuk kembali ke sarang mereka, mencari kehangatan diantara ranting-ranting yang mereka atur sedemikian rupa. Aku rindu bercengkrama seperti mereka dibawah langit jingga dan didekap hembusan angin sore. Aku rindu mendendangkan lagu serupa yang membuatku terbang bersama mereka yang ingin kembali ke sarang. Aku mungkin tak serupa dengan mereka, aku mungkin hanya menjadi manekkin yang hidup diantara cerianya malam mereka. Aku tak mengutarakan sepatah kata pun, aku hanya berdiam dan memperhatikan, ikut tersenyum tipis bila ocehan itu begitu menggoda untuk ditertawakan. Sunyi, malam ini layaknya malam-malam sebelumnya tapi ada satu yang berbeda, dendang lagu yang serasi dengan petikan gitar melodi menjadi kesatuan padu untuk meromantiskan malam ini. Aku tak melihat apapun yang tersenyum tapi aku tau mereka, mereka yang sudah tenggelam dalam minpi ikut bersenandung bersama alunan gitar dibawah alam sadar mereka. Malam ini sama tapi berbeda karena kehadiran sang melodi dan dendangan sederhana yang membuat malam ini hangat melebihi malam sebelumnya.
Ragu
Awalnya aku ragu
Menuangkan tinta warna-warni
Diatas kanvas baru yang kaku
Ragu..
Untuk membuang kertas usang
Yang didalamnya tersimpan kenangan kelam
Meremas kertas itu menjadi,
Bola-bola kertas tak berarti
Ragu..
Untuk menyisipkan kenangan baru
Mewarnai dinding dengan kuas baru
Membersihkan ruangan yang berdebu
Ragu..
Mengusir gelap dan menjadikannya terang
Menghapus bintang dan digantikan cerahnya pagi
Merenggut bulan dan disulap mentari
Ragu..
Melakukan semua hal yang ku anggap tabu
Merintis cara yang tersembunyi dibalik kabut
Dan..
Memaknai kata yang berselimut kelabu
Ragu..
Menjajaki setapak yang kini berbeda
Mengarungi sungai yang kini bergelombang
Mewarnai awan yang kini tak lagi hitam
Rabu, 15 Oktober 2014
Nikmati
Aku pernah..
Mengindahkanmu dalam sejuta mimpi
Merasakan dekapmu yang kuanggap abadi
Mencintaimu tanpa sebuah kejelasan pasti
Aku pernah..
Berdiri disampingmu hingga aku lelah
Mengukir senyummu hingha aku terlelap
Menangisimu hingga aku sesak
Memimpikanmu hingga aku enggan terbangun
Aku pernah..
Melupakanmu dalam tawa
Menghapus bayangmu dalam diam
Membencimu dalam pejaman,
dan mengingatmu dalam kebisuan
Sekarang..
Aku mencoba menikmati kubang luka yg kau suguhkan
Meratapi tiap kekecewaan yang murka
Menghapus bulir air mata yang deras
Hingga aku terlelap,
atau mungkin mati terpejam
Merpati Rapuh
Sejak awal aku mengira kau malaikat tak bersayap, mendekapku hangat dengan kedua lengan kekarmu. Kau menyuntikku dengan suntikkan kebahagiaan, merajut senyum bersama yang sekilas tampak nyata. Kau bimbing aku hingga aku menjadi seekor merpati dewasa, mengepakkan sayapku dengan anggun dan berkicau dengan halus, tampak kau tersenyum melihat tingkahku yang konyol serta lugu. Aku mengepakkan sayapku hingga menyentuh langit, dari atas sana kulihat dia membisikkanmu sesuatu, aku terbang kembali ke bawah mencoba mencari dekap hangatmu yang semula Ku rasakan, tapi kau berbeda, kau tak lagi sama dengan apa yang dulu kau bagikan untukku. Aku melemah, aku tak berdaya saat kau melangkah jauh untuk berpaling dariku. Aku mencoba berdiri mengepakkan sayapku dengan anggun dan kembali berkicau tapi tetap saja aku lemah. Meski aku kini mampu untuk terbang kembali, mencoba bergabung dengan ribuan merpati lain. Aku tetap saja melemah setiap detiknya, aku terbang dari satu sarang ke sarang lainnya, aku tak menemukan apapun. Aku tak menemukan dekapan hangat seperti yang kau punya, hanya dekapan itu yang membuatku bahagia, hanya itu tak ada yang lain. Tapi, kau menjauh pergi mencari merpati lain yang bisa kau cintai, merpati yang lebih anggun dan lebih mempesona, lebih sempurna dibandingkan merpati sepertiku yang terlalu lemah dan tak berdaya. Saatku melintas di lalu lintas langit dia menyapaku, kembali menarikku dan kembali menghantarkan dekapan lembut itu, semula ku merasa aku menemukan kebahagiaanku seutuhnya, sejak kembalinya ia yang mendekap hangar kedua sayapku, namun aku melihat keanehan yang ia sembunyikan, perlahan ia pun kembali pergi, kembali membuangku ke dasar lautan air mata yang tak berdasar. Aku kembali terpuruk, kembali merasakan dingin yang tak henti-hentinya menusukku, aku kembali diseret dalam ribuan duri kekecewaan, kembali ditenggelamkan dalam lautan air mata. Aku tak sanggup untuk terus menangis, aku tak sanggup untuk terus dihujam oleh duri kekecewaan, aku mencoba bangkit, mencoba mencabuti duri dari sela-sela kulitku, aku berusaha berenang untuk mencapai permukaan, kembali menghirup udara segar yang mungkin tak sesegar kemarin, waktu ia mendekapku dengan tangan kekarnya, aku menyembunyikan bekas lukaku dibalik baju panjang yang kukenakan setiap harinya, menutupi isak tangisku dengan jutaan canda dan tawa. Aku mencoba tegar. Mencoba menerima kenyataan hidup yang pahit. Aku mulai mengeringkan sayapku, mencoba mengepakkan sayapku dan kembali terbang menyusuri langit senja. Aku melihat kawananku, mereka pun menerima kehadiranku, mereka dan aku merajut tawa dan canda yang sangat bahagia, tanpa sadar lukaku telah kututup dengan sempurna, aku tebang dengan membawa sejuta kebahagiaan, membagikannya pada merpati lain layaknya sinter claus . Hingga aku menemukan mereka disuatu sarang yang hangat dan aman, banyak cerita yang aku dan mereka rajut hingga suatu saat aku menceritakan tentang ia yang telah pergi dan menghilang kepada mereka, mereka mengatakan padaku tentang kebenaran, seperti disambar jutaan petir aku pun terjun kembali ke dasar lautan air mata yang dulu sempat ia tenggelamkan, aku kembali merasakan duri-duri kekecewaan yang menusuk sela-sela kulitku, seperti merobek luka lama aku pun tenggelam dalam kisah yang menyiksaku sedemikian rupa. Sakit teramat sakit, tak pernah ku bayangkan kenyataan yang sepahit ini, tak pernah kuindahkan masa lalu yang seburuk ini. Kenyataan ini rasanya seperti mencabikku dengan puluhan singa yang kelaparan, menghancurkan ku dari dasar jiwa hingga ke permukaan. Air mata ini seakan tak berhenti meratap kekecewaan yang sudah terjadi. Hati ini seakan tak mampu menampung sesak yang menghujamku bertubi-tubi. Aku hancur. Aku remuk. Bagai berlian yang terinjak hingga halus tak berbentuk. Itulah aku, merpati rapuh korban masa lalu, itulah aku merpati pembohong pembawa sejuta kebahagiaan yang tak mampu memberi bahagia pada masa lalunya.
Sabtu, 11 Oktober 2014
Taman Harmonika
Lingkaran taman ini sungguh rindang, memancarkan aura sendu ditengah teriknya mentari. Aku tengah mengarahkan kakiku melintasi lautan hijau, detak sepatu yang menyentuh lantai taman sungguh seirama dengan langkahku, saat sinar membakar habis kulitku, terdengar alunan suara lembut yang mampu membawaku terbang pada jutaan sinar mentari. Sejuknya angin yang berhembus membuatku semakin menikmati alunan lembut itu, seolah sebagai penuntun jalan ku arungi lautan hijau melalui arah angin. Ku temukan lingkaran tua dengan beberapa prajurit harmonika, seperti pelataran kerajaan yang menyuguhkan keromantisan melalui dekapan nada. Kakiku meraba mencoba masuk pada pelataran tua itu, menikmati dekapan hangat dan lembut para prajurit harmonika, sekilas ku lihat tatapan tajam mereka namun seiring lantunan nada indah mereka melihat aku sungguh menikmati dekapan mereka, mereka pun mulai membuka jalan untukku duduk dan menikmati dekapan itu lebih lama lagi. Pohon hijau menggugurkan dedaunan kering, menambah sentuhan romantisme di tengah sendunya mentari, aku terbang tinggi melewati jutaan dedaunan yang masih giat bertahan pada sang ranting. Aku terpejam, terbang bersama angin siang yang membakar permukaan kulit, aneh. Sungguh aneh, aku tak merasakan sinar tajam yang mampu merusak kulitku, yang aku rasakan hanyalah dekapan lembut sang nada yang mampu membawaku terbang tanpa merasa tersakiti. Sendunya nada, sangat mewakili jutaan perasaanku saat ini, perasaan yang tak dapat ku jadikan kata-kata. Anganku terbang, jiwaku pun menangis. Merasa tersayat dari jutaan rasa sakit, merasa bebas dari penjara hati yang terus menerus mengurungku dalam peristiwa yang sama. Jiwaku yang menangis seolah merasa bebas, jiwaku yang terkurung seolah akan bebas. Angin dan nada perpaduan konkrit yang mampu membawaku terbang melepas jutaan rasa sakit yang membawaku tenggelam kepermukaan hina. Angin dan nada yang saat ini hadir seolah ingin membebaskan aku dari keterpurukan hati, sakit yang Ku rasa seolah bebas, benci yang ku dekap seolah meronta ingin bebas. Aku tak mampu membencinya, tak mampu untuk membalas perlakuannya, nada. Jeritku pada nada membuat jiwa ini semakin kencang untuk menangis, meronta ingin mendekap kebahagiaan. Nada, ampuni aku, aku terlalu sakit untuk menerima kenyataan ini, bantu aku untuk lepas dari kebenciaan ini. Jika aku bisa menjabarkan rasa sakit ini, mungkin aku bisa menamparnya, melampiaskan semua emosi jiwa yang aku pendam selama ini. Tapi aku tak bisa, tak bisa jika harus melihatnya terluka. Aku hanya ingin dia bahagia tanpa harus menghancurkan kebahagiaanku. Bawa aku terbang jauh nada, bawa aku bersama dekapan hangatmu, bawa aku pergi dari penjara hati yang gemar mengurungku dalam rasa sakit. Ribuan air mata ini takkan bisa membebaskan aku, jutaan jeritan bahkan milyaran rontaan tubuh hanya mampu membuatku tetap berada dalam sakit. Bantu aku kabur dalam rasa sakit ini angin, terbangkan aku ke masa depan, aku lelah mencintai mereka yang salah, aku lelah menelan tombak kehidupan yang selalu merobek kantung air mataku. Tolong bebaskan aku, aku hanya merasa bebas disini, tidak didalam diriku sendiri.
Kamis, 09 Oktober 2014
KECEWA
Bagai jantung yang berdetak, nafas pun kan terus terburu. Ketika sesak yang memaksa untuk masuk dan mendapat tempat dalam dada. Semua terasa sakit. Teramat sakit, tak ada kata yang mampu kuucapkan selain, kecewa. Kecewa, ya kecewa. Satu kata yang mampu mewakili kelamnya jiwa saat ini, tak mampu ku jabarkan semua yang ku rasakan, tak mampu ku lampiaskan segenap api kekecewaan, yang kini tengah membara. Aku hanya mampu bersandar dan menangis, aku hanya mampu menahan sesak yang seolah ingin tinggal lebih lama dalam relung kosong ini. Andai aku tak mengikuti kemana kaki ku melangkah, mungkin aku tak akan merasakan ini, andai aku tak mengikuti jejak angin yang membawaku pada persimpangan gelap itu, mungkin aku takkan tersesat, seperti saat ini, tapi itu semua hanyalah pengandaian semu. Tak ada kata yang mampu ku lontarkan, tak ada decak amarah yang mampu ku sisipkan, aku tak mampu. Tak mampu jika berbalik arah dan menghilang. Tapi aku tak kuasa menahan semua emosi yang menyesakkan ini, tak kuasa menahan derai air mata saat sandiwara hati dimulai. Aku sudah basah, kenapa tak sekalian saja aku tenggelam? tenggelam dalam kesakitan yang menembus hingga dasar jiwa, tenggelam dalam kubang air mata yang ku ciptakan sendiri. Kenapa aku tak mampu memamerkan sebongkah berlian senyum dihadapannya? Kenapa harus masam yang ku tonjolkan, aku tak kuasa untuk mendekapnya, mengeluarkan semua isak tangis, yang mungkin kan membanjiri tubuhnya. Tatapan tajam itu tak pernah lepas dari bayangku, tak pernah lelah menghantui mimpiku. Jika saja itu mimpi Indah mungkin aku takkan ingin terbangun, dan menjalani hidup. Sayang, mimpi indah itu hanyalah sekedar mimpi, kenyataan yang saat ini menjadi mimpi adalah mimpi buruk, yang kesekian kalinya mampir dalam malamku. Lelah aku menjalani ini, sesak relung kosong ini saat semua mimpi buruk yang pergi, karena datangnya fajar, harus kembali memaksa masuk dalam malamku. Kapan semua ini berakhir? Kapan aku mampu menghirup udara segar yang menyambut pagiku? Salah apa aku? Hingga sang mimpi buruk tak mengizinkan ku untuk terbangun dan menyudahi rasa sakit? Aku benci perasaan ini, perasaan sakit dimana hanya aku yang mengerti apa yang aku rasakan, tanpa mampu aku utarakan. Pedih mata ini, tiap kali harus menerjukan jutaan air mata tak berdosa hanya karena rasa ini. Kapan aku menang dalam perang ini? Aku sudah lelah kecewa. pergilah, aku hanya ingin terbangun dan kembali terlelap dengan mimpi indah lainnya.
Kamis, 28 Agustus 2014
Cinta Mengerti
Tentang Kau Yang Tak Tampak
pada mereka yang ku anggap bijaksana
rasanya seperti..
aku takkan pernah menjumpai kekecewaan..
melangkah bersama..
diiringi sejuta tawa..
merasa semuanya.. kan baik-baik saja
aku terlena
bukan dengan sosokmu..
bukan dengan wajahmu..
ataupun hartamu..
hanya saja..
dengan kehadiranmu
aku terlena dalam bahagia..
kau tak ada..
kau tak tampak..
tapi aku tau kau ada di sana..
berdiri..
bersandar..
bersila..
bahkan berlari..
aku tau kau ada..
aku merasakan hadirmu..
bukan hanya aku yang melihatmu,
bukan hanya sekedar imajinasiku
tapi mereka..
mereka pun mengatakan hal yang sama
kau ada..
meski tak tampak ..
kau melantunkan sejuta rahasia..
melambaikan sejuta tanda..
aku tak pernah mengakhiri
ataupun memulai..
hanya saja..
aku terkesima dengan semua lelucon
yang mungkin kau anggap tak lucu..
memang itu tak lucu untukmu..
tapi untukku..
untukku kau bukanlah sekedar dewa..
tapi kau adalah seonggok cahaya ..
meski bukan cahayaku..
meski bukan dewaku..
tapi aku tau kau spesial
lebih dari yang kau kira..
lebih dari apa yang kau pikirkan..
dan aku pun tau..
kau tercipta untuk dia yang mungkin,
setara dengan semua yang melekat padamu..
Rabu, 27 Agustus 2014
Beri Aku Waktu
Saat Kita Merindukan Mereka
ketika aku dan ragaku mulai terbiasa disini..
seketika itu juga anganku mampu kembali berlari ke sana..
ke tempat dimana pernah ada tangis, canda, amarah dan tawa..
menyeret kembali ingatan-ingatan lugu..
bukan hanya tentang kamu dan aku,
bukan hanya tentang senja menjelang malam..
tak pernah ku niatkan menyeruak kembali asa ..
tapi rasa masih lekat mengingat bukan tentang aku bukan tentang kamu..
atau juga tentang kita..
ini tentang sebuah simpul ikatan..
yang dulu pernah kita satukan..
dibuat erat melekat..
dibuat begitu menyatu..
kini ketika aku mengingat kembali..
kujumpai kembali simpul - simpul..
yang dulu kita, kamu, aku dan kalian buat sedemikian erat..
sedemikian lekat ..
terasa mulai renggang, tergerus angin..
dimakan waktu..
di telan gelap..
di hujam angin..
seketika aku menyusuri kembali waktu..
kubiarkan setiap helai angin semakin membawaku ke masa itu..
ke waktu dimana kita bukan hanya aku dan kamu berdiri bersama..
menatap satu arah..
menentang gagah..
menghalang senja..
melambaikan tawa dan menyeruakkan kebebasan..
kini simpul yang erat melekat nyaris putus..
hampir hilang..
NAZRATH NABILLA AZARA
kala malam datang menyapa..
melintasi amarah dan keraguan..
kala dingin menghentak, menyeruak masuk membekukan tahta..
aku ingin kembali terbang bersama malam..
menggoreskan tinta biru diatas senja..
aku ingin kembali bersama angin..
yang menghangatkan kenangan yang sempat mati..
tak ada yang mampu membekukan air mata ini..
tak ada yang sanggup merengkuh hangat jiwa ini..
semua hanyalah ruang kosong yang dulu sempat terisi..
aku selalu merindukan kebahagiaan semu yang dulu sempat terjajar rapi dalam ruangan ini..
aku hanya ingin kembali menguak canda dibawah bunyi hujan..
memang semua itu semu, tak abadi..
tapi setidaknya aku merasakan sedikit harapan..
akan datangnya kebahagiaan..
aku tak pernah menyangka, memori yang dulu tersirat sekarang pun kian memudar..
mungkin aku bukan satu-satunya bintang,
yang merindukan senja..
bukan satu-satunya burung,
yang ingin kembali melintas diatas senja bermandikan canda..
tapi sejak kenangan itu memudar..
hidupku tak lagi sama..
tak lagi seceria dan seheboh waktu kenangan itu kita rajut bersama..
**
Senin, 25 Agustus 2014
Aku Untuk Kamu
disaat kau melontarkan kata yang lebih indah
aku mulai menyukaimu
saat kau dan aku berbicara tentang kata
yang biasa yang mungkin tak bermakna
aku tak mengindahkanmu
tak juga memujamu
aku hanya menyukaimu
ya... hanya kamu
dan sebagai kamu
bukan dia ataupun mereka
mereka mungkin tau
apa yang aku katakan tentangmu
tapi...
mereka takkan tau apa yang aku sembunyikan darimu
percayalah padaku
aku takkan menyakitimu dengan tingkah laku ku
yang mungkin bodoh dan dungu
aku juga takkan mengkhianatimu
jika saja kamu...
memberikan cerita satu
untuk ku jadikan masa lalu..
Kamis, 14 Agustus 2014
Broken Home
udah lama ya aku ga ngeblog lagi :) lagi banyak hal yang harus diselesaikan dikampus. Btw selamat yaa untuk kalian yang keterima di SMA / SMP / Perguruan Tinggi yang kalian dambakan, meskipun ada beberapa dari kalian yang masuk ke sekolah tp ga sesuai impian? jangan sedih ikuti saja alur hidup mu maka suatu saat nanti kamu pasti akan berterima kasih karna telah ditempatkan tuhan di sekolah yang mungkin bukan impian kamu :). Aku mau bahas soal Broken Home nih.. siapa sih yang ga tau Broken Home? apa sih yang ada dipikiran kalian saat mendengar kata Broken Home? mungkin diantara kalian akan berpikir bahwa anak yang mengalami Broken Home itu selalu nakal dan mencari masalah agar diperhatikan. Tapi ga semua anak seperti itu loh :) aku kenal seorang anak yang mengalami Broken Home, dia baiik banget, awalnya temen-temen dia gaada yang nyangka kalo dia itu Broken Home loh :) dia menjalani hidupnya seperti biasa layaknya anak-anak yang mempunyai keluarga utuh dan hangat. Dia sangat menyukai teman, banyak teman. Dia selalu bersikap cerewet, banyak nanya, bercanda seperti anak-anak normal lainnya saat berada di lingkungan yang tak asing, dari kecil dia sangat dekat dengan nenek dan tantenya, terutama neneknya. Untuk dia nenek sudah dia anggap seperti ibunya, dia sangat sayang dengan neneknya saat usianya baru mencapai 17 tahun dia sudah berpikir untuk masa depannya, melanjutkan studinya dan bekerja untuk membahagiakan neneknya. Untuk anak Broken Home sangat sulit untuk mengendalikan emosi, apalagi saat dirinya merasa tertekan. Saat mengalami tekanan, sebaiknya berikan kasih sayang dan penjelasan secara halus, dan usahakan untuk mendengarkan semua keluh kesahnya. Memang benar beberapa anak yang mengalami Broken Home akan selalu mencari cara untuk selalu diperhatikan namun bukan berarti diantara mereka tak ada yang bersikap manis loh :) terkadang seseorang yang paling ceria dan terkesan banyak omong justru dialah yang paling banyak menyimpan sejuta rahasia, rata-rata sih anak yang mengalami Broken Home akan merasa sulit untuk menemukan jati dirinya, terkadang hal yang membuat dia bahagia mereka anggap sebagai jati dirinya, padahal jauh di dalam lubuk hatinya hal itu bukanlah dirinya. Rasa sakit hati dan kekecewaan yang mendalam terhadap orang tuanyalah yang membuat dia berpikir bahwa hal itu adalah jati dirinya. Buat sebagian anak yang mengalami Broken Home harta,jabatan,fisik apapun yang membuat orang lain bahagia itu tidaklah penting, yang terpenting adalah bagaimana sikap mereka terhadap orang lain yang akan membuat orang lain itu memberikannya perhatian dan kasih sayang yang tulus. Terkadang mungkin mereka bersikap aneh, itu hanya semata-mata ingin mengalihkan hatinya yang mungkin tengah terbawa suasana rumah yang membuatnya ga nyaman. Buat kalian yang mungkin mempunyai teman yang mengalami Broken Home atau kalian sendiri yang mengalaminya, berikan kasih sayang terhadap teman kalian, dengarkan keluh kesahnya, berikan dia kasih sayang tulus sedikit saja agar mereka bisa merasakan kepedulian kalian, kalian boleh cari kebahagiaan di luar rumah, tapi dengan syarat kalian mengenali siapa diri kalian jauh di dalam lubuk hati kalian. Sesuatu hal yang membuat kalian senang tapi saat kalian menjalaninya ada rasa ga nyaman itu berarti bukan kebahagiaan seperti itu yang kalian cari, coba deh kalian melakukan kegiatan seperti ikut organisasi yang berbau sosial atau kalian berteman dengan anak-anak yang mungkin ga seberuntung kalian, buat diri kalian nyaman dengan kebahagiaan yang kalian cari, kebahagiaan sesungguhnya ya, kebahagiaan yang ga merusak 'siapa diri kamu sebenarnya' kebahagiaan yang memberikanmu makna kehidupan yang membuat kamu belajar dan menjadikan pelajaran itu sebagai acuan untuk meraih mimpi kamu. Kesalahan yang pernah dibuat oleh orang tua kita, janganlah kita jadikan sebagai contoh untuk keturunan kita nanti, jadilah orang tua sebaik mungkin yang mampu menggoreskan senyum diwajah bidadari dan bidadara kita nanti, jangan mengulang sesuatu yang menyakitkan untuk dirasakan keturunan kita nanti, kalian sudah merasakan gimana pedihnya menjadi bagian dari cerita yang tidak seharusnya kalian terlibat didalamnya, jika kalian sudah berhasil melewati masa-masa cerita kelam itu dengan baik, belum tentu keturunan kalian akan melewati itu dengan baik pula, setiap individu mempunyai karakter,pola pikir dan sifat yang berbeda. Sekalipun dia adalah keturunan kita. Jadikan pengalaman hidup kalian sebagai mimpi bahwa kalian akan mempunyai 'seseorang' yang membantu kalian menciptakan kehangatan dalam rumah mungil yang akan menjadi milik kalian selamanya. Karna orang yang saya kenal pun dia mempunyai cita-cita yang tinggi, mencari kebahagiaan hidupnya dengan membantu sesama, dengan mengikuti berbagai acara yang membawa dia pada pelajaran hidup yang sangat berharga. Mimpinya mempunyai keluarga kecil yang bahagia pun sudah mendarah daging, dia sangat selektif untuk dekat dengan pria berharap pria itu akan bersama-sama dengan dia mewujudkan keluarga kecil bahagianya tentu dengan orang-orang yang sudah tertera dalam list kebahagiaan sederhananya. Soo.. buat kalian yang masih menganggap anak Broken Home itu nakal dan neko-neko gimana? apa mindset kalian berubah? ga selamanya orang yang terlihat lemah itu mempunyai pendirian dan hati yang lemah juga loh.. terkadang dia lemah untuk menutupi kekuatannya, terkadang bahagia yang dia tularkan hanya sekedar mengobati luka hati yang selama ini tertutup rapat :) good luck untuk aktifitas kaliaaan :* Rabu, 11 Juni 2014
Passenger - Catch In The Dark
Well she calls me when she is broken
Says to leave the front door open
I come home to find her smoking
With her eyes all fragile and thin
See she has always been hopeless at hoping
She has always cope badly with coping
And I never know when she is joking
She never lets anyone in.
I know I may fall to late
Her runaway with my heart
I know she’ll never tire of these games
Loving her is like playing catch in the dark
I’m a teardrop in ocean of flames
And we’ll drink too much for a wednesday
She ask me why none of her mn stay
And I tell her just what a friend say
It never goes down to well
We should stay here till late in the evening
But she is always arriving or leaving
Never decides to believe in
The people who know her so well
I know I will fall to late
Her runaway with my heart
And I know she’ll never tire of these games
Loving her is like playing catch in the dark
I’m a teardrop in ocean of flames
She says if we’re still single at 40
We’ll get married and move to the country
But I know she’ll never want me
And it’s 5.15 in the morning
I reach for her while I’m yawning
She leaves me with no warning
