Minggu, 30 November 2014

Dewa Skenario

sekarang jika aku rindu tanpa diminta kau pasti datang, Dan tanpa memohon kau pasti mendekap dan mencium pipiku, entah getaran apa yang mampu menyampaikan rasa rindu itu dari jiwa seorang anak kepada lelaki pertamanya. Hidupku memang sudah separuh menyentuh kata 'dewasa' namun aku tetap saja menganggap diriku seorang anak kecil yang patut untuk dimanja, tapi kehidupan begitu keras mengajarkanku untuk berdiri sendiri tanpa pijakan yang nyaman bahkan tanpa pegangan layaknya anak kecil belajar berjalan. Terpaan demi terpaan ku arungi dengan segala air mata keikhlasan, rasa percaya bahwa kebahagiaan itu pasti datang mendekap. Entahlah tuhan memang Dewa Skenario, dia menyekenariokan hidupku penuh dengan lumpur dan tanah merah, licin dan terjal layaknya aku tengah menggapai puncak gunung tertinggi dalam hidup. Aku memberanikan diri melewati terpaan itu sendiri. Jiwaku sejujurnya adalah anak kecil, tapi tidak dengan ragaku. Ragaku normal layaknya orang dewasa. Namun aku tetaplah anak kecil yang perlahan belajar bagaimana cara menjadi dewasa tetapi tidak menghilangkan identitasku layaknya anak kecil. Aku merunduk, berguling bahkan memanjat rintangan sambil menitikkan air mata. Tapi lihatlah saat ini, detik ini, aku bagai menaklukkan gunung kehidupan di ujung usia ku yang hampir menyentuh kata 'dewasa' ini, aku menemukan surgaku, menemukan cinta dari lelaki pertama yang sempat meninggalkanku sendiri menaklukkan gunung ini. Aku menemukan cahayaku kembali, menemukan jejak kaki yang telah tertutup rimbunan tanah, menemukan kembali kata 'nyaman dan aman' setelah sekian lama aku berjuang sendiri, menemukan seseorang yang akan menghapus jejak air mataku dan membantuku berjalan kembali setelah sekian lama aku melakukan itu sendiri. Sekarang aku yakin tuhanku memanglah Dewa Skenario yang hebat. Dia menciptakan likaliku hidupku dengan segala kesulitannya mengujiku dengan segala tuntutan yang seketika mampu membuatku putus asa, tetapi dia hebat. Sungguh hebat memberikanku setetes harapan setiap detiknya yang mampu membuatku bangkit dan kembali mengarungi perjalanan panjang sendirian. Dia hebat, sungguh hebat menjaga keyakinanku akan jalan cerita rumit yang berakhir bahagia sehingga aku tak meronta untuk mengakhiri cerita yang telah ia penakan, mungkin aku baru menaklukkan gunung terkecil dalam sejarah kehidupan namun bagi anak yang masih mempunyai jiwa kecil sepertiku ini adalah sebuah kelulusan yang patut aku banggakan. Aku bangga menjadi anak kecil yang mampu menemukan lelaki pertamanya diatas gunung kehidupan pertama. Dan semoga aku menemukan lelaki terakhirku digunung kehidupan berikutnya sehingga aku mampu merasakan menjadi wanita sempurna versiku sendiri.

Rabu, 12 November 2014

Lukisan dan Aku

Dalam sebuah ruang aku mencintai sebuah lukisan, lukisan usang yang memikat hati untuk selalu ku telusuri setiap detail keindahannya. Dalam rumahku aku menyimpan lukisan itu, hanya menyimpan tanpa pernah berkata bahwa akulah pemilik lukisan itu, aku masih menunggu persetujuan sang raja untuk memiliki lukisan itu. Dahulu aku sangat menyukai lukisan itu, bahkan ketika lukisan itu berpemilik, setelah pemilik itu pergi, aku semakin menyukai lukisan itu. Lalu dengan riang ku letakkan ia didepan pintu rumahku, aku tak berani membawanya masuk ke dalam rumah, takut jika nanti sang pemilik mencari lukisannya. Setiap hari ku pandang lekat-lekat lukisan itu, begitu sederhana namun menyimpan sejuta rahasia, setiap hari aku menatap lukisan itu, seolah didalam lukisan itu terdapat sebuah acara hiburan, tak jarang aku tertawa karenanya. Semakin lama lukisan itu berada didepan pintu, semakin banyak para gadis yang terpikat oleh kesederhanannya. Suatu ketika beberapa gadis datang dan pergi dengan mengaku bahwa ia lah pemilik lukisan itu. Aku merasa aku bukan pemilik lukisan itu, jadi ku biarkan saja para gadis itu pergi dengan membawa lukisan itu, dan entah mengapa, sering kali aku merasa cemburu ketika lukisan itu tengah berada diantara para gadis desa. Mungkin karna aku telah menaruh hati pada lukisan tua itu. Dan mana mungkin lukisan itu menyadari bahwa aku menyimpan sekotak perasaan yang ku kunci rapat dan tak pernah ku tunjukkan padanya. Selama lukisan itu berada diantara para gadis, aku pun membenahi rumahku yang sudah berdebu, aku sibuk membenahi dan menjamu beberapa tamu yang singgah diambang pintu, entah untuk berteduh ataupun sekedar bercengkrama. Aku telah selesai membenahi rumahku berkat bantuan magic yang mampu mengunci pintu masa lalu ku dengan sempurna. Aku pun selalu meladeni mereka yang singgah diambang pintu, entah mengapa aku merasa lelah dengan aktifitas itu, dan seketika lukisan yang dulu begitu aku cintai berada tepat didepan pintuku, melotot marah seolah aku membuangnya, sudah lama aku tak menjumpai lukisan itu berada diantara kerumunan para gadis, hampir setiap hari aku bercengkrama dengan bayangan lukisan itu, tanpa melihat sosok aslinya. Aku pun mengatakan dalam hati bahwa aku merindukan sosok lukisan itu didepan rumahku. Aku ingin membawa lukisan itu masuk sehingga ku gantungkan dalam bingkai yang Indah tepat diruang utama rumahku. Namun, aku tak mempunyai keberanian untuk melakukan itu, aku hanya ingin lukisan itu yang berkata bahwa ia ingin masuk dan tinggal didalam rumah sederhanaku, jika aku yang membawanya masuk, itu terasa tidak adil. Tak ada pesetujuan dari lukisan itu bahwa ia ingin tinggal, jadi aku masih membiarkannya didepan pintu sampai ia berkata dan aku mempersilahkannya masuk dengan senang hati.

Jumat, 24 Oktober 2014

Pengemis Kehidupan

Aku adalah pengemis, pengemis berkedok mahasiswa yang memiliki sejuta kepura-puraan ceria. Pengemis yang mencoba tegar dalam terpaan hidup. Aku adalah pengemis yang tak miskin harta, tak miskin keceriaan, aku adalah pengemis yang selalu kehausan. Haus akan dekapan hangat dan nyaman, hangat akan belaian lembut yang mampu menyapu sejuta rasa risih. Aku adalah pengemis yang mencoba menuntun orang melewati semak berduri tanpa lecet sedikitpun, aku tau. Aku hanyalah pengemis bodoh yang mencoba tegar, sok pahlawan, sok pintar dan sok baik adalah jelmaanku dalam setiap pikiran orang lain. Aku pengemis, yang mencoba mengantarkan paket keceriaan kepada orang sekelilingku, yang mencoba bahagia meski hati terluka. Aku adalah pengemis yang pertama, merasakan bahwa material itu sama sekali tak berharga dibanding sebuah ketulusan. Aku adalah pengemis yang kedua, mengatakan bahwa satu luka memiliki satu derita dan kecewa. Aku adalah pengemis yang ketiga, mengatakan bahwa aku hidup untuk melihat orang bahagia. Iya mereka bukan aku. Aku baik, karena aku ingin bukan karena aku ini sok baik. Aku peduli, karena aku sayang, sayang sama mereka yang membutuhkan kasih sayangku untuk mendekap hangat peluh mereka. Aku tulus, karena kelak aku ingin anak-anakku diberi ketulusan melalui orang lain. Aku memang terluka tapi aku tak ingin mereka melihat warna hidupku yang sejelasnya, aku memang kecewa tapi aku tak ingin mereka melihat kesedihanku dibalik tirai keceriaan. Dan, aku memang derita tapi aku takkan membiarkan mereka melihatku dengan tatapan iba. Warnaku memang kelam, tapi aku adalah pengemis yang bermurah hati untuk mewarnai hidup orang lain. Lukaku memang tak seindah luka dalam perban, namun aku adalah pengemis yang ria akan keceriaan. Aku tak tau kelak aku kan menjadi pengemis atau tidak. Mengais-ngais sisa perhatian dan kasih sayang dari hati setiap manusia. Aku tak tau kelak anak-anakku kan merasakan apa. Merasakan kehidupan yang arogan dari neraka-neraka kehidupan. Aku pengemis yang mengais perhatian dan kasih sayang, namun aku tak dendam dengan kehidupan bahkan dengan tuhan. Aku hanya ingin bermimpi kelak anak-anakku kan merasakan ketulusan dan keceriaan tanpa adanya topeng kepura-puraan yang saat ini ku perankan.

Senin, 20 Oktober 2014

Malam Ini

Suasana malam ini begitu menggairahkan, banyak cerita dibalik kelamnya sang malam, dingin, hembusan angin begitu dingin menyelimuti ruas tulang ini, tuas api pun berkobar menghantarkan bau khas kehangatan. Tak ada satu pun bintang yang menghiasi hitamnya langit, tak ada naungan yang menjanjikan kehangatan malam, hanya  bising yang mengantarkanku pada kerinduan senja, aku rindu saat dimana langit berubah warna menjadi jingga, aku rindu dimana burung-burung sibuk berkicau dan mengepakkan sayap untuk kembali ke sarang mereka, mencari kehangatan diantara ranting-ranting yang mereka atur sedemikian rupa. Aku rindu bercengkrama seperti mereka dibawah langit jingga dan didekap hembusan angin sore. Aku rindu mendendangkan lagu serupa yang membuatku terbang bersama mereka yang ingin kembali ke sarang. Aku mungkin tak serupa dengan mereka, aku mungkin hanya menjadi manekkin yang hidup diantara cerianya malam mereka. Aku tak mengutarakan sepatah kata pun, aku hanya berdiam dan memperhatikan, ikut tersenyum tipis bila ocehan itu begitu menggoda untuk ditertawakan. Sunyi, malam ini layaknya malam-malam sebelumnya tapi ada satu yang berbeda, dendang lagu yang serasi dengan petikan gitar melodi menjadi kesatuan padu untuk meromantiskan malam ini. Aku tak melihat apapun yang tersenyum tapi aku tau mereka, mereka yang sudah tenggelam dalam minpi ikut bersenandung bersama alunan gitar dibawah alam sadar mereka. Malam ini sama tapi berbeda karena kehadiran sang melodi dan   dendangan sederhana yang membuat malam ini hangat melebihi malam sebelumnya.

Ragu

Awalnya aku ragu
Menuangkan tinta warna-warni
Diatas kanvas baru yang kaku

Ragu..
Untuk membuang kertas usang
Yang didalamnya tersimpan kenangan kelam
Meremas kertas itu menjadi,
Bola-bola kertas tak berarti

Ragu..
Untuk menyisipkan kenangan baru
Mewarnai dinding dengan kuas baru
Membersihkan ruangan yang berdebu

Ragu..
Mengusir gelap dan menjadikannya terang
Menghapus bintang dan digantikan cerahnya pagi
Merenggut bulan dan disulap mentari

Ragu..
Melakukan semua hal yang ku anggap tabu
Merintis cara yang tersembunyi dibalik kabut
Dan..
Memaknai kata yang berselimut kelabu

Ragu..
Menjajaki setapak yang kini berbeda
Mengarungi sungai yang kini bergelombang
Mewarnai awan yang kini tak lagi hitam

Rabu, 15 Oktober 2014

Nikmati

Aku pernah..
Mengindahkanmu dalam sejuta mimpi
Merasakan dekapmu yang kuanggap abadi
Mencintaimu tanpa sebuah kejelasan pasti

Aku pernah..
Berdiri disampingmu hingga aku lelah
Mengukir senyummu hingha aku terlelap
Menangisimu hingga aku sesak
Memimpikanmu hingga aku enggan terbangun

Aku pernah..
Melupakanmu dalam tawa
Menghapus bayangmu dalam diam
Membencimu dalam pejaman,
dan mengingatmu dalam kebisuan

Sekarang..
Aku mencoba menikmati kubang luka yg kau suguhkan
Meratapi tiap kekecewaan yang murka
Menghapus bulir air mata yang deras
Hingga aku terlelap,
atau mungkin mati terpejam

Merpati Rapuh

Sejak awal aku mengira kau malaikat tak bersayap, mendekapku hangat dengan kedua lengan kekarmu. Kau menyuntikku dengan suntikkan kebahagiaan, merajut senyum bersama yang sekilas tampak nyata. Kau bimbing aku hingga aku menjadi seekor merpati dewasa, mengepakkan sayapku dengan anggun dan berkicau dengan halus, tampak kau tersenyum melihat tingkahku yang konyol serta lugu. Aku mengepakkan sayapku hingga menyentuh langit, dari atas sana kulihat dia membisikkanmu sesuatu, aku terbang kembali ke bawah mencoba mencari dekap hangatmu yang semula Ku rasakan, tapi kau berbeda, kau tak lagi sama dengan apa yang dulu kau bagikan untukku. Aku melemah, aku tak berdaya saat kau melangkah jauh untuk berpaling dariku. Aku mencoba berdiri mengepakkan sayapku dengan anggun dan kembali berkicau tapi tetap saja aku lemah. Meski aku kini mampu untuk terbang kembali, mencoba bergabung dengan ribuan merpati lain. Aku tetap saja melemah setiap detiknya, aku terbang dari satu sarang ke sarang lainnya, aku tak menemukan apapun. Aku tak menemukan dekapan hangat seperti yang kau punya, hanya dekapan itu yang membuatku bahagia, hanya itu tak ada yang lain. Tapi, kau menjauh pergi mencari merpati lain yang bisa kau cintai, merpati yang lebih anggun dan lebih mempesona, lebih sempurna dibandingkan merpati sepertiku yang terlalu lemah dan tak berdaya. Saatku melintas di lalu lintas langit dia menyapaku, kembali menarikku dan kembali menghantarkan dekapan lembut itu, semula ku merasa aku menemukan kebahagiaanku seutuhnya, sejak kembalinya ia yang mendekap hangar kedua sayapku, namun aku melihat keanehan yang ia sembunyikan, perlahan ia pun kembali pergi, kembali membuangku ke dasar lautan air mata yang tak berdasar. Aku kembali terpuruk, kembali merasakan dingin yang tak henti-hentinya menusukku, aku kembali diseret dalam ribuan duri kekecewaan, kembali ditenggelamkan dalam lautan air mata. Aku tak sanggup untuk terus menangis, aku tak sanggup untuk terus dihujam oleh duri kekecewaan, aku mencoba bangkit, mencoba mencabuti duri dari sela-sela kulitku, aku berusaha berenang untuk mencapai permukaan, kembali menghirup udara segar yang mungkin tak sesegar kemarin, waktu ia mendekapku dengan tangan kekarnya, aku menyembunyikan bekas lukaku dibalik baju panjang yang kukenakan setiap harinya, menutupi isak tangisku dengan jutaan canda dan tawa. Aku mencoba tegar. Mencoba menerima kenyataan hidup yang pahit. Aku mulai mengeringkan sayapku, mencoba mengepakkan sayapku dan kembali terbang menyusuri langit senja. Aku melihat kawananku, mereka pun menerima kehadiranku, mereka dan aku merajut tawa dan canda yang sangat bahagia, tanpa sadar lukaku telah kututup dengan sempurna, aku tebang dengan membawa sejuta kebahagiaan, membagikannya pada merpati lain layaknya sinter claus . Hingga aku menemukan mereka disuatu sarang yang hangat dan aman, banyak cerita yang aku dan mereka rajut hingga suatu saat aku menceritakan tentang ia yang telah pergi dan menghilang kepada mereka, mereka mengatakan padaku tentang kebenaran, seperti disambar jutaan petir aku pun terjun kembali ke dasar lautan air mata yang dulu sempat ia tenggelamkan, aku kembali merasakan duri-duri kekecewaan yang menusuk sela-sela kulitku, seperti merobek luka lama aku pun tenggelam dalam kisah yang menyiksaku sedemikian rupa. Sakit teramat sakit, tak pernah ku bayangkan kenyataan yang sepahit ini, tak pernah kuindahkan masa lalu yang seburuk ini. Kenyataan ini rasanya seperti mencabikku dengan puluhan singa yang kelaparan, menghancurkan ku dari dasar jiwa hingga  ke permukaan. Air mata ini seakan tak berhenti meratap kekecewaan yang sudah terjadi. Hati ini seakan tak mampu menampung sesak yang menghujamku bertubi-tubi. Aku hancur. Aku remuk. Bagai berlian yang terinjak hingga halus tak berbentuk. Itulah aku, merpati rapuh korban masa lalu, itulah aku merpati pembohong pembawa sejuta kebahagiaan yang tak mampu memberi bahagia pada masa lalunya. 

Sabtu, 11 Oktober 2014

Taman Harmonika

Lingkaran taman ini sungguh rindang, memancarkan aura sendu ditengah teriknya mentari. Aku tengah mengarahkan kakiku melintasi lautan hijau, detak sepatu yang menyentuh lantai taman sungguh seirama dengan langkahku, saat sinar membakar habis kulitku, terdengar alunan suara lembut yang mampu membawaku terbang pada jutaan sinar mentari. Sejuknya angin yang berhembus membuatku semakin menikmati alunan lembut itu, seolah sebagai penuntun jalan ku arungi lautan hijau melalui arah angin. Ku temukan lingkaran tua dengan beberapa prajurit harmonika, seperti pelataran kerajaan yang menyuguhkan keromantisan melalui dekapan nada. Kakiku meraba mencoba masuk pada pelataran tua itu, menikmati dekapan hangat dan lembut para prajurit harmonika, sekilas ku lihat tatapan tajam mereka namun seiring lantunan nada indah mereka melihat aku sungguh menikmati dekapan mereka, mereka pun mulai membuka jalan untukku duduk dan menikmati dekapan itu lebih lama lagi. Pohon hijau menggugurkan dedaunan kering, menambah sentuhan romantisme di tengah sendunya mentari, aku terbang tinggi melewati jutaan dedaunan yang masih giat bertahan pada sang ranting. Aku terpejam, terbang bersama angin siang yang membakar permukaan kulit, aneh. Sungguh aneh, aku tak merasakan sinar tajam yang mampu merusak kulitku, yang aku rasakan hanyalah dekapan lembut sang nada yang mampu membawaku terbang tanpa merasa tersakiti. Sendunya nada, sangat mewakili jutaan perasaanku saat ini, perasaan yang tak dapat ku jadikan kata-kata. Anganku terbang, jiwaku pun menangis. Merasa tersayat dari jutaan rasa sakit, merasa bebas dari penjara hati yang terus menerus mengurungku dalam peristiwa yang sama. Jiwaku yang menangis seolah merasa bebas, jiwaku yang terkurung seolah akan bebas. Angin dan nada perpaduan konkrit yang mampu membawaku terbang melepas jutaan rasa sakit yang membawaku tenggelam kepermukaan hina. Angin dan nada yang saat ini hadir seolah ingin membebaskan aku dari keterpurukan hati, sakit yang Ku rasa seolah bebas, benci yang ku dekap seolah meronta ingin bebas. Aku tak mampu membencinya, tak mampu untuk membalas perlakuannya, nada. Jeritku pada nada membuat jiwa ini semakin kencang untuk menangis, meronta ingin mendekap kebahagiaan. Nada, ampuni aku, aku terlalu sakit untuk menerima kenyataan ini, bantu aku untuk lepas dari kebenciaan ini. Jika aku bisa menjabarkan rasa sakit ini, mungkin aku bisa menamparnya, melampiaskan semua emosi jiwa yang aku pendam selama ini. Tapi aku tak bisa, tak bisa jika harus melihatnya terluka. Aku hanya ingin dia bahagia tanpa harus menghancurkan kebahagiaanku. Bawa aku terbang jauh nada, bawa aku bersama dekapan hangatmu, bawa aku pergi dari penjara hati yang gemar mengurungku dalam rasa sakit. Ribuan air mata ini takkan bisa membebaskan aku, jutaan jeritan bahkan milyaran rontaan tubuh hanya mampu membuatku tetap berada dalam sakit. Bantu aku kabur dalam rasa sakit ini angin, terbangkan aku ke masa depan, aku lelah mencintai mereka yang salah, aku lelah menelan tombak kehidupan yang selalu merobek kantung air mataku. Tolong bebaskan aku, aku hanya merasa bebas disini, tidak didalam diriku sendiri.

Kamis, 09 Oktober 2014

KECEWA

Bagai jantung yang berdetak, nafas pun kan terus terburu. Ketika sesak yang memaksa untuk masuk dan mendapat tempat dalam dada. Semua terasa sakit. Teramat sakit, tak ada kata yang mampu kuucapkan selain, kecewa. Kecewa, ya kecewa. Satu kata yang mampu mewakili kelamnya jiwa saat ini, tak mampu ku jabarkan semua yang ku rasakan, tak mampu ku lampiaskan segenap api kekecewaan, yang kini tengah membara. Aku hanya mampu bersandar dan menangis, aku hanya mampu menahan sesak yang seolah ingin tinggal lebih lama dalam relung kosong ini. Andai aku tak mengikuti kemana kaki ku melangkah, mungkin aku tak akan merasakan ini, andai aku tak mengikuti jejak angin yang membawaku pada persimpangan gelap itu, mungkin aku takkan tersesat, seperti saat ini, tapi itu semua hanyalah pengandaian semu. Tak ada kata yang mampu ku lontarkan, tak ada decak amarah yang mampu ku sisipkan, aku tak mampu. Tak mampu jika berbalik arah dan menghilang. Tapi aku tak kuasa menahan semua emosi yang menyesakkan ini, tak kuasa menahan derai air mata saat sandiwara hati dimulai. Aku sudah basah, kenapa tak sekalian saja aku tenggelam? tenggelam dalam kesakitan yang menembus hingga dasar jiwa, tenggelam dalam kubang air mata yang ku ciptakan sendiri. Kenapa aku tak mampu memamerkan sebongkah berlian senyum dihadapannya? Kenapa harus masam yang ku tonjolkan, aku tak kuasa untuk mendekapnya, mengeluarkan semua isak tangis, yang mungkin kan membanjiri tubuhnya. Tatapan tajam itu tak pernah lepas dari bayangku, tak pernah lelah menghantui mimpiku. Jika saja itu mimpi Indah mungkin aku takkan ingin terbangun, dan menjalani hidup. Sayang, mimpi indah itu hanyalah sekedar mimpi, kenyataan yang saat ini menjadi mimpi adalah mimpi buruk, yang kesekian kalinya mampir dalam malamku. Lelah aku menjalani ini, sesak relung kosong ini saat semua mimpi buruk yang pergi, karena datangnya fajar, harus kembali memaksa masuk dalam malamku. Kapan semua ini berakhir? Kapan aku mampu menghirup udara segar yang menyambut pagiku? Salah apa aku? Hingga sang mimpi buruk tak mengizinkan ku untuk terbangun dan menyudahi rasa sakit? Aku benci perasaan ini, perasaan sakit dimana hanya aku yang mengerti apa yang aku rasakan, tanpa mampu aku utarakan. Pedih mata ini, tiap kali harus menerjukan jutaan air mata tak berdosa hanya karena rasa ini. Kapan aku menang dalam perang ini? Aku sudah lelah kecewa. pergilah, aku hanya ingin terbangun dan kembali terlelap dengan mimpi indah lainnya.

Kamis, 28 Agustus 2014

Cinta Mengerti

Aku mengerti..
mengapa rasa kecewa ini, 
begitu memenuhi pikiran dan jiwa..

Itu karena.. 
aku kembali melakukan kesalahan,
kembali ceroboh untuk percaya,
percaya bahwa hati itu kan berlabuh..

Aku mengerti..
bahwa pembuktian cinta,
tak segampang mengejanya..

C-I-N-T-A
tak butuh banyak basa-basi 
tak butuh sandiwara hati
tak butuh pengumbaran tanda 
ataupun pelampiasan lara

Aku mengerti..
mengapa rasa kecewa ini,
begitu menyelimuti hati 
dengan berbagai cerita derita..

M-E-N-G-E-R-T-I
bahwa jika cinta berkata
sandiwara pun kan berubah lara 
tak ada bahagia dalam kepalsuan
tak ada ceria dalam penderitaan

Semua hanyalah alasan..
alasan untuk aku,kamu atau mungkin,
kita..
melihat reaksi dari sebuah sandiwara cinta
yang kita pertontonkan..

Sekarang aku sangat mengerti..
mengapa hati ini kembali terluka,
kembali kecewa,
bahkan mungkin.. kembali menderita


 

Tentang Kau Yang Tak Tampak

ketika aku menaruh harap
pada mereka yang ku anggap bijaksana
rasanya seperti..
aku takkan pernah menjumpai kekecewaan..

melangkah bersama..
diiringi sejuta tawa..
merasa semuanya.. kan baik-baik saja

aku terlena
bukan dengan sosokmu..
bukan dengan wajahmu..
ataupun hartamu..
hanya saja..

dengan kehadiranmu
aku terlena dalam bahagia..

kau tak ada..
kau tak tampak..
tapi aku tau kau ada di sana..

berdiri..
bersandar..
bersila..
bahkan berlari..

aku tau kau ada..
aku merasakan hadirmu..
bukan hanya aku yang melihatmu,
bukan hanya sekedar imajinasiku
tapi mereka..

mereka pun mengatakan hal yang sama
kau ada..
meski tak tampak ..

kau melantunkan sejuta rahasia..
melambaikan sejuta tanda..
aku tak pernah mengakhiri
ataupun memulai..

hanya saja..
aku terkesima dengan semua lelucon
yang mungkin kau anggap tak lucu..
memang itu tak lucu untukmu..
tapi untukku..

untukku kau bukanlah sekedar dewa..
tapi kau adalah seonggok cahaya ..
meski bukan cahayaku..
meski bukan dewaku..

tapi aku tau kau spesial
lebih dari yang kau kira..
lebih dari apa yang kau pikirkan..
dan aku pun tau..

kau tercipta untuk dia yang mungkin,
setara dengan semua yang melekat padamu..





Rabu, 27 Agustus 2014

Beri Aku Waktu

Aku selalu berharap suatu saat nanti kau kembali bersamaku, meski tidak dalam situasi yang sama tapi setidaknya aku merasakan kehadiranmu di sisiku, namun nyatanya? Kau sudah terbiasa dengan kesendirianmu, terbiasa tanpa aku dalam hidupmu, mungkin kita sudah tak ditakdirkan untuk kembali bersama, tapi apa kita juga di takdirkan untuk tidak kembali bertemu? Mungkin aku memang pernah mengharapkan itu, karna aku tau aku salah. Kenyamanan saat di dekatmu lah yang selama ini aku cari, belaian lembut seperti tangamu lah yang aku inginkan untuk mengusap lembut kepalaku. Apa aku masih salah? Jika aku mencari kenyamanan yang ku dapatkan dari dekap tubuhmu di tubuh orang lain? Apa itu termasuk pelampiasan? Aku rasa tidak karna hanya kenyamanan yang aku cari bukan sosokmu.
Bukan bualan cinta sepertimu yang ku maksudkan, bukan pujian bohong yang seperti kau lanturkan, hanya saja.. pelukan hangat yang ku rasa itu tulus dari dasar jiwamu. Bohong jika aku tak pernah mencintaimu, jujur aku pernah mencintaimu, tapii.. itu hanyalah sepenggal kisah lalu sebelum suram mematahkan harapku. Aku selalu bermimpi kau datang bukan lagi ke hadapanku, tapi langsung ke hadapan kedua orang tuaku, meminta izin dengan sopan untuk membawaku bersamamu. Tapi aku rasa itu hanyalah khayalan bodoh yang takkan pernah menjadi kenyataan? Mungkin kau akan berani melakukan itu jika wanita yang kau cintai bukanlah aku, mungkin kau memang pelajaran untukku. Belajar dari sebuah kenyataan pahit beserta rasa sakit yang tak lagi bisa ku bayangkan. Bukan harta,tahta,dan nafsu mata belaka yang aku inginkan, aku hanya inginkan belaian kesungguhan hati yang tulus kau getarkan pada relung jiwaku. Tahta,harta bahkan wanita bisa saja membuatmu buta, tapi jika kau menggetarkan itu pada jiwa, percayalah nestapa pun takkan lagi bersandiwara. Ku rindukan sosok gagah menjagaku dibelakang, menghadang semua rasa kekecewaan.
Bukan bualan dan puisi khayalan tapi kenyataan yang berujung pada kebahagiaan. Aku memang kecewa pada sebagian kaummu, tapi tak jarang harapanku timbul pada salah satu prajurit tak bersenjata, bukan pedang ataupun pistol yang mampu kau pamerkan, tapi kedewasaan yang mampu mempesonakan mata dan jiwa. Aku tau tak semudah itu mencari kenyamanan lebih yang mampu membawaku pada surga yang selama ini aku lupakan, aku tak pernah mau membuka jalan dengan mudah, karna aku tau takkan ada kebahagiaan yang utuh jika jalan yang ditempuh selalu mudah, aku selalu menyuguhkan berbagai macam rintangan yang membuat mereka menjadi putus asa, setelah mereka pergi aku baru merasakan penyesalan, tapi di sisi lain aku mengucap syukur bahwa dengan cepat aku tau bahwa mereka bukanlah kenyamanan yang aku cari, mereka bagaikan karpet beludru yang akan membawaku tenggelam dalam mimpi dan takkan pernah membangunkanku untuk kembali melanjutkan hidup.
Jika begini apa yang harus aku lakukan? Menyerah untuk mencari kenyamanan sepertimu atau kembali mengharapkanmu datang dan memberikan dekapan yang sama? Akan tetapi setelah kau lepaskan dekapan itu kau akan menamparku kembali dengan ribuan duri yang mungkin berbisa dan mematikanku dalam rasa sakit? Beri aku waktu, aku hanya mencari jalan dimana aku bisa mendapatkan kembali kenyamananku dan aku takkan lagi merasakan tamparan mu untuk kesekian kalinya, hanya beri aku waktu untuk menemukan jalanku menuju kenyamananku.

Saat Kita Merindukan Mereka

ULFA GUSTI UTAMI

ketika aku dan ragaku mulai terbiasa disini..
seketika itu juga anganku mampu kembali berlari ke sana..
ke tempat dimana pernah ada tangis, canda, amarah dan tawa..
menyeret kembali ingatan-ingatan lugu..
bukan hanya tentang kamu dan aku,
bukan hanya tentang senja menjelang malam..
tak pernah ku niatkan menyeruak kembali asa ..
tapi rasa masih lekat mengingat bukan tentang aku bukan tentang kamu..
atau juga tentang kita..
ini tentang sebuah simpul ikatan..
yang dulu pernah kita satukan..
dibuat erat melekat..
dibuat begitu menyatu..
kini ketika aku mengingat kembali..
kujumpai kembali simpul - simpul..
yang dulu kita, kamu, aku dan kalian buat sedemikian erat..
sedemikian lekat ..
terasa mulai renggang, tergerus angin..
dimakan waktu..
di telan gelap..
di hujam angin..
seketika aku menyusuri kembali waktu..
kubiarkan setiap helai angin semakin membawaku ke masa itu..
ke waktu dimana kita bukan hanya aku dan kamu berdiri bersama..
menatap satu arah..
menentang gagah..
menghalang senja..
melambaikan tawa dan menyeruakkan kebebasan..
kini simpul yang erat melekat nyaris putus..
hampir hilang.. 

NAZRATH NABILLA AZARA

kala malam datang menyapa..
melintasi amarah dan keraguan..
kala dingin menghentak, menyeruak masuk membekukan tahta..
aku ingin kembali terbang bersama malam..
menggoreskan tinta biru diatas senja..
aku ingin kembali bersama angin..
yang menghangatkan kenangan yang sempat mati..
tak ada yang mampu membekukan air mata ini..
tak ada yang sanggup merengkuh hangat jiwa ini..
semua hanyalah ruang kosong yang dulu sempat terisi..
aku selalu merindukan kebahagiaan semu yang dulu sempat terjajar rapi dalam ruangan ini..
aku hanya ingin kembali menguak canda dibawah bunyi hujan..
memang semua itu semu, tak abadi..
tapi setidaknya aku merasakan sedikit harapan..
akan datangnya kebahagiaan..
aku tak pernah menyangka, memori yang dulu tersirat sekarang pun kian memudar..
mungkin aku bukan satu-satunya bintang,
yang merindukan senja..
bukan satu-satunya burung,
yang ingin kembali melintas diatas senja bermandikan canda..
tapi sejak kenangan itu memudar..
hidupku tak lagi sama..
tak lagi seceria dan seheboh waktu kenangan itu kita rajut bersama..

**
Ini persembahan puisi dari aku dan Paul (Ulfa Gusti) untuk kenangan yang dulu pernah kita rajut bersama yang lain, kenangan itu kita rajut bersama senja di kala burung-burung pergi kembali ke sarang. Kenangan yang begitu menjanjikan kebahagiaan, berhasil menyeret ku dan paul kembali ke dalam sisi masa lalu yang selalu melekat pada diri kami. Kenangan itu telah berhasil menjinjing rindu kami kembali ke masa lalu, masa yang begitu indah, begitu menyenangkan di atas rooftop, di tengah kantin, di lorong oren, dimana pun, kenangan itu telah tersebar luas ke setiap penjuru kampus. Kenangan itu hilang, bukan karna mereka juga hilang, tapi karna kesibukan yang membentengi kami untuk kembali ke masa yang begitu kami rindukan, tak ada foto yang membekukan kami saat kami bersama. Tak ada bukti bahwa kami pernah bersama. Tapi tak  ada yang mampu mengalahkan semua kenangan yang pernah kami rajut bersama dan menghasilkan sebongkah sweater hangat yang layak kami simpan dalam peti kehidupan kami. Kami yakin suatu saat nanti kenangan yang begitu kami rindukan akan kami bawa ke harapan masa depan, dan kami yakin suatu hari nanti kami akan mengenakan sweater yang kami rajut dahulu bersama, kembali diatas senja. Selamat tidur kenangan, bermimpilah kau akan hadir diantara masa depan kami :)

Senin, 25 Agustus 2014

Aku Untuk Kamu

aku tak mampu merangkai kata indah
disaat kau melontarkan kata yang lebih indah

aku mulai menyukaimu
saat kau dan aku berbicara tentang kata
yang biasa yang mungkin tak bermakna

aku tak mengindahkanmu
tak juga memujamu

aku hanya menyukaimu
ya... hanya kamu
dan sebagai kamu
bukan dia ataupun mereka

mereka mungkin tau
apa yang aku katakan tentangmu
tapi...
mereka takkan tau apa yang aku sembunyikan darimu

percayalah padaku
aku takkan menyakitimu dengan tingkah laku ku
yang mungkin bodoh dan dungu

aku juga takkan mengkhianatimu
jika saja kamu...
memberikan cerita satu
untuk ku jadikan masa lalu..




Kamis, 14 Agustus 2014

Broken Home

haii.. 
udah lama ya aku ga ngeblog lagi :) lagi banyak hal yang harus diselesaikan dikampus. Btw selamat yaa untuk kalian yang keterima di SMA / SMP / Perguruan Tinggi yang kalian dambakan, meskipun ada beberapa dari kalian yang masuk ke sekolah tp ga sesuai impian? jangan sedih ikuti saja alur hidup mu maka suatu saat nanti kamu pasti akan berterima kasih karna telah ditempatkan tuhan di sekolah yang mungkin bukan impian kamu :). Aku mau bahas soal Broken Home nih.. siapa sih yang ga tau Broken Home? apa sih yang ada dipikiran kalian saat mendengar kata Broken Home? mungkin diantara kalian akan berpikir bahwa anak yang mengalami Broken Home itu selalu nakal dan mencari masalah agar diperhatikan. Tapi ga semua anak seperti itu loh :) aku kenal seorang anak yang mengalami Broken Home, dia baiik banget, awalnya temen-temen dia gaada yang nyangka kalo dia itu Broken Home loh :) dia menjalani hidupnya seperti biasa layaknya anak-anak yang mempunyai keluarga utuh dan hangat. Dia sangat menyukai teman, banyak teman. Dia selalu bersikap cerewet, banyak nanya, bercanda seperti anak-anak normal lainnya saat berada di lingkungan yang tak asing, dari kecil dia sangat dekat dengan nenek dan tantenya, terutama neneknya. Untuk dia nenek sudah dia anggap seperti ibunya, dia sangat sayang dengan neneknya saat usianya baru mencapai 17 tahun dia sudah berpikir untuk masa depannya, melanjutkan studinya dan bekerja untuk membahagiakan neneknya. Untuk anak Broken Home sangat sulit untuk mengendalikan emosi, apalagi saat dirinya merasa tertekan. Saat mengalami tekanan, sebaiknya berikan kasih sayang dan penjelasan secara halus, dan usahakan untuk mendengarkan semua keluh kesahnya. Memang benar beberapa anak yang mengalami Broken Home akan selalu mencari cara untuk selalu diperhatikan namun bukan berarti diantara mereka tak ada yang bersikap manis loh :) terkadang seseorang yang paling ceria dan terkesan banyak omong justru dialah yang paling banyak menyimpan sejuta rahasia, rata-rata sih anak yang mengalami Broken Home akan merasa sulit untuk menemukan jati dirinya, terkadang hal yang membuat dia bahagia mereka anggap sebagai jati dirinya, padahal jauh di dalam lubuk hatinya hal itu bukanlah dirinya. Rasa sakit hati dan kekecewaan yang mendalam terhadap orang tuanyalah yang membuat dia berpikir bahwa hal itu adalah jati dirinya. Buat sebagian anak yang mengalami Broken Home harta,jabatan,fisik apapun yang membuat orang lain bahagia itu tidaklah penting, yang terpenting adalah bagaimana sikap mereka terhadap orang lain yang akan membuat orang lain itu memberikannya perhatian dan kasih sayang yang tulus. Terkadang mungkin mereka bersikap aneh, itu hanya semata-mata ingin mengalihkan hatinya yang mungkin tengah terbawa suasana rumah yang membuatnya ga nyaman. Buat kalian yang mungkin mempunyai teman yang mengalami Broken Home atau kalian sendiri yang mengalaminya, berikan kasih sayang terhadap teman kalian, dengarkan keluh kesahnya, berikan dia kasih sayang tulus sedikit saja agar mereka bisa merasakan kepedulian kalian, kalian boleh cari kebahagiaan di luar rumah, tapi dengan syarat kalian mengenali siapa diri kalian jauh di dalam lubuk hati kalian. Sesuatu hal yang membuat kalian senang tapi saat kalian menjalaninya ada rasa ga nyaman itu berarti bukan kebahagiaan seperti itu yang kalian cari, coba deh kalian melakukan kegiatan seperti ikut organisasi yang berbau sosial atau kalian berteman dengan anak-anak yang mungkin ga seberuntung kalian, buat diri kalian nyaman dengan kebahagiaan yang kalian cari, kebahagiaan sesungguhnya ya, kebahagiaan yang ga merusak 'siapa diri kamu sebenarnya' kebahagiaan yang memberikanmu makna kehidupan yang membuat kamu belajar dan menjadikan pelajaran itu sebagai acuan untuk meraih mimpi kamu. Kesalahan yang pernah dibuat oleh orang tua kita, janganlah kita jadikan sebagai contoh untuk keturunan kita nanti, jadilah orang tua sebaik mungkin yang mampu menggoreskan senyum diwajah bidadari dan bidadara kita nanti, jangan mengulang sesuatu yang menyakitkan untuk dirasakan keturunan kita nanti, kalian sudah merasakan gimana pedihnya menjadi bagian dari cerita yang tidak seharusnya kalian terlibat didalamnya, jika kalian sudah berhasil melewati masa-masa cerita kelam itu dengan baik, belum tentu keturunan kalian akan melewati itu dengan baik pula, setiap individu mempunyai karakter,pola pikir dan sifat yang berbeda. Sekalipun dia adalah keturunan kita. Jadikan pengalaman hidup kalian sebagai mimpi bahwa kalian akan mempunyai 'seseorang' yang membantu kalian menciptakan kehangatan dalam rumah mungil yang akan menjadi milik kalian selamanya. Karna orang yang saya kenal pun dia mempunyai cita-cita yang tinggi, mencari kebahagiaan hidupnya dengan membantu sesama, dengan mengikuti berbagai acara yang membawa dia pada pelajaran hidup yang sangat berharga. Mimpinya mempunyai keluarga kecil yang bahagia pun sudah mendarah daging, dia sangat selektif untuk dekat dengan pria berharap pria itu akan bersama-sama dengan dia mewujudkan keluarga kecil bahagianya tentu dengan orang-orang yang sudah tertera dalam list kebahagiaan sederhananya. Soo.. buat kalian yang masih menganggap anak Broken Home itu nakal dan neko-neko gimana? apa mindset kalian berubah? ga selamanya orang yang terlihat lemah itu mempunyai pendirian dan hati yang lemah juga loh.. terkadang dia lemah untuk menutupi kekuatannya, terkadang bahagia yang dia tularkan hanya sekedar mengobati luka hati yang selama ini tertutup rapat :) good luck untuk aktifitas kaliaaan :*

Rabu, 11 Juni 2014

Passenger - Catch In The Dark


Well she calls me when she is broken
Says to leave the front door open
I come home to find her smoking
With her eyes all fragile and thin

See she has always been hopeless at hoping 
She has always cope badly with coping
And I never know when she is joking
She never lets anyone in.

I know I may fall to late 
Her runaway with my heart
I know she’ll never tire of these games
Loving her is like playing catch in the dark
I’m a teardrop in ocean of flames 

And we’ll drink too much for a wednesday 
She ask me why none of her mn stay
And I tell her just what a friend say 
It never goes down to well
We should stay here till late in the evening 
But she is always arriving or leaving
Never decides to believe in 
The people who know her so well

I know I will fall to late 
Her runaway with my heart
And I know she’ll never tire of these games
Loving her is like playing catch in the dark
I’m a teardrop in ocean of flames

She says if we’re still single at 40
We’ll get married and move to the country
But I know she’ll never want me
And it’s 5.15 in the morning

I reach for her while I’m yawning
She leaves me with no warning

Minggu, 08 Juni 2014

Bahagia Sesungguhnya

Banyak orang yang bilang "kalo mau ngerasain bahagia cari uang sebanyak-banyaknya! maka kau akan bahagia selamanya" banyak pula orang yang bilang "bahagia itu ada saat kau menemukan seorang laki-laki yang mencintaimu tulus apa adanya" jika dua wacana itu menjadi mainset kalian, kalian salah! bahagia sesungguhnya adalah saat kau mempunyai keluarga yang mencintai kamu apa adanya, yang menyuport apapun yang kamu lakukan, yang  membuat kalian merasakan surga saat kalian berada di dalam rumah. Bahagia itu adalah keluarga. Duduk santai di suatu ruangan, bercengkrama dan menertawakan sesuatu hal yang lucu bersama, bahagia itu saat kepalamu diusap lembut dengan penuh kasih sayang oleh seorang lelaki gagah yang kau sebut dia ayah. Bahagia itu saat kamu menceritakan seorang lelaki yang kamu sukai bersama seorang wanita tua yang kau sebut dia ibu. Berada di dekat mereka dan merasakan kasih sayang yang tulus dari tempat kalian berasal adalah kebahagiaan yang mendekati surga, kamu bisa bayangkan saat seorang lelaki gagah itu mencium keningmu saat kamu akan pergi ke dunia mimpimu ? betapa nyamannya kamu saat bibir itu mengecup lembut keningmu seakan kamu mendapatkan tiket emas untuk mengunjungi tempat yang kamu impikan. Coba kamu bayangkan saat pelukan hangat mendekap tubuhmu saat kamu terbangun dari seorang wanita tua yang hendak membuat sarapan pagi untukmu. Bahagia bukan? Hal seperti itu yang mampu membingkaimu dalam kebahagiaan, jika lelaki gagah itu memarahimu karena seorang lelaki, itu karna dia cemburu ada seorang pemuda yang membuatmu bahagia selain dia. Jika seorang wanita tua itu memarahimu karena kau bersikap bodoh, itu karena wanita itu tak ingin membuatmu kecewa akan masa depan yang akan kamu hadapi. Harta dan Pria atau Wanita bukanlah kebahagiaan seutuhnya, mereka hanya pelengkap kebahagiaan yang sudah utuh. Jika kamu menitikkan air mata, jangan lagi kamu harapkan seorang pria yang kau cintai datang dan memeluk tubuhmu, berlutut hanya untuk menghapus air matamu, tapi harapkanlah seorang lelaki gagah yang kau sebut dia ayah, untuk berada didekatmu dan memelukmu hingga kau tertidur pulas. Pria/Wanita yang kamu cintai akan pergi meninggalkanmu tapi tidak dengan ayah atau ibumu. Jika kamu mempunyai kebahagiaan yang seutuhnya, janganlah kamu menyakitinya. Karena diluar sana, banyak orang yang menginginkan kebahagiaan seutuhnya, membingkai dirinya dalam kehangatan dunia rumah yang tak pernah menyakitinya. Bersyukurlah jika kamu tinggal dalam atap yang hangat, karena diluar sana masih banyak orang yang mempunyai atap tetapi masih saja merasakan dinginnya malam.

Jumat, 09 Mei 2014

Mereka Sama

Aku menangis di sudut malam, merasakan gelap yang diselimuti pengap tanpa ada cahaya. Aku membutuhkan cahaya sebagai penerang malamku, aku butuh bulan. Tapi dimana ia saat ini? menghilang entah kemana. Dadaku sesak, tak hentinya ku menangis, melihat sekelabat kisah lalu dimana bulanku. Masih anggun bersinar. Aku berkeluh diantara dinginnya malam tak ada hangat yang membalut tubuh renta ini. Aku butuh kehangatan sinar mentari. Tapi dimana ia saat ini? tak datang menengok apalagi menghampiri. Kulitku kering, menatap pori-pori kulit yang kini berkerut, merasakan dingin yang menyelinap masuk hingga ke sela-sela tulang. Aku mengingat kembali saat mentari masih hadir di sini, menyelimutiku dari kejamnya dingin. Aku terngiang kebosanan saat hanya ada kesunyian yang berbicara. Aku butuh pelangi untuk menghiburku dari ocehan sunyi yang membosankan. Tapi dimana ia saat ini? tak terlihat batang hidungnya, bahkan melirik ke arah ku pun juga tidak. Aku hampir mati karena harus mendengar sunyi bergumam. Aku terpejam dan membayangkan saat pelangi masih hadir disini, mewarnai gelapku dan mengalihkan perhatianku dari gumaman asing sang sunyi. Apa yang harus aku bawa? Apa yang harus aku harapkan? Mentari ? Pelangi ? ataukah Bulan ? mereka sama ! mereka tak pernah tinggal untuk waktu yang lama. Aku tak butuh bulan jika ada kunang-kunang hingga gelapku menghilang tak kembali, aku tak butuh mentari jika ada api yang mampu membakar kayu hingga habis tak bersisa bila itu mampu mengusir dingin dari sela-sela tulangku, aku pun tak butuh pelangi jika ada angin yang datang membawa pergi bosanku. Aku hanya butuh tanah untukk berpijak, untukku mengadu dan untukku merenung. Aku tak tau apa yang aku harapkan dari seonggok anggunnya bulan, seujung cahaya mentari bahkan segaris warna pelangi. Aku tak tau. Bagiku mereka sama saja. Tak bisa tinggal untuk selalu berada di dekatku. Aku hanya butuh satu hal yang mencakup mereka dan dia bisa tinggal bersamaku selamanya. Apapun itu, aku tak perduli, bagiku jika ia bisa merengguh jiwa dan hatiku, dan mampu memilih untuk tinggal, aku pun akan menerima kehadirannya meskipun pada kenyataannya. Dia berbeda. Berbeda dan amat sangat berbeda dari kesempuraan mereka, tapi suatu saat pun aku akan melihat cahaya berlian diantara ketidaksempurnaannya yang mampu membuatku bangga untuk tetap tinggal bersamanya.

Senin, 14 April 2014

Gua Kerinduan

Semula aku tak menyangka hitam ini kan menghilang ditelan peradaban, meninggalkan jejak nestapa yang berujung sebuah lengkungan pelangi indah. aku hanya mampu terdiam, tak bergeming sedikit pun. menatap kilauan indah warna-warna pelangi yang melengkung sempurna menghiasi langit biru, dalam gua rindu aku berdiri, terdiam dan tenggelam dalam ketakutan. aku yakin pelangi indah itu adalah hadiah untuk kesabaranku, kesetiaanku dalam menunggu mentari. aku ingin keluar dari gua rindu ini, menyapa langit yang berhiaskan pelangi indah, namun asap ketakutan ini tetap menyuruhku terdiam, seolah dia berkata pelangi itu adalah racun kehidupan yang mampu membunuhku perlahan, yang akan membawaku dalam kepedihan yang mendalam. aku tak percaya dengan semua omong kosong ketakutanku, aku meratap tiap lengkungan yang berkilau terbias cahaya, aku ingin mengulurkan tangan dan meraih pelangi itu, menjadikannya teman hidupku di dalam gua rindu yang tak mempunyai atap dan jendela ini.  gua rindu ini mengurungku begitu erat, seolah aku tak boleh menemukan gua rindu lainnya. gua ini mengurungku bertahun-tahun dalam kesendirianku, dalam ruang imajinasi yang selalu melekat erat di dinding gua rindu ini. berkali-kali aku menatap keindahan pelangi itu, menyanyikan lagu sanubari yang takkan mampu didengarnya dengan jelas, aku sering kali menatap lengkungan megah itu, berdoa dan berharap pelangi itu kan menghampiri dan menjadi teman hidupku di dalam gua ini. tak lama kilauan warna indah yang terukir nyata dalam lengkungan manis itu pun berkilau, memberiku sedikit harap yang menuntutku mengumbar ukiran indah di wajahku, hanya hitungan detik lengkungan pelangi itu berkilau, seketika hatiku berharap, seketika itu pula harapan itu direnggut dan dibuang jauh oleh ketakutanku, gua ini tak hanya mengurungku dalam kesendirian dan imajinasi, tapi gua ini mengurung semua ketakutan, harapan, dan juga kenangan. aku tak bisa berlari dan terbang bebas seperti walet yang sering kali mampir untuk melihatku, memberiku sedikit biji-bijian untukku menyambung hidup, aku ingin menjadi walet, terbang ke seluruh penjuru dunia, dan memberi sedikit keceriaan dalam hidup walau hanya sebentar. walet itu kini tak datang menyaksikan langit biru berhiaskan banyak permata langit, walet itu kini meninggalkan ku sendiri, sendiri dalam gua ini. tanpa biji-bijian ataupun kicauan kecilnya. ketika aku tersadar dalam lamunanku, aku melihat warna pelangi itu perlahan memudar dan langit pun berubah menjadi kelam, ini malam. malam kesekian untukku merasakan pengap yang tak mampu aku hilangkan bersama pelangi itu. dalam gua ini aku hanya mampu menatap lekuk-lekuk tajam yang menjulang tinggi, aku tak mampu melihat jutaan bintang yang membuat sebuah rasi bintang, atau menatap rembulan yang terbalut sempurna dalam keindahan malam.  aku tak mampu merasakan lagi indahnya duniaku, indahnya malam ataupun warna jingga dalam senja. dalam gua ini aku hanya mampu untuk berimajinasi, menghayalkan semua yang kurindukan dalam angan dan mimpi, tanpa mampu merealisasikannya. gua rindu ini mengajarkanku untuk tak selalu berharap, tak selalu menganggap alam membicarakanku dalam bisikannya pada rembulan. aku berusaha setegar batang kayu dalam menghadang tempaan angin, berusaha selembut hamparan rumput hijau yang terayun, aku berusaha seceria walet saat mengepakkan sayapnya hingga ujung dunia, meskipun aku tau aku terlalu rapuh untuk tetap berusaha seperti itu.

Kamis, 20 Maret 2014

Lorong Oren

Ini kisahku yang berujung pada sebuah nasihat, aku adalah remaja yang menyimpan sejuta misteri hati dalam dada, menutup rapat pintu dan jendela agar tak ada yang berani mengintip apa yang aku sembunyikan dari dunia ini. Tak ada yang pernah tau siapa aku sebenarnya, siapa orang yang sedang menorehkan cerita ini. Tak ada yang tau dan tak ada yang pernah menyadari siapa orang dibalik semua ini. Aku akan bercerita dimana awal kisah yang harus aku paparkan. Aku seorang mahasiswa semester awal, berambut ikal panjang dan mempunyai tinggi yang biasa, Sekilas memang tak ada yang menarik dari penampilanku, tapi dari sinilah ceritaku bermula. Aku berjalan memasuki koridor kampus yang lenggang, membawa segelas kopi mocca dingin yang baru saja ku beli di salah satu kantin di kampus ini, aku berjalan dengan santai tanpa memperdulikan jam yang sudah menunjukkan pukul setengah 9 pagi, tak mempedulikan dosen yang tengah memberikan materi dikelasku setengah jam yang lalu, diujung koridor aku mendengar gelak tawa serta candaan renyah yang terumbar dengan spontan oleh beberapa orang lelaki. Aku mempercepat langkah, bukan takut. Melainkan terburu-buru untuk ikut bergabung dengan mereka, gerombolan laki-laki perokok yang tengah memperbincangkan sesuatu yang lucu. Dari mereka aku belajar arti hidup, dari mereka aku mengenal dunia yang berbeda 180 derajat dari kehidupan masa laluku. Aku melihat bentuk tubuh mereka yang sedang menikmati sumber kepulan asap diatas kepala mereka, aku tersenyum dan menyapa mereka dengan wajah yang riang seolah tak memikul beban berat, seketika gemuruh riang keluar dari bibir ramah mereka, senyumku terumbar dengan manis dihadapan mereka yang perkasa, tak ada yang menarik dari mereka selain penampilan mereka yang berantakan memberi kesan bahwa mereka adalah anak brandalan yang tak punya masa depan. Tapi dibalik semua itu aku tau satu hal tentang mereka. Mereka itu adalah orang-orang hebat yang kini mengambil bagian dalam hidupku. Tak butuh waktu lama untukku bergabung dengan gerombolan lelaki itu,  bercanda dan mengumbar gelak tawa yang menggelegar hampir seluruh koridor panjang yang masih lenggang. Tak lama koridor pun mulai dipenuhi oleh para mahasiswa yang setara denganku, gerombolan lelaki tadi sekarang bertambah anggota, tak hanya laki-laki melainkan perempuan sepertiku yang juga ikut bergabung memeriahkan suasana lorong panjang yang sekarang tak lagi lenggang. Petikan gitar mulai mengalun kencang diiringi oleh syair-syair lagu merdu yang menggugah suasana hati yang tersembunyi dibalik nestapa, suasana lorong seketika disulap menjadi pementasan akustik yang menyerukkan berbagai macam genre, berteriak tatkala kami sedang beradu argumen untuk mengejek seseorang. Layaknya seorang mahasiswa yang cenderung merasakan jatuh cinta dan patah hati, hal itu lah yang sering terkuak dan menjadi bahan ejekan yang memecah keheningan lorong. Dilorong ini kisah cinta dan patah hati terjalin, air mata dan senyum kebahagiaan terpancar dengan spontan tanpa ada pemaksaan, lorong ini adalah saksi bisu  untuk kami yang mempunyai kenangan di dalamnya. Saksi bisu akan perubahan yang kini terasa, tak ada lagi tawa dan candaan renyah yang terasa didalam lorong ini, tak ada lagi gerombolan laki-laki yang menikmati kepulan asap diatas kepalanya. Sekarang lorong ini sunyi,sepi dan lembab. Hanya kenangan yang masih tersimpan manis dibalik dinding lorong ini, hanya asap memori yang masih terputar dengan jelas disela-sela keramik lorong yang berujung. Sekarang kami menempati lorong baru, lorong berdinding kaca yang tak sehangat lorong lalu, lorong kaca ini menciptakan perubahan, gerombolan laki-laki dulu pun masih singgah namun tak sebanyak lorong lalu, lorong kaca ini seakan menciptakan batasan untuk tetap mempertahankan kebersamaan lalu. Aku pun merasakan perubahan itu, aku  selalu merindukan lorong lalu, lorong oren yang menyatukan kami dengan kebersamaan, menyatukan kami dengan suasana hangatnya sehingga tak ada lagi suasana canggung diantara kami. Terkadang aku pun seperti berjalan diatas kenangan lalu, merasakan kehangatan yang kini tak lagi kurasakan. Aku memendam  sesuatu yang tak bisa kujabarkan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk tak mengutarakannya dengan siapapun. Aku selalu bermimpi akan mengenakan gaun hitam dan topi hitam untuk mengikuti wisuda bersama gerombolan orang-orang yang dulu sering bercengkrama di lorong lalu. Namun, itu tak dapat terwujud hal yang kusembunyikan ini lebih kuat dibandingkan keinginan,harapan dan mimpiku. Aku hanya dapat terdiam dan merasakan waktu yang bergulir begitu cepat, membawaku kepada perasaan yang tak lama lagi aku rasakan, aku hanya dapat menikmati semua ini, menikmati perubahan yang mengiris perasaan rinduku pada lalu. Tak ada yang menyadari ketika aku yang kini tak lagi hidup berjalan diatas memori yang dulu pernah kita alami bersama, aku hanya dapat melihat dan merasakan apa yang merka rasakan meskipun tak ada satu pun dari mereka yang tak lagi memperdulikanku yang kini tak lagi bernyawa.

Minggu, 09 Maret 2014

Aku Rindu Selimut Jingga

Pagi ini aku terbangun dari mimpi disebuah pengungsian tua, bangunan renta yang kini menjadi tempat bernaung ribuan jiwa. Aku membuka mata,meraih sehelai masker biru yang tergeletak disamping kananku,aku menggunakan masker itu rutin setiap harinya. Sudah satu minggu aku tinggal dipengungsian ini sendiri. Ya sendiri. Tanpa keluarga yang menemani hari-hariku,sebenarnya hidup dipengungsian ini adalah anugerah yang terindah untukku karna tak ada lagi kata kelaparan dan tak ada lagi kata kedinginan,semua tersedia. Meskipun minim tapi tinggal dipengungsian jauh lebih baik dibandingkan kembali hidup dijalanan yang tak kenal belas kasihan,aku berdiri melangkah keluar dari bangunan renta itu, aku melihat jalan raya tepat di depanku, semua yang terlihat begitu muram dan berkabut. Semua tertutup kelabu. Semua berubah menjadi asap tebal yang tak kunjung menepi. Tak ada warna hijau dari dedaunan,tak ada banyak warna dari kendaraan yang berlalu-lalang,semua abu-abu,tak jelas dan kabur. Hanya debu dan asap yang terlihat memenuhi udara. Dia marah, marah akan kelakuanku yang terkadang sering menjengkelkan,sering melanggar peraturan demi peraturan yang dia tulis, dia menulis ribuan peraturan yang ku langgar diatas semua butir debu, hingga aku tak dapat melihatnya degan jelas. Dia menghukumku dengan sejuta bisikan diatas asap tebal hingga aku tak mampu mendengar dengan telingaku. Aku tau dia marah, aku tau dia kecewa, tapi mengapa? mengapa semua kesalahanku harus terumbar diatas debu dan asap? mengapa tak kau tunjukkan saja caraku untuk memperbaikinya? memperbaiki ribuan  bahkan jutaan kesalahanku yang kau ukir dalam butir-butir debu tak bersalah. Mendengar jutaan bahkan miliyaran bisikan yang kau sisipkan diatas apas tebal tak berdosa. Sebut saja salahku! sebut saja nasihatmu! hingga tak ada lagi korban dari debu dan asap tebal yang kau tebarkan dibumi ini. Jangan ada lagi debu dan asap yang memenuhi jalan ini, karena aku rindu jingga. Karena aku rindu hangatnya warna kuning yang bersiap mengeluarkan peluh dan keringat dari tubuhku, bawalah jingga kembali. Bawalah selimut hidupku yang kini menghilang tak berbekas. Aku rindu rona oranye dibawah jingga, rindu melihat ribuan burung terbang kembali ke sangkar. Meskipun dengan kembalinya jingga aku harus kembali hidup dijalan. Aku tak masalah. Jalanan adalah tempat tidurku dan jingga adalah selimut hidupku. Bawalah kembali debu dan asap tebal ini. Mereka tak bersalah,mereka tak berdosa. Aku janji takkan mengulangi kesalahan yang sama, aku janji tak ada penyesalan dan tangisan malam setelah debu dan asap ini pergi. Aku hanya ingin kembali meski aku tak dapat merasakan kehangatan yang seutuhnya, meski aku takkan luput dari kotor dan kedinginan. Aku memang rindu rumah, rumah yang hangat dan tentram serta jauh dari kata kedinginan,tapi itu dulu.  Kini aku merindukan rumah luas berisikan ribuan jiwa yang bernyanyi,berjuang dan bertahan hidup demi sebutir nasi hangat. Aku memang rindu pelukan bunda, yang hangat dan menjanjikan perlindungan, namun itu dulu. Kini aku merindukan ketangkasan dan pembelaan untuk saling melindungi demi bertahan hidup diantara kejamnya polusi udara kota. Aku kini mulai merindukan selimutku, tempat tidurku. Aku janji, takkan mengeluh dan menangis pada malam hari menyesalkan kehendak tuhan yang telah merusak takdir hidupku yang dulu tentram. Maafkan aku, bawalah kembali jinggaku, bawalah kembali debu dan asap tebal tak bersalah ini hingga aku mampu melihat warna-warni besi yang berjalan, melihat indahnya daun hijau yang tumbuh diantara belukar. Bawalah jinggaku, aku rindu ia menjadi selimutku.

Sabtu, 15 Februari 2014

Layang-layang dan Pohon Willow

Aku berjalan di tengah jalan setapak menatap indahnya taman hijau tak berpemilik,ini siang. Terik matahari menyengat kulit tubuhku,menimbulkan buliran air yang perlahan membasahi permukaan kulitku,sepatu kets dekilku menjajaki jalan merah yang dikelilingi oleh pohon rindang, melewati jajaran kursi kayu tua yang menggairahkan untuk segera di tempati. Aku menatap langit, bukan awan yang ku lihat melainkan jutaan dahan yang ditumbuhi daun muda di atas sana, aku tak mampu menatap gumpalan kapas putih yang indah diatas birunya langit, aku tak mampu menatap jutaan burung yang terbang beriringan mencapai satu tujuan. Aku tetap melangkah,menikmati rindangnya pohon willow yang kini tumbuh disegala sisi jalan ini, tak ada satu pun kubangan air yang tetap lembap,semua mengering. Menibulkan kerak di dasar kolam,aku menemukan satu kursi hijau renta tak berpenghuni tepat di bawah pohon willow tua yang mempunyai cabang melintang tepat disisi kanan ku, aku mengambil tempat untuk beristirahat, melihat beberapa anak kecil yang sedang menerbangkan layang-layang. Layangan itu terbang tinggi tertiup angin besar,entah darimana datangnya angin besar itu, rambutku bergerak menjauh dari leher tempatnya bertengger sebelum raja angin menerpa wajahku dan membuat mereka menjauh, aku terpejam seolah mencoba mendengar bisikan angin yang ingin menyampaikan pesan ratu langit kepadaku, bibirku menguak senyum tipis yang nyaris tak terlihat, merasakan getaran lembut pada jemariku yang semula berada tepat diatas kayu hijau yang telah menjadi sebuah kursi taman. Aku membuka kedua kelopak mataku perlahan,menatap layang-layang yang sudah jauh hampir menyentuh langit, aku berbisik pada layang-layang, mengucap janji untuk selalu setia pada harapan dan cinta, aku mengutus layang-layang untuk menyampaikan janjiku ada ratu langit yang berbisik padaku melalui raja angin. Aku menaruh harap pada layang-layang, mengucap janji setia yang harus ku jalani seumur hidupku, aku menatap mereka yang kini menarik ulur layang-layang sederhana yang hampir menggapai pelataran kerajaan langit, siapa sangka layang-layang itu terlepas dari benang yang melilit bagian tubuhnya dan mulai memasuki lantai dasar kerajaan, aku sangat berharap layang-layang itu menyampaikan pesanku,pesan yang teramat penting untuk diketahui penguasa langit. Aku mendengar isak tangis dari kejauhan menatap salah satu anak kecil yang teramat sedih karna sang layang-layang telah pergi meninggalkannya tapi tiba-tiba isak tangisnya berhenti tergantikan oleh senyum indah yang tampak nyata menghiasi wajah mungilnya. Aku melihatnya, melihat dia yang ku harapkan tengah mengganti isak tangis itu menjadi sebongkah senyum nyata di wajah anak itu, dia membelikan layangan baru! layangan yang jauh lebih bagus dari sebelumnya, aku menatap bahagia ke arah anak kecil itu dan di sambut riuh oleh gemuruh angin yang kini kembali menerpa wajahku dan juga wajah mereka. ya, mereka. Termasuk dia yang kini berada disamping anak kecil itu, pohon willow mengguncangkan dahannya menaburkan ribuan daun kuning kecil yang kini memenuhi jalan setapak yang berada tepat di hadapanku, aku terlalu menikmati hembusan angin yang mengguncangkan dahan pohon willow sehingga dahan itu menaburkan daun kuning ke atas tanah hingga aku tak menyadari dia yang selalu ku harapkan mampu mengubah tiap tetes air mataku menjadi canda dan tawa tengah berada di sampingku. Menatapku dengan tatapan sendunya dan mulai mengajakku berjalan di tengah gemuruh angin kencang dan daun yang berhamburan menghiasi tiap jengkal rambut yang kini menjadi indah serta dua layang-layang yang tengah berdiri terhuyung jauh diatas langit biru hampir diselimuti kabut putih dan hampir menyentuh pelataran kerajaan ratu langit kembali.

Jumat, 14 Februari 2014

How To Be A Secret Admirer

haii..
berhubung hari ini adalah hari "Valentine" aku mau membagi sedikit pengalaman aku tentang sesuatu hal yang tak asing bagi remaja seperti kita, apalagi selain "Cinta" satu kata yang mampu melegakan seluruh isi hati,satu kata yang mampu menjebak kita dalam rasa sakit,serta rasa trauma yang mungkin hinggap di masa lalu kita. Kita sering sekali memiliki rasa sayang atau suka terhadap seseorang bahkan tak jarang dari kita yang memiliki perasaan cinta terhadap seseorang, kita juga sering tidak mempunyai keberanian untuk berterus terang sama si dia tentang apa yang kita punya terhadapnya malah terkadang perasaan itu yang mampu menghancurkan segalanya yang telah dibangun dengan sangat indah. Yang menimbulkan rasa sakit dan kekecewaan yang mendalam,menurutku perasaan yang membawa dampak buruk pada apa yang telah kita bangun bukanlah alasan kita untuk berhenti untuk sayang kepada orang lain yang menurut kita pantas mendapatkannya. Perasaan yang berdampak buruk pada apa yang terjadi bukanlah kesalahan penuh dari rasa itu sendiri melainkan dari kita yang tak bisa menahan perasaan itu sehingga berdampak buruk dan merusak apa yang telah terjadi,dan menimbulkan keinginan untuk menjadi “secret admirer” atau yang biasa disebut sebagai pengangum rahasia. Untuk menjadi secret admirer hal yang harus ditahan saat kita mulai menaruh hati pada seseorang adalah sifat kita yang selalu terburu-buru untuk mengungkapkan,memiliki ataupun mendengar jawaban yang dimiliki oleh si "dia". Kita hanya perlu menahan rasa  terburu-buru itu dan bersikaplah seperti orang yang tak mempunyai perasaan apapun terhadapnya, simpanlah perasaan yang menggebu-gebu itu dalam ruangan kosong yang akan menyimpan rapi perasaan itu, sulit. Ya, memang sulit. Namun itulah yang harus kita lakukan agar perasaan yang kita miliki tak mengacaukan semua yang telah terjalin, disisi lain kita harus bersabar untuk membiarkan waktu yang membuka jalan untuk kita menunjukkan sesuatu yang spesial di hati. Tanamkan dalam diri kalian bahwa "hanya melihatnya saja sudah cukup untuk melengkapi harimu" itu jauh lebih penting untuk tetap menjaga rahasiamu tanpa mengubah apapun yang sudah terjalin. Bersikap seolah kalian tidak mempunyai perasaan apapun terhadapnya dan juga bersabar untuk membiarkan waktu yang bertindak adalah hal yang mampu menyimpan rasa spesial kalian dengan aman. Berkonsultasilah pada teman yang kalian anggap paling ahli dalam menyimpan rahasia, jika tidak ada biarkanlah dirimu mengekspresikan perasaanmu dengan hal-hal yang biasa kalian lakukan dengan hobi ataupun kesibukan itu akan jauh lebih baik dalam hal mengendalikan perasaan, menjadi secret admirer tidaklah mudah,kalian akan mengalami hal-hal yang memusingkan dan membuat kalian merasa lelah jika terus menerus melakukannya. Hanya orang-orang yang mempunyai niat yang besar untuk tetap melindungi perasaannyalah yang mampu bertahan menjadi secret admirer, kalian akan melihat si dia mencintai orang lain yang mungkin orang itu adalah teman kalian, kalian juga akan merasakan kesal,sedih,kecewa,dan banyak lagi tetapi kalian hanya bisa menyimpan perasaan itu sendiri. Kalian tidak bisa menunjukkan apa yang kalian rasakan di depan si dia maupun orang lain,bersandiwara. Itu adalah kata yang tepat untuk melengkapi kalian menjadi secret admirer, bersandiwara seolah-olah kalian itu baik-baik saja dan tak mengalami hal apapun meskipun pada kenyataannya hari kalian itu sangat buruk. Ditengah-tengah perjuangan kalian menjadi secret admirer kalian akan didatangkan seseorang yang berguna untuk menguji kesabaran kalian dalam menyandang status secret admirer, orang itu yang akan memberikan kalian pilihan yang sulit antara menerapkan kalimat “lebih baik disayangi daripada menyayangi” atau tetap mempertahankan perasaan kalian terhadap si dia. Jika kalian tanya padaku, aku akan menjawab aku akan mempertahankan rasa yang sudah hadir terlebih dahulu dan membiarkan kalimat itu berlalu seiring berjalannya waktu. Karena menurutku semua akan indah pada waktunya, semua akan indah saat kita menjalankan sesuatu yang dilandasi sebuah perjuangan, menjadi secret admirer tak mempunyai batasan waktu, untuk itu kalian harus memiliki keyakinan akankah kalian menjadi secret admirer atau tidak. Berpegang teguh pada komitmen yang kalian buat untuk menjadi secret admirer.
Itu sih sedikit tips dari aku untuk menjadi secret admirer berdasarkan apa yang pernah aku lakukan sampai akhirnya aku jenuh dan memilih untuk pergi karena si dia juga sudah membentangkan jarak untukku, untuk itu aku menyerah dan mulai membangun perasaan yang baru meskipun sempat terlibat kata “trauma” terhadap cinta. Untuk yang mau jadi secret admirer, sedikit tips nih dari aku, semoga berhasil ya, kalo ada kesempatan untuk mengungkapkan tak ada salahnya untuk di coba yaa... :) {}