Sabtu, 18 Januari 2014

Matahari Terlelap

Sore ini matahari tertidur dengan lelapnya di pangkuan langit bersama pelangi yang selalu memberikan warna di setiap sudut kehidupan,saat tahta langit menghujamkan jutaan rintik hujan yang perlahan mulai membasahi bukit. Matahari terlelap saat pagi dan siang menyongsong langit gelap,saat semua manusia di bumi mulai terjaga,tujuh warna pelangi pun tak mampu meredam amarah yang di lontarkan oleh kerajaan langit pada bumi tanpa sedikit pengampunan. Matahari hanya ingin terlelap,mendekap selimut hangat dan dinyanyikan oleh rintik hujan yang jatuh,matahari hanya ingin bermimpi di saat yang lain sibuk mencarinya. Matahari hanya ingin seperti yang lainnya bermimpi dan terlelap di pangkuan langit hitam yang tak selamanya kan menghitam. Matahari hanya ingin seperti anak laki-laki yang bermain diantara mimpi,menciptakan jejak khayalan yang tak mampu ditemukan orang dewasa,biarkan matahari terlelap,bermimpi dan menciptakan jejaknya yang tak mungkin kita temukan. Biarkan matahari seperti yang lainnya bermain diantara mimpi dibawah selimut hangat sang awan hitam,sementara kita menikmati setiap tetes hujan yang mampu membuat tubuh ini basah tak bersisa,biarkan hujan datang untuk menghapus jejak masa lalu agar kita takkan kembali pada kebahagiaan semu. Biarkan matahari terlelap untuk saat ini,dan ketika waktunya untuk bangun sambutlah sang mentari dengan senyum yang paling hangat yang mampu mengalahkan hangat sinarnya yang membasuh tubuh basah ini. Ciptakan jejak baru untuk kehidupan selanjutnya,hingga tiba saatnya untuk matahari kembali terlelap di atas pangkuan langit hitam dan hujan pun kembali menghapus jejak kisah lalu yang sudah usang.

Jumat, 17 Januari 2014

Menunggu..

Kalo mendengar kata "menunggu" apa sih yang ada di benak kalian ? Pernah tidak sih kalian merasakan menunggu ?. Aku yakin kalian pernah kok merasakan apa yang disebut menunggu. Menunggu adalah sesuatu hal dimana kita menantikan kehadiran seseorang yang akan datang disuatu tempat. Tapi gimana kalo kita menunggu sesuatu hal yang bersifat sia-sia?. Buat kalian pasti menunggu itu tidak menyenangkan,dan lebih cenderung membosankan, ya atau tidak? Tapi buatku kali ini menunggu itu menyenangkan,aku adalah tipikal seorang gadis remaja yang tak suka menunggu,dan cenderung tidak sabar,tapi kali ini aku rela menunggu untuk hal yang sia-sia meskipun menyenangkan tetapi pada akhirnya menunggu itu berubah menyakitkan. Kalau kalian suka menunggu seseorang di suatu tempat,lain halnya dengan aku yang menunggu seseorang tidak di tempat mana pun,ya karna yang aku tunggu bukan hanya seseorang melainkan rasa. Rasa yang aku yakini akan tumbuh di hatinya suatu saat nanti,tapi setelah aku menunggu sekian lama,rasa itu belum juga tumbuh dihatinya dan orang itu malah meninggalkan aku untuk bergelut dengan perasaanku sendiri. Menangis. Itu adalah satu-satunya cara agar aku mampu meringankan pikiranku yang terus menjadi beban,hampir setiap aku merasakan sesuatu hal entah itu marah,kesal ataupun sedih. Ya aku meluapkannya dengan menangis,buatku menunggu dan menangis  adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan,karena ketika aku memutuskan untuk menunggu seseorang datang menghampiriku dengan membawa sebongkah rasa yang sama denganku,aku selalu merasakan sesuatu yang tak biasa,yang selalu mampu membuatku menguraikan air mata tak bersalah ini. Aku selalu berusaha menjadi pondasi untuk setiap kisah cintanya,membasuh seluruh permukaan lukanya dan selalu berusaha untuk mengobatinya. Aku hanya mampu menatapnya tanpa mampu aku memilikinya,semua rasaku terus tumbuh dan berkembang dalam wadahnya,namun rasa yang aku tunggu dan aku yakini akan tumbuh di hatinya pula tak kunjung hadir,bahkan tak menimbulkan tunas diantara benih yang ku tanam. Hingga akhirnya benih itu hilang termakan zaman. Rasa yang tumbuh dan berkembang dengan pesat dalam wadah kehidupan asmaraku perlahan mulai layu,perlahan satu demi satu daun yang hijau pun gugur tak beraturan sampai akhirnya rasa itu lenyap termakan usia. Jejak rasa itu menimbulkan lubang,lubang luka yang awalnya tak mampu aku ratakan bersama tanah yang biasa,namun aku melihat ada benih rasa yang mulai bertunas di dalam lubang luka itu. Aku takut untuk menarik tunas itu,takut menyentuh dinding luka yang akan menimbulkan rasa sakit,aku melihat benih itu tak tumbuh dan berkembang sepesat benih yang lalu,benih itu kini tumbuh secara perlahan,tak menimbulkan sebuah perubahan besar yang nampak. Benih ini berkembang namun, perlahan akarnya mulai menutup dinding dalam luka yang dulu menganga,sakit ketika sebuah luka diobati dengan sebuah alkohol tapi luka itu dapat sembuh secara pesat,sseperti itulah lukaku sekarang seakan terobati oleh tetesan demi tetesan alkohol yang perlahan menyembuhkan. Aku mempunyai rasa yang sama, diatas wadah yang sama,tentunya dengan berbeda benih,aku kembali menunggu benih itu berkembang setiap harinya,namun kali ini aku tak banyak menyirami benih itu,aku tak mau membasuh luka yang sama diantara tunas yang hampir sama,aku hanya mau melihat perkembangan benih itu diiringi oleh denting waktu yang perlahan akan membawa akar dari tunas itu menutupi seluruh dinding dan permukaan luka,hingga saatnya tiba benih rasa itu kan tumbuh menjadi pohon yang memiliki sejuta rasa dengan akar yang kuat menancap pada wadah yang telah lama kosong.Aku tetap menunggu benih rasa itu tumbuh namun harapanku akan benih baru,tak besar seperti sebelumnya,aku takut,jikalau sang benih akan mati tanpa sebab dan membuat lubang luka itu semakin dalam dan semakin menganga.

Senin, 13 Januari 2014

Taman Menteng

Rumah segitiga berkaca ditempatkan sedemikian rupa di tengah kota besar. Di kelilingi jutaan bunga berwarna merah ditemani satu lingkaran keramik hitam dengan percikan air di tengahnya. Jalan setapak yang tak terlalu besar hanya mampu diisi oleh beberapa orang,tampak beberapa orang berlalu lalang menjauhi jalan setapak ini seolah di sepanjang jalan ini tak ada yang indah. Aku duduk terdiam disebuah besi berwarna hijau yang mulai memudar,cuaca hari ini mendung tak bermega, tak ada rona putih diantara langit hitam di atas sana. Di tempatku terdiam aku menatap hamparan rumput hijau yang tertata sangat rapi seakan membebaskan pikiranku dari kerangkeng yang menjerat tubuhku, pikiranku melayang terbang bersama angin sore. Lampu-lampu yang berada di jalan setapak pun satu per satu mulai menyinari sepanjang jalan berkeramik yang tak terlalu besar, lampu-lampu jalan itu bersinar dengan warna yang sangat menghangatkan. Pikiranku yang bebas seolah menemani burung walet yang mencoba ramah kepada para pengunjung taman, burung walet tak pernah jera untuk selalu ramah meskipun hanya segelintir orang yang menyadari akan keramahan sang burung, sang burung pun tak pernah terlihat sedih. Mereka asik terbang, membentangkan sayap kecil mereka untuk beradu dengan gulungan angin yang mengudara. Di hamparan rumput hijau yang ku tatap dengan sendu membentuk pikiranku yang sedang melayang bebas menjadi sebuah kerajaan pohon yang di huni oleh ribuan walet yang ramah, serta merta ribuan bunga indah yang memiliki banyak warna menggoda mata. Serat-serat kayu yang menjadi dinding kerajaan ku berikan alunan melodi yang akan membuat suasana kembali ceria walaupun cuaca tak seindah apa yang kita impikan. Langit pun kian gelap, rumah kaca yang hambar kini tampak bercahaya dengan penerangan yang menggoda untuk dinikmati, aku pun beranjak dari tempat yang sedaritadi ku duduki, berjalan mengitari taman bersama beberapa orang teman yang sedang asik berbincang. Aku menemukan tempat indah diatas pelataran parkir tak jauh dari rumah kaca yang masih tampak terlihat agung, aku menemukan dimana hamparan semen rata yang mempunyai pemandangan yang luar biasa, seakan membawaku dekat dengan langit sore yang mulai menghitam, di sejukkan dengan warna-warni lampu yang mengelilingi puluhan gedung yang dapat ku lihat dari atas pelataran parkir ini, angin yang bergelung pun kian terasa saat berhembus menghempas diri yang mulai merasakan peluh yang tak dapat terukirkan. Tak jauh dari tempatku berada, aku melihat sepasang kekasih yang sedang bercumbu mesra, seakan-akan tak ada pasangan yang lebih romantis selain mereka. Bercumbu  dibawah langit sore yang menghitam ditemani oleh gulungan angin yang berhembus serta dihiasi puluhan warna-warni indah yang mengelilingi bentuk gedung tinggi yang hampir menyentuh langit sore. Aku tersenyum, mendengar setiap untaian kata manis yang terucap dari bibir tipis sang pujangga, dan anggukan lembut sang bidadari cinta yang hanya tersenyum tatkala sang pujangga mengeluarkan "bisa" yang dapat membunuhnya perlahan. Langit sore pun kini berubah menjadi hitam pekat tanpa dihiasi sang sirrius, hujan pun mulai mengguyur hamparan rumput hijau yang kini menambah merdu melodi kehidupan malam ini.

Sabtu, 11 Januari 2014

Tujuh Warna dan Satu Rembulan

Aku hanyalah wanita pemimpi yang sibuk memimpikan kisah romantis di tengah cakrawala,aku hanyalah seonggok nyawa yang sibuk mencari kebahagiaan sempurna yang mampu menembus relung jiwaku yang telah lama sepi, kabut ruang pun mulai bergumul memadati kisah kelam yang perlahan hilang menginggalkan bekas di tengah-tengah debu yang bertebaran. Aku selalu menjajaki langit dengan jalan cerita yang berbeda mengarungi lautan awan dengan warna yang tak sama, aku selalu menunggu seseorang yang nyata yang akan menarikku kembali untuk menjajaki jalan setapak menuju gerbang kehidupan baru, bagaikan level game yang terus menerus meningkat jalan hidupku pun kian berubah, masalah yang kulalui bagai labirin yang tak mempunyai titik penyelesaian. Aku adalah pitam dan kamu adalah lentera, menyinari tapi hanya sebagian,menghangatkan namun untuk sementara, kehadiranmu meninggalkan bekas hitam yang tak mampu ku hapuskan, bekas hitam itu kian berkerak membentuk ukiran abstrak yang tak mampu ku jabarkan dengan layak. Aku hanyalah pitam yang berkabut rindu, rindu kehangatan dari sebuah lentera kuno yang kini bersaing dengan sebutir berlian mewah. Aku pitam yang selalu mendekap erat sinar terang mu meski sementara, aku selalu mendampingimu dalam gelap menuntunmu menuju pelangi diantara terangnya sinar bulan dan bintang. Aku memang pitam tapi dibalik pitamku,aku mampu menciptakan tujuh warna suci untuk menghiburmu, membuat kobaran api dalam lenteramu menyala seakan bersorak riang saat ku tunjukkan tujuh warna suci itu tepat diantara sinar hangatmu. Kau selalu hadir diantara gelap dan terang kini izinkan ku hadir diantara kamu,bulan dan bintang bukan sebagai pitam tapi sebagai tujuh warna indah yang membawakan sejuta cerita manis yang ingin kau cicipi sedikit, untuk mengubah hangatmu yang sementara menjadi hangat yang sepanjang masa. Satu rembulan mampu menerangi satu dunia, satu buah pelangi mampu memberikan warna untuk ribuan jiwa tapi kini biarkan satu pitam memberikan seribu warna untuk satu lentera kuno yang selalu memberikan cerita berbeda.

Minggu, 05 Januari 2014

Kasih Sang Pengamen

Aku berdiri disepanjang jalan raya, hari ini telah gelap bermandikan rintik hujan yang membuat suasana menjadi dingin dan beku. Banyak kendaraan beroda yang berlalu lalang memenuhi ruas jalan yang dipenuhi oleh genangan air, lampu mobil pun kian menghiasi rintik hujan yang turun tanpa henti. Aku memberhentikan sebuah mobil berwarna biru yang hampir dipenuhi oleh para penumpang, aku pun menaiki mobil itu,terlihat beberapa orang telah terduduk nyaman ditengah dinginnya udara malam. Mereka terduduk nyaman tapi tidak dengan sorot mata yang selalu menengok ke arah luar sana dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing, di dalam mobil itu terdapat bermacam-macam karakter. Aku tengah duduk tepat dibelakang supirdan menghadap ke arah pintu masuk mobil yang selalu terbuka, mobil melaju perlahan masih tetap mencari penumpang untuk memenuhi kursi yang masih kosong. Tiba-tiba sepasang remaja menaiki mobil tersebut dengan membawa sebuah gitar mini yang biasa disebut dengan "Okulele". Remaja laki-laki mulai memetik okulele yang berada di kedua tangan perkasanya, melantunkan nada indah berirama ceria,remaja perempuan yang duduk tepat di sebelah remaja laki-laki itu pun mulai membuka mulut, menyanyikan kata indah bernuansa asmara. Lirik itu mempunyai kata yang biasa tapi aku melihat ada yang tak biasa diantara lirik yang mereka nyanyikan ada sinar kehangatan ditengah dinginnya udara malam,sorot mata di tengah mereka seakan mengisyaratkan bahwa mereka tengah dilanda asmara yang sedang berkobar di hati mereka masing-masing, syair lagu yang mereka lantunkan tak digubris oleh penumpang yang terlihat lelah dan ingin segera sampai di rumah mereka yang hangat,bersuarakan si kecil yang selalu menciptakan gelak tawa yang tak biasa. Sepasang remaja itu tak mempersalahkan ketika semua penumpang hanya tenggelam dalam pikiran mereka,hanya aku yang selalu melirik setiap gerak-gerik sepasang remaja itu yang tengah menikmati lagu yang mereka bawakan untuk sekedar mencari receh. Mereka tak malu akan baju lusuh yang mereka kenakan untuk saling bertatap muka, mereka tak gengsi akan lelah yang melanda kaki mereka asal mereka tetap bersama yang mereka rasakan hanyalah kebahagiaan. Kebahagiaan sederhana yang mungkin tak biasa bagi kita yang hidup dengan segala fasilitas, cinta mereka sederhana, tak perlu barang mewah untuk mewakili jati dirinya, tak perlu gengsi untuk menunjukkan cinta mereka di tengah hiruk pikuk keadaan kota malam itu. Mereka hanya perduli akan rasa cinta yang hadir di tengah mereka,mereka mengesampingkan receh yang akan mereka bawa pulang, syair lagu pun habis kini waktunya mereka meminta imbalan atas lagu yang telah mereka nyanyikan,namun tak ada satu pun yang memberinya sebongkah receh sebagai hasil jerih payahnya, tetapi mereka keluar dari mobil biru yang telah di penuhi penumpang dengan senyum yang merekah dibibir keduanya tanpa perduli hujan tengah marah menumpahkan seluruh isi awan hitam yang akan membanjiri malam ini dengan ribuan rintik yang indah seakan melengkapi kebahagiaan diantara kedua remaja yang tengah dilanda asmara sederhana.

Sabtu, 04 Januari 2014

Perahu Kertas

Aku tak berharap kamu hadir di sini menemani,mengusap peluh jiwaku yang lelah berharap. Aku tak menginginkan kamu tinggal memberikanku gelak tawa yang kian hari,kian berwarna. Aku hanya memimpikan kamu mampir ke dalam malamku,memberikanku satu senyuman yang dapat ku genggam selamanya, Aku hanya berhayal kamu datang memberikanku satu masa yang pasti, dimana kau dan aku dapat bersama menempuh ribuan air laut yang tak mungkin akan ku lalui sendiri. Aku hanya menginginkan kamu membuatkanku sebuah perahu kertas, untukku mengarungi kisah hidup di masa aku tak bersamamu. Aku hanya ingin mengarungi lautan kehidupan dengan perahu kertas yang bertuliskan namamu,yang memiliki sidik jarimu di setiap sisinya. Aku mengerti kau tak bisa hadir saat ini memberikanku kepastian akan hadirmu yang selalu menemaniku saat aku mengarungi samudera kegelapan. Aku hanya mampu untuk menunggu, menghitung ribuan sirius yang jauh di angkasa sana. Aku mau menjadi nahkoda dari perahu kertas yang kau buatkan khusus untukku, biarkan aku memimpin perahu itu sendiri untuk bertemu sirius. Memintanya mengajarkanku cara bersinar, sampai akhirnya kau benar-benar hadir menggantikanku menjadi nahkoda perahu kertas yang mampu menampung kita untuk mengarungi dunia ini bersama. Menatap jutaan sirius di angkasa gelap yang mungkin akan tersenyum saat tau kita telah bersama, biarkan air laut menerpa perahu kertas kita memberikan kita hentakan dimana kita bisa berdekatan dan saling mendekap erat seakan tak ada yang rela saat seperti itu kan hilang di telan gulungan ombak yang akan kembali ke tengah lautan malam. Biarkan batu karang hadir diantara kita memberikan kita lantunan lagu di tengah perahu kertas yang kita pakai untuk mengarungi dunia. Biarkan ikan berbincang melihat senda gurau kita yang mungkin membuat mereka iri tepat dibawah sana. Perahu kertas ini mengarungi lautan hingga mencapai samudera kehidupan,sampai akhirnya perahu kertas kita tiba di pelabuhan terakhir untuk kita bersanding melanjutkan cerita cinta yang tlah lama kita rajut dibawah ribuan sirius dan dewi malam, ditemani dengan ribuan karang yang mengalun dan bisikan para ikan yang selalu menatap iri.