Senin, 14 April 2014

Gua Kerinduan

Semula aku tak menyangka hitam ini kan menghilang ditelan peradaban, meninggalkan jejak nestapa yang berujung sebuah lengkungan pelangi indah. aku hanya mampu terdiam, tak bergeming sedikit pun. menatap kilauan indah warna-warna pelangi yang melengkung sempurna menghiasi langit biru, dalam gua rindu aku berdiri, terdiam dan tenggelam dalam ketakutan. aku yakin pelangi indah itu adalah hadiah untuk kesabaranku, kesetiaanku dalam menunggu mentari. aku ingin keluar dari gua rindu ini, menyapa langit yang berhiaskan pelangi indah, namun asap ketakutan ini tetap menyuruhku terdiam, seolah dia berkata pelangi itu adalah racun kehidupan yang mampu membunuhku perlahan, yang akan membawaku dalam kepedihan yang mendalam. aku tak percaya dengan semua omong kosong ketakutanku, aku meratap tiap lengkungan yang berkilau terbias cahaya, aku ingin mengulurkan tangan dan meraih pelangi itu, menjadikannya teman hidupku di dalam gua rindu yang tak mempunyai atap dan jendela ini.  gua rindu ini mengurungku begitu erat, seolah aku tak boleh menemukan gua rindu lainnya. gua ini mengurungku bertahun-tahun dalam kesendirianku, dalam ruang imajinasi yang selalu melekat erat di dinding gua rindu ini. berkali-kali aku menatap keindahan pelangi itu, menyanyikan lagu sanubari yang takkan mampu didengarnya dengan jelas, aku sering kali menatap lengkungan megah itu, berdoa dan berharap pelangi itu kan menghampiri dan menjadi teman hidupku di dalam gua ini. tak lama kilauan warna indah yang terukir nyata dalam lengkungan manis itu pun berkilau, memberiku sedikit harap yang menuntutku mengumbar ukiran indah di wajahku, hanya hitungan detik lengkungan pelangi itu berkilau, seketika hatiku berharap, seketika itu pula harapan itu direnggut dan dibuang jauh oleh ketakutanku, gua ini tak hanya mengurungku dalam kesendirian dan imajinasi, tapi gua ini mengurung semua ketakutan, harapan, dan juga kenangan. aku tak bisa berlari dan terbang bebas seperti walet yang sering kali mampir untuk melihatku, memberiku sedikit biji-bijian untukku menyambung hidup, aku ingin menjadi walet, terbang ke seluruh penjuru dunia, dan memberi sedikit keceriaan dalam hidup walau hanya sebentar. walet itu kini tak datang menyaksikan langit biru berhiaskan banyak permata langit, walet itu kini meninggalkan ku sendiri, sendiri dalam gua ini. tanpa biji-bijian ataupun kicauan kecilnya. ketika aku tersadar dalam lamunanku, aku melihat warna pelangi itu perlahan memudar dan langit pun berubah menjadi kelam, ini malam. malam kesekian untukku merasakan pengap yang tak mampu aku hilangkan bersama pelangi itu. dalam gua ini aku hanya mampu menatap lekuk-lekuk tajam yang menjulang tinggi, aku tak mampu melihat jutaan bintang yang membuat sebuah rasi bintang, atau menatap rembulan yang terbalut sempurna dalam keindahan malam.  aku tak mampu merasakan lagi indahnya duniaku, indahnya malam ataupun warna jingga dalam senja. dalam gua ini aku hanya mampu untuk berimajinasi, menghayalkan semua yang kurindukan dalam angan dan mimpi, tanpa mampu merealisasikannya. gua rindu ini mengajarkanku untuk tak selalu berharap, tak selalu menganggap alam membicarakanku dalam bisikannya pada rembulan. aku berusaha setegar batang kayu dalam menghadang tempaan angin, berusaha selembut hamparan rumput hijau yang terayun, aku berusaha seceria walet saat mengepakkan sayapnya hingga ujung dunia, meskipun aku tau aku terlalu rapuh untuk tetap berusaha seperti itu.