Kamis, 20 Maret 2014

Lorong Oren

Ini kisahku yang berujung pada sebuah nasihat, aku adalah remaja yang menyimpan sejuta misteri hati dalam dada, menutup rapat pintu dan jendela agar tak ada yang berani mengintip apa yang aku sembunyikan dari dunia ini. Tak ada yang pernah tau siapa aku sebenarnya, siapa orang yang sedang menorehkan cerita ini. Tak ada yang tau dan tak ada yang pernah menyadari siapa orang dibalik semua ini. Aku akan bercerita dimana awal kisah yang harus aku paparkan. Aku seorang mahasiswa semester awal, berambut ikal panjang dan mempunyai tinggi yang biasa, Sekilas memang tak ada yang menarik dari penampilanku, tapi dari sinilah ceritaku bermula. Aku berjalan memasuki koridor kampus yang lenggang, membawa segelas kopi mocca dingin yang baru saja ku beli di salah satu kantin di kampus ini, aku berjalan dengan santai tanpa memperdulikan jam yang sudah menunjukkan pukul setengah 9 pagi, tak mempedulikan dosen yang tengah memberikan materi dikelasku setengah jam yang lalu, diujung koridor aku mendengar gelak tawa serta candaan renyah yang terumbar dengan spontan oleh beberapa orang lelaki. Aku mempercepat langkah, bukan takut. Melainkan terburu-buru untuk ikut bergabung dengan mereka, gerombolan laki-laki perokok yang tengah memperbincangkan sesuatu yang lucu. Dari mereka aku belajar arti hidup, dari mereka aku mengenal dunia yang berbeda 180 derajat dari kehidupan masa laluku. Aku melihat bentuk tubuh mereka yang sedang menikmati sumber kepulan asap diatas kepala mereka, aku tersenyum dan menyapa mereka dengan wajah yang riang seolah tak memikul beban berat, seketika gemuruh riang keluar dari bibir ramah mereka, senyumku terumbar dengan manis dihadapan mereka yang perkasa, tak ada yang menarik dari mereka selain penampilan mereka yang berantakan memberi kesan bahwa mereka adalah anak brandalan yang tak punya masa depan. Tapi dibalik semua itu aku tau satu hal tentang mereka. Mereka itu adalah orang-orang hebat yang kini mengambil bagian dalam hidupku. Tak butuh waktu lama untukku bergabung dengan gerombolan lelaki itu,  bercanda dan mengumbar gelak tawa yang menggelegar hampir seluruh koridor panjang yang masih lenggang. Tak lama koridor pun mulai dipenuhi oleh para mahasiswa yang setara denganku, gerombolan lelaki tadi sekarang bertambah anggota, tak hanya laki-laki melainkan perempuan sepertiku yang juga ikut bergabung memeriahkan suasana lorong panjang yang sekarang tak lagi lenggang. Petikan gitar mulai mengalun kencang diiringi oleh syair-syair lagu merdu yang menggugah suasana hati yang tersembunyi dibalik nestapa, suasana lorong seketika disulap menjadi pementasan akustik yang menyerukkan berbagai macam genre, berteriak tatkala kami sedang beradu argumen untuk mengejek seseorang. Layaknya seorang mahasiswa yang cenderung merasakan jatuh cinta dan patah hati, hal itu lah yang sering terkuak dan menjadi bahan ejekan yang memecah keheningan lorong. Dilorong ini kisah cinta dan patah hati terjalin, air mata dan senyum kebahagiaan terpancar dengan spontan tanpa ada pemaksaan, lorong ini adalah saksi bisu  untuk kami yang mempunyai kenangan di dalamnya. Saksi bisu akan perubahan yang kini terasa, tak ada lagi tawa dan candaan renyah yang terasa didalam lorong ini, tak ada lagi gerombolan laki-laki yang menikmati kepulan asap diatas kepalanya. Sekarang lorong ini sunyi,sepi dan lembab. Hanya kenangan yang masih tersimpan manis dibalik dinding lorong ini, hanya asap memori yang masih terputar dengan jelas disela-sela keramik lorong yang berujung. Sekarang kami menempati lorong baru, lorong berdinding kaca yang tak sehangat lorong lalu, lorong kaca ini menciptakan perubahan, gerombolan laki-laki dulu pun masih singgah namun tak sebanyak lorong lalu, lorong kaca ini seakan menciptakan batasan untuk tetap mempertahankan kebersamaan lalu. Aku pun merasakan perubahan itu, aku  selalu merindukan lorong lalu, lorong oren yang menyatukan kami dengan kebersamaan, menyatukan kami dengan suasana hangatnya sehingga tak ada lagi suasana canggung diantara kami. Terkadang aku pun seperti berjalan diatas kenangan lalu, merasakan kehangatan yang kini tak lagi kurasakan. Aku memendam  sesuatu yang tak bisa kujabarkan, hingga akhirnya aku memutuskan untuk tak mengutarakannya dengan siapapun. Aku selalu bermimpi akan mengenakan gaun hitam dan topi hitam untuk mengikuti wisuda bersama gerombolan orang-orang yang dulu sering bercengkrama di lorong lalu. Namun, itu tak dapat terwujud hal yang kusembunyikan ini lebih kuat dibandingkan keinginan,harapan dan mimpiku. Aku hanya dapat terdiam dan merasakan waktu yang bergulir begitu cepat, membawaku kepada perasaan yang tak lama lagi aku rasakan, aku hanya dapat menikmati semua ini, menikmati perubahan yang mengiris perasaan rinduku pada lalu. Tak ada yang menyadari ketika aku yang kini tak lagi hidup berjalan diatas memori yang dulu pernah kita alami bersama, aku hanya dapat melihat dan merasakan apa yang merka rasakan meskipun tak ada satu pun dari mereka yang tak lagi memperdulikanku yang kini tak lagi bernyawa.

Minggu, 09 Maret 2014

Aku Rindu Selimut Jingga

Pagi ini aku terbangun dari mimpi disebuah pengungsian tua, bangunan renta yang kini menjadi tempat bernaung ribuan jiwa. Aku membuka mata,meraih sehelai masker biru yang tergeletak disamping kananku,aku menggunakan masker itu rutin setiap harinya. Sudah satu minggu aku tinggal dipengungsian ini sendiri. Ya sendiri. Tanpa keluarga yang menemani hari-hariku,sebenarnya hidup dipengungsian ini adalah anugerah yang terindah untukku karna tak ada lagi kata kelaparan dan tak ada lagi kata kedinginan,semua tersedia. Meskipun minim tapi tinggal dipengungsian jauh lebih baik dibandingkan kembali hidup dijalanan yang tak kenal belas kasihan,aku berdiri melangkah keluar dari bangunan renta itu, aku melihat jalan raya tepat di depanku, semua yang terlihat begitu muram dan berkabut. Semua tertutup kelabu. Semua berubah menjadi asap tebal yang tak kunjung menepi. Tak ada warna hijau dari dedaunan,tak ada banyak warna dari kendaraan yang berlalu-lalang,semua abu-abu,tak jelas dan kabur. Hanya debu dan asap yang terlihat memenuhi udara. Dia marah, marah akan kelakuanku yang terkadang sering menjengkelkan,sering melanggar peraturan demi peraturan yang dia tulis, dia menulis ribuan peraturan yang ku langgar diatas semua butir debu, hingga aku tak dapat melihatnya degan jelas. Dia menghukumku dengan sejuta bisikan diatas asap tebal hingga aku tak mampu mendengar dengan telingaku. Aku tau dia marah, aku tau dia kecewa, tapi mengapa? mengapa semua kesalahanku harus terumbar diatas debu dan asap? mengapa tak kau tunjukkan saja caraku untuk memperbaikinya? memperbaiki ribuan  bahkan jutaan kesalahanku yang kau ukir dalam butir-butir debu tak bersalah. Mendengar jutaan bahkan miliyaran bisikan yang kau sisipkan diatas apas tebal tak berdosa. Sebut saja salahku! sebut saja nasihatmu! hingga tak ada lagi korban dari debu dan asap tebal yang kau tebarkan dibumi ini. Jangan ada lagi debu dan asap yang memenuhi jalan ini, karena aku rindu jingga. Karena aku rindu hangatnya warna kuning yang bersiap mengeluarkan peluh dan keringat dari tubuhku, bawalah jingga kembali. Bawalah selimut hidupku yang kini menghilang tak berbekas. Aku rindu rona oranye dibawah jingga, rindu melihat ribuan burung terbang kembali ke sangkar. Meskipun dengan kembalinya jingga aku harus kembali hidup dijalan. Aku tak masalah. Jalanan adalah tempat tidurku dan jingga adalah selimut hidupku. Bawalah kembali debu dan asap tebal ini. Mereka tak bersalah,mereka tak berdosa. Aku janji takkan mengulangi kesalahan yang sama, aku janji tak ada penyesalan dan tangisan malam setelah debu dan asap ini pergi. Aku hanya ingin kembali meski aku tak dapat merasakan kehangatan yang seutuhnya, meski aku takkan luput dari kotor dan kedinginan. Aku memang rindu rumah, rumah yang hangat dan tentram serta jauh dari kata kedinginan,tapi itu dulu.  Kini aku merindukan rumah luas berisikan ribuan jiwa yang bernyanyi,berjuang dan bertahan hidup demi sebutir nasi hangat. Aku memang rindu pelukan bunda, yang hangat dan menjanjikan perlindungan, namun itu dulu. Kini aku merindukan ketangkasan dan pembelaan untuk saling melindungi demi bertahan hidup diantara kejamnya polusi udara kota. Aku kini mulai merindukan selimutku, tempat tidurku. Aku janji, takkan mengeluh dan menangis pada malam hari menyesalkan kehendak tuhan yang telah merusak takdir hidupku yang dulu tentram. Maafkan aku, bawalah kembali jinggaku, bawalah kembali debu dan asap tebal tak bersalah ini hingga aku mampu melihat warna-warni besi yang berjalan, melihat indahnya daun hijau yang tumbuh diantara belukar. Bawalah jinggaku, aku rindu ia menjadi selimutku.