Selasa, 31 Desember 2013

Aku Rindu Senja

Apa yang terlintas di pikiranmu saat mendengar kata senja? banyak pendapat tentang senja. Menurutku senja adalah kehidupan,kehidupan kedua setelah kehidupan nyata, senja punya banyak kisah dibalik rona jingganya menuai beragam makna di balik sentuhan lembutnya. Senja selalu membuatku melayang terbang menyentuh gumpalan kapas putih di angkasa merah. Mendengarkan setiap lantunan burung yang terbang melintas, merasakan hangatnya cahaya matahari seakan aku dapat menggenggamnya dan membawanya pulang. Senja.. Untukku kau berarti. Mengukir jutaan siluet wajahnya yang dapat ku nikmati sepanjang sore. Membisikkan hal-hal yang konyol yang mungkin dapat dia dengar. Aku adalah pengaggum senja, senja yang selalu merambat kala hati tatkala harus terbuai akan sinar sendunya, terkadang ketika aku berada di sekitar kampus, aku melangkahkan kaki menuju pucak gedung.Menyapa senja,menikmati alunan merdu sang angin, merasakan belaian hangat sang mentari, menatap setiap siluet yang di ukir oleh jutaan kapas di sana. Sendu. Sangat sendu suasana di kala aku menyapanya,bermain bersama ukiran kapas putih dan angin merdu, berjalan mengitari langit seakan aku akan terbawa oleh burung baik hati yang akan mengantarkanku menemui ratu senja, meminta satu permintaan dan berharap sang ratu akan mengabulkannya. Dari atas senja, aku dapat melihatnya, tertawa,bersenda gurau bersama teman-temannya. Aku rindu senja, rindu akan warna jingganya yang mampu menenangkan jiwa,rindu akan semilir angin yang merdu,rindu akan hangatnya mentari sore, rindu akan gumpalan kapas yang lembut, dan aku rindu saat-saat aku dapat menikmati senja di atas sana bersamamu.

Detik

Detik-detik melaju mengiringi tiap kakiku yang tak pernah berhenti untuk terus melangkah melalui jutaan memori yang memaksa masuk memenuhi ruang pikirku, aku selalu berjalan menemui jalan yang selalu bercabang dengan rambu yang tertera di sekitarnya. Aku selalu melihat gerak-gerik waktu yang hadir di sekelilingku, menatap asing ke arahku yang tak pernah menyapa mereka, yang tak mau mengubar senyum ramah ke arah mereka. Aku selalu mengabaikan waktu yang tak pernah lelah memberiku kenangan demi kenangan di setiap langkahku. Aku tak pernah mau menemani waktu yang selalu menemaniku setiap saat. Detik adalah sahabatku yang terabaikan,tak pernah sekalipun aku mengucapkan terimakasih kepadanya, memberikannya sebongkah kado sebagai pengganti setiap kenangan yang dia berikan padaku selama ini. Aku tak pernah tau, kapan detik akan berhenti memberikan kenangan demi kenangan yang akan selalu hadir di setiap langkahku. Aku tak pernah sadar bahwa aku selalu di pertemukan dengan pelangiku berkat detik. Detik yang selalu menarikku menuju pelangi yang indah,menuju hujan yang sendu dan menuju terang dan gelap yang mampu menemani hari-hariku. Sekarang aku sadar betapa berartinya kau detik,sahabat yang selalu terabaikan. Bahkan aku hidup karenamu,karena tuhan mengizinkanmu untuk tetap berada di sekelilingku. Sekarang aku berada di penghujung tahun, dan aku baru menyadari betapa pentingnya dirimyu yang tak pernah lelah mengumbarkan pahit manisnya kenangan dalam kehidupanku. Jangan marah padaku detik,yang selalu mengabaikanmu,yang tak pernah menyapamu. Ampuni aku detik jangan hentikan detak jantungku,jangan pernah lelah memberikanku kenangan demi kenangan yang akan ku lampaui dengan kaki ini. Detik, malam ini akan di hiasi ribuan kembang api yang seolah mengukir harapan-harapan baru yang akan kau wujudkan di setiap langkah ini. Detik, malam ini jutaan kendaraan akan menghiasi lalu lintas jalan raya seolah ingin mengejarmu tanpa henti. Terimakasih detik kau telah menghadirkan ribuan kenangan untukku, manis pahitnya kenangan itu tidaklah penting, aku selalu menikmati setiap kenangan itu jika aku bersamamu. Karena kau lah aku masih bisa merasakan indahnya awan,menatap senja dan melodi daun hijau yang jatuh karena angin. 

Jumat, 27 Desember 2013

In My Imagination

Semua berawal dari masa remaja yang penuh lika-liku kehidupan,terutama kehidupan cinta. Aku akan mengisahkan tentang seorang wanita yang mempunyai kekuatan lebih dalam dirinya. Seorang wanita yang terlalu lama tenggelam dalam dunia imajinasi yang selalu membuatnya bahagia,membuatnya hanyut semakin dalam seakan tak mau kembali ke dalam dunia nyata. Namun, tak selamanya wanita itu harus terus hanyut semakin dalam ke dalam dunia imajinasinya. Wanita ini aku beri nama "Nona" dan laki-lakinya adalah "Tuan". Suatu ketika nona mengalami jatuh cinta kepada seorang pemuda berparas putih dan tinggi. Pemuda itu begitu memikat hati sang nona, pemuda itu begitu baik,ramah juga tampan membuat sang nona makin terjun ke dalam lika-liku kehidupan cinta,cinta itu terus berkembang seiring perjalanan waktu yang membuatnya begitu mencintai pemuda itu. Waktu berjalan mengitari sang nona yang semakin terjun semakin dalam, sang waktu perlahan menunjukkan siapa sebenarnya pemuda yang teramat tampan dan mempunyai hati sebaik bidadari pagi. Sang nona berusaha keluar dari lubang hitam yang terlalu membawa jauh dirinya dari sang ratu. Di tengah usahanya sang nona bertemu dengan para peri-peri muda yang senantiasa mengiringi jalannya untuk segera keluar dari lubang hitam itu. Diantara semua peri,sang nona seakan menemukan obat yang di dalam pikirannya mampu membuatnya kembali merasakan kebahagiaa, lubang itu seperti hutan gelap yang takkan pernah berujung. Sang nona terus berjalan menyusuri setiap jalan setapak dengar ribuan kerlap-kerlip serbuk para peri, Sang nona perlahan melihat peri yang seakan menjadi obat hatinya menujukkan ada cahaya di balik beberapa pohon tak berdaun, sang nona pergi berjalan menghampiri cahaya itu. Tiba-tiba salah satu peri menarik sang nona membisikkan sesuatu di telinga sang nona, mendengar ucapan peri itu,nona mulai berpikir kembali tentang langkahnya yang mulai menuju cahaya itu, sang nona mengetahui di tengah jalan menuju cahaya itu terdapat lubang berkat salah satu peri. Nona kemudian membelokkan kakinya menuju jalan gelap lainnya,di tengah perjalanan nona bertemu dengan seorang pemuda berparas biasa tetapi selalu membuat nona bahagia,tertawa lepas seakan nona tak pernah terjun ke dalam lika-liku kehidupan cinta. Pemuda itu mengenalkan dirinya sebagai Tuan. Tuan selalu mengiri langkah nona dengan menciptakan berbagai warna di dalam hutan yang amat gelap gulita, suatu hari tuan bertanya kepada nona akan perasaan nona yang tersimpan untuk tua saat ini, dan maukah nona menjadi kekasih tuan yang abadi? Nona melihat warna merah diujung jalan, tak ada satu pun dari para peri yang membisikkan sesuatu tentang cahaya itu tentang rona merah di ujung jalan setapak. Nona mengatakan bahwa apa yang dia rasakan tak bisa dibuktikan melalui kata melainkan sikapnya lah yang selalu menunjukkan apa yang di rasakannya, dia meminta tuan untuk berpikir di setiap perlakuannya terhadap tuan selama ini, dia meminta dengan sangat kepada tuan untuk selalu memperhatikan sikapnya,maka tuan akan mengetahui jawabannya. Tuan dan Nona selalu memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, berimajinasi. Ya tepatnya berimajinasi akan masa depan yang akan mereka lalui diiringi dengan alunan lagu yang di berikan oleh para peri imajinasi itu mengalir bagaikan air yang menemukan muaranya, tuan dan nona mulai membangung imajinasi mereka,berimajinasi bahwa mereka adalah sepasang raja dan ratu dari kerajaan senja, yang memiliki ribuan prajurit awan yang siap menghempaskan jutaan langit kelabu ke dalam dunia kelam, paa prajurit awan yang mereka miliki selalu menciptakan ribuan warna-warni pelangi menghiasi langit senja, memberikan kebahagiaan kepada anak kecil yang percaya akan imajinasinya. Tuan dan Nona juga mempunyai cita-cita, ketika mereka menikah nanti, mereka akan menyulap pesta mereka agar persis seperti kerajaan senja yang selama ini hidup dalam imajinasi mereka. Mereka menginginkan ketika mereka menikah nanti bukan pelaminan yang menjadi tempat bernaung mereka melainkan sebuah kereta kencana awan yang akan mengganti pelaminan mereka. Para peri terlihat bingung akan cerita-cerita imajinasi yang di lantunkan oleh tuan dan nona. Nona pun berinisiatif melakukan perjalanan ke dunia imajinasi mereka, maka sang nona memberi perintah kepada para peri untuk menyatukan kedua tangan mereka membuat sebuah lingkaran tangan dengan mata tertutup, mendengar setiap ucapan sang nona dan mencoba untuk membayangkannya. Sang nona mulai bercerita tentang kerajaan senja beserta ratu dan prajurit awannya. Sang nona mulai menceritakan bagaimana para prajurit melawan awan hitam dan menghempaskanya ke dunia kelam, tak terasa angin pun menerpa mereka yang sedang tenggelam ke dalam dunia imajinasinya, mengagumi setiap lekuk keindahan istana senja berlandaskan awan jingga yang tak terbatas. Sang nona mulai menceritakan bahwa mereka memiliki sayap dan mampu terbang mengelilingi kerajaan senja yang teramat luas. Di dalam kerajaan senja tuan masih menanyakan hal yang sama kepada nona, maka nona memberika tantangan agar tuan selalu memperhatikan setiap tingkahnya dan tuan pun akan mengetahui jawabannya. Nona juga berkata kepada tuan bahwa tuan adalah mentari untuk nona, akan tetapi tuan baru menunjukkan sinarnya sama persis seperti rona merah di ujung jalan setapak yang sedang mereka lalui, tuan harus menunjukkan siapa mentari sebenarnya maka dengan begitu nona akan mengetahui jalan yang harus di laluinya, karena di ujung jalan yang sedang di laluinya terdapat empat jalan, yang pertama adalah jalan menuju lampu jalan di tengah hutan dengan lubang besar di dekatnya, jalan yang kedua adalah hutan gelap tak bercahaya,jalan yang ketiga adalah jalan menuju jurang kehidupan untuk mengakhiri masa - masa nona yang selalu mengahadirkan cinta di hatinya dan yang terakhir adalah jalan menuju mentari. Nona tak tau mana jalan yang harus dia lalui sebelum sang mentari tepat di kepalanya dan menunjukkan jalan yang benar....

Aku

Aku ..
Aku adalah manusia biasa yang sangat mencintai dunia imajinasi,mengukir ribuan bintang malam di langit gelap nan hampa,aku yang membangun kerajaan senja beserta seribu prajutit awan yang akan menghempaskan awan gelap ke dalam dunia kelabu. Aku hanyalah remaja yang mempunyai kehidupan normal di dalam maupun di luar kampus,merasakan setiap sayatan kehidupan yang mampu melumpuhkan jiwaku. Aku adalah nyawa yang mempunyai raga, mampu hidup di hutan gelap tanpa hadirnya cahaya,merasakan pengapnya udara malam tanpa sedikit oksigen. Aku adalah seorang perempuan yang terlalu lama memendam rasa,terlalu dalam tenggelam dalam dunia imajinasi. Menciptakan ribuan panah berlian yang siap menuju pintu hatimu,membunuh ribuan serangga yang mencoba membunuh jiwamu perlahan. Aku mempunyai majikan, majikan yang teramat baik, memberikanku kehidupan sempurna di balik hutan tak bercahaya. Aku selalu melihat cahaya, cahaya kebahagiaan yang mempu terpancarkan lewat jendela yang majikanku buat untuk selalu melihat ke dalam nyawa yang beraga. Aku selalu berimajinasi menciptakan ribuan pelangi di dalam jutaan jendela berpemilik. Melantunkan lagu indah mengiringi jejak lankah mereka. Semua imajinasi ku berjalan menuju lalu lintas kehidupan. Ratu dari kerajaan senja sering menyapa memintaku untuk terus menciptakan ribuan prajurit awan untuk mengusir langit gelap yang menutupi keindahan kerajaan senja. Prajurit senja selalu tersenyum,memintaku menciptakan ribuan warna di langit jingga sebagai penghibur mereka. Angin selalu tertawa menatapku dalam dunia imajinasiku,menemaniku sampai aku selesai mnciptakan kehidupan di atas jingganya langit sore.

Senin, 23 Desember 2013

Matahari,Bulan dan Hujan

Halo mentari! biarkan aku merasakan hangatnya sinarmu sebelum aku merasakan hangatnya sinar mentari lainnya. Aku senang kau datang tapi aku sangat merindukan bulan yang dulu menemani jalanku, aku merasa menjadi bagian dari keindahan malam,menatap dan menghitung ribuan bintang yang tersebar luas di setiap sudut angkasa malam. Aku suka bulan tapi bukan berarti aku tak menyukaimu mentari. Saat kau hadir aku selalu mengharapkan hujan turun di waktu yang sama saat engkau muncul,menciptakan embun di setiap daun dan jendela kacaku,membuatku nyaman dengan denting air yang jatuh membasahi tanah. Bau khas tanah yang basah membuatku terlena akan kesenduan yang terjalin diantara kata. Aku selalu bermimpi akan ada bulan,mentari dan hujan dalam waktu yang bersamaan sehingga keindahan akan senantiasa terlihat di berbagai sisi kehidupan. Aku berjalan mengelilingi roda kehidupan berharap bertemu sang tupai yang akan menuntunku pada kebahagiaan abadi. Namun, itu tak mungkin, aku hanya dapat bercerita lewat kata, mempercayakan semua inginku,harapku pada deret tulisan yang memiliki makna berbeda. Aku bukanlah kupu-kupu yang daapat menemukan kebahagiaanku pada helai indah bunga yang baru saja mekar, aku adalah manusia biasa yang harus dituntun untuk menemukan sendi kebahagiaanku dan menggoreskan jutaan pelangi di atas sana.

Cinta,Kasih dan Jiwa

ku berlari menatap bulan dalam keheningan malam,menghitung jutaan bintang yang bersinar dalam kegelapan, ku menengadah menatap jutaan meteor yang mungkin jatuh sebagai air mata langit dengan sejuta misteri di dalamnya. dapatkah aku menggenggam satu meteor itu dan menaruhnya dalam toples bintang malam yang ku sediakan khusus untuknya. waktu membawaku pergi,tenggelam dalam sepi yang takkan berujung, pada sebuah kertas kaku untuk ku tulis kembali. angin membawa nyawaku melayang menatap indahnya senja,putihnya awan dan kilaunya jutaan bintang yang mulai menghiasi angkasa malam, jutaan lagu berdendang di setiap sendi kehidupan malam, membuatku merindukan bulan yang mungkin sedang bahagia bersama dewi malam. Semua hal tentangnya seakan menjadi bagian dalam hidupku, selalu menjadi alasan di setiap langkahku. Aku selalu bertanya pada ribuan daun hijau yang saling berhimpit tertiup sang angin, menyakan kabar dan sejumlah hal konyol lainnya. Aku selalu menatap putihnya awan membayangkan setiap kejadian yang mungkin sedang dia lakukan jauh di dimensi sana. Aku mengangguminya seperti aku mengaggumi keanggunan sang dewi malam. Aku meresapi setiap tawa candanya seperti aku menikmati hembusan angin seolah dia sedang bernafas di hadapanku,membelai lembut jiwaku dengan jemari lentiknya yang kasat mata. Aku mengayun mendengarkan dendang lagu yang di alunkannya lewat senar gitar yang mengiringi melodi cintanya seakan dia menuntunku,menuntunkuuntuk  tepat berada di depan pintu merah jambu bertuliskan kata "Cinta,Kasih dan Jiwa".

Bulan ku..

Kala aku menangis merindukan bulan yang tak pernah dapat ku gapai,saat itulah aku menyadari betapa indahnya bulan yang selalu menemani malam-malamku. Aku tersenyum menatap gelap malam,yang berhiaskan bundarnya bulan pada malam ini, mengenang jalan lalu yang lama ku arungi bersamanya,tenggelam dalam cahaya indah yang terus mengiringi langkahku. Aku hanyut dalam melodi cinta yang mengalun bagaikan air yang mengalir,menuju satu muara yang tak bertepi. Semua hadir bintang takkan ada artinya tanpamu, tanpa sinarmu yang selalu membuatku terpesona dalam sudut mata hati ini. Aku selalu menyimpan indahmu dalam mimpiku,membawa cahayamu di setiap langkah menuju padang rumput dan meninggalkan hutan gelap berlumpur. Bulan. Ya engkau adalah bulanku. Mengiringi setiap jalan hitamku yang belum memiliki tepi. Duri pun tak mampu memnggoreskan luka saat aku, menatap cerahnya bentuk bundarmu. Saat kau menghilang, aku baru menyadari betapa sakit duri yang menggoreskan luka di lenganku yang mengeluarkan tetesan darah merah yang mampu membuatku menitikkan air mata. Aku pun tersadar ketika kau menghilang dan di gantikan sang mentari, aku baru. Sangat baru menyadari bahwa ketika matahari terbit dan menggantikan posisimu, aku baru  menyadari bahwa aku merindukan sang dewi malam. Selalu ada masa dimana semua terkenang, tentang hadirmu yang selalu mengiringi gelapnya jalanku.

Selasa, 17 Desember 2013

Dan lalu..

Ketika mendengar kata menunggu hatiku terenyuh menahan segala melodi kalbu yang dulu membisu. Dulu aku berjalan diantara pohon besar dan gelap malam, berjalan tanpa alas kaki dengan sinar rembulan sebagai penuntun arahku, semua berlalu pahit,manis dan kecewa ku rasakan dalam satu malam lalu, aku terus mengalunkan langkah membentuk jalan baru lewat kaki kecilku ini, menyusuri hutan gelap yang memiliki banyak keasingan di dalamnya. Aku berjalan berharap akan bertemu mentari dan memetiknya untuk ku bawa pulang. Aku melihat cahaya,cahaya kuning,besar dan terlihat menghangatkan di ujung jalan sana, ku percepat langkah kakiku untuk menemui cahaya itu, namun di tengah jalan ku berhenti sejenak memandangi cahaya hangat itu lebih lama, dalam hati aku merasa takut,takut jika cahaya itu hanyalah sebuah keasingan lain yang hadir di dalam hutan ini, ku menengadah menatap rembulan yang kian meredup meninggalkan aku sendiri di hutan gelap dengan siluetku sendiri, aku pun tak melanjutkan untuk melangkah melaikan ku seret kakiku dengan perlahan, jejak kakiku perlahan menghilang seiring dengan turunnya rintik hujan yang membentuk lumpur hitam seakan menutup jalanku untukku kembali. Perlahan tapi pasti ku seret langkahku satu demi satu kaki,berharap bahwa cahaya itu benar mentari bukan hanya sekedar keasingan lain yang membawa kebahagiaan sementara untukku, kakiku terhenti untuk tetap menyeret langkah ini satu demi satu,aku melihat seekor tupai yang berbisik ke arahku membuatku mempertimbangkan segalanya "bertahan atau berjuang" kata-kata itu yang mungkin membuatku mempikirkan segalanya mulai dari awal lagi. "digenggam atau dilepas" itu adalah pilihan tersulit untukku lalui, tupai itu kemudian menghilang meninggalkan aku sendiri dengan jutaan tanda tanya di sekeliling otakku. Aku yakin. Sangat yakin bahwa cahaya itu adalah mentari tapi bagaimana bila cahaya itu hanyalah sebuah lampu jalan yang hadir menengahi gelap malam? Ia hanya bisa bertahan dalam hitungan jam! Tak membawa kebahagiaan seutuhnya. Rembulan pun kian meredup. Aku pun bertekad apapun cahaya di ujung jalan sana mungkin itu adalah jalan yang harus ku lalui, sekalipun cahaya itu adalah cahaya lampu jalan yang hanya mampu memberikan sinar kebahagiaan untuk sementara. Setidaknya aku merasa bahagia diantara hutan gelap yang memiliki sejuta misteri di dalamnya.

Senin, 16 Desember 2013

Waktu ku

Aku berdiri diatas segenap sepi yang mulai tak bermentari menatap indahnya bianglala yang terpampang jelas di atas langit jingga. Aku berbisik pada kicau burung yang mendekat berharap mereka menghantarkan pesan pada tuhan tentang semua permintaan maafku yang selalu kulakukan. Aku takkan henti mencaci dan membenci lumuran dosa melekat erat di setiap inci sendi tubuhku ini. Gerimis kecil mulai membasahi dahi tak tertahankan bulir air mata pun ikut jatuh menjelma menjadi gerimis kecil yang tak berdosa. Nadiku berbicara tentang perlakuan yang selama ini ku lakukan. Aku menjerit meluapkan segala kekecewaan yang selama ini ku alami. Aku tau ini adalah ganjaran yang harus ku terima untuk mengahpuskan kawat dosa yang menjerat erat tubuhku. Tak ada berarti bulir air mata yang jatuh membasahi pipi menjelma menjadi ribuan rintik hujan. Terlihat jelas sang mentari yang bersembunyi dibalik arak awan putih perlahan mulai tenggelam meninggalkan berkas cahaya sendu yang tergantikan oleh gelap. Gelap kini datang tanpa pasukan sejuta bintang dan sang ratu malam. Aku mendesah pilu meratap kisah suram yang selalu membuatku bertekuk gugup. Angin menerpa bulir-bulir air mata yang tetap membasahi pipi seolah mengatakan bahwa air mataku hanyalah sia-sia. Takkan ku merasakan indahnya alam nanti jika aku hanya mengejar alam kini. Jejak langkahku pun berubah menjadi jejak lumpur yang tak memiliki bentuk, merata dengan lumpur yang lainnya. Sinar sendu memancar dari kedua jendela hatiku berusaha untuk tetap bersalah dan memendam kekecewaan yang mendalam pada diriku. Hembusan nafasku terasa berat seakan aku bernafas pun salah, seakan aku tak mampu untuk menopang tubuh ini lebih jauh dari jalan yang kini sedang ku tempuh. Derai darah yang mengalir dalam nadi ini pun seakan mulai terhenti, tak mengizinkanku kembali meratapi kesalahan yang selama ini ku iris. Aku mulai berbisik pada siput yang berjalan lemah di sampingku berharap dia menuliskan jutaan maafku untuk tuhan yang selalu baik kepadaku. Aku berbisik pada rintik hujan berharap mereka mengatakan pada tanah basah untuk menyampaikan kekecewaanku pada diriku agar sampai pada tuhan lewat harum khasnya. Badanku terasa lebih dingin tak ada lagi kehangatan serta keceriaan yang dulu ku tampilkan. Sekarang hanya dingin dan kesendirian yang mampu memenuhi relung jiwa ini. Ampuni aku tuhan bila aku tak mampu lagi menopang tubuh ini,izinkan aku beristirahat di bawah pohon rindang beramaikan kicauan burung kecil,mencium aroma khas dari tanah basah yang mampu mengiringi kepergianku, izinkan rumput-rumput hijau mengalun sebagai tanda waktuku telah habis untuk meneruskan perjalanan ini. Aku tak mampu lagi untuk melangkah, tak mampu lagi untuk menghirup udara segar dari pohon hijau berhiaskan sarang. Izinkan aku bermimpi tanpa henti dalam dekap hangat cahayamu hingga aku terbangun kembali nanti.

Rabu, 11 Desember 2013

Semestinya

Alam bermandikan milyaran air di bawah sorot daun yang bermentari,  semua sibuk dengan aktifitasnya, hanya aku yang terdiam disudut ruang putih tak berjendela. Hanya deru keramaian yang ku dengar,hanya raut wajah bahagia yang terpancar dari mereka,dan aku hanya bisa melihat itu. Sepercik rasa iri menyelimuti mengais sisa  kebahagiaan yang dulu pernah terjalin. Sungguh ironi kisahku, menemukan kebahagiaan orang lain namun tak mampu menemukan kebahagiaanku sendiri. Hanya pelampiasan hitam yang tak mampu perlihatkan,hanya kesunyian yang menjadi teman melodi saat ini,esok dan mungkin selamanya. Hanya selembar kertas putih yang tersedia di hadapanku tanpa sebuah pena hitam yang mampu mengisi lembaran kaku itu. Semua bertanya apa yang terjadi sehingga aku membisu tak mengeluarkan sederet kata yang biasa ku lakukan,aku pun tak mengerti apa yang ku alami,aku hanya lelah. Lelah merasakan kesendirian,lelah merasakan kesakitan,dan lelah mengeluarkan tangisan. Aku jenuh. Mungkin ini saatnya aku melepaskan semua kenangan indah yang pernah tercipta,mungkin ini saatnya aku melupakan kisah hati misterius yang tak berujung pada sebuah kisah indah. Ini titik jenuhku,ini titik lelahku. Mungkin semua harus ku akhiri,mungkin semua harus ku hindari hingga luka yang lalu dapat mengering dan bersinar kembali. Jika aku mengakhiri semua,semua sudah jelas aku mengakhiri sebuah perasaan yang belum terealisasikan, yang belum menemukan pintu masuk ke dalam ruang putih berselimutkan asap cerah. Kini biarlah semua berlalu,berakhir sebagaimana mestinya ketika semua berawal.

Senin, 09 Desember 2013

The truth

Gemericik air tak henti-hentinya menetes dari atap yang beralaskan seng berbentuk gelombang, semua terasa berbeda. Malam ini memang terasa berbeda dengan ditemaninya musik digital yang sedang mengalun di pelataran kantin yang sudah tak bermentari. Malam ini hanya ada gemericik air dan sentuhan lembut sang angin yang berusaha singgah menyejukkan hati yang sudah berlandaskan api cemburu. Alunan musik pun tak mampu memadamkan api ini. Senyum di bibir ini hanya menjadi hiasan sementara yang enak dipandang. Aku tau keadaan kamu saat ini aku pun mencoba menghindari hal yang bisa ku mengerti dari hatimu. Jika kamu bertanya mengapa aku sangat meyakini bahwa saat ini kita sama, aku hanya bisa menjawab aku merasakan getaran yang tak biasa jika aku melihat sorot matamu, seperti ada percikan listrik yang menyadarkanku, bahwa kamu adalah obat untuk rasa sakitku selama ini. Jika kamu berkata aku terlalu berlebihan, mungkin iya aku sangat berlebihan. Tapi ketahuilah semua yang berlebihan ini adalah hal yang selama ini aku rasakan,aku hanya mampu menggoreskannya dengan tinta hitam yang membentuk sebuah kata. Aku tak sanggup untuk menahan gejolak dada yang begitu berderang saat aku mengeluarkan sepatah kata denganmu. Aku tak bisa jika melawan debaran kencang yang berusaha berontak dari dalam dada saat aku berada disekitarmu. Aku selalu menyembunyikan semua hal ini tapi entahlah sepertinya mereka membaca gerak-gerikku yang tak biasa terhadapmu, bukan aku tak mau memulai namun aku hanya belajar dari masa lalu yang membawaku pada kesakitan yang teramat dalam. Aku hanya tak ingin salah memberikan perasaan ini, aku belum siap untuk melihatmu pergi. Terlalu cepat. Ya memang . Tapi siapa yang mampu membaca perasaan ? Siapa yang mampu menahan benih yang terlanjur disebarkan dalam ladang ini? Haruskah aku tetap pada bulanku meskipun aku mengetahui bahwa kau adalah matahariku. Haruskah ? Kau sudah tau semua tentangku tapi sampai kapan kau merahasiakan dirimu yang sesungguhnya dari harapanku?

Rabu, 04 Desember 2013

Rindu

Hari ini langit tak ceria seperti biasanya,tak ada rona jingga diantara kelabu, semua hanya terlihat hitam dengan sedikit warna putih,angin berhembus menerpa ribuan helai daun yang terjajar rapi di ranting. Perlahan angin yang berhembus membawa butir air bening yang menyejukkan, semakin lama butiran air memanggil kawanannya, tak ada satupun kicau burung yang terdengar,semua kembali ke dalam sarang hangatnya menjaga telur-telur muda yang belum menetas,menjaga telur-telurnya dari raungan sang mangsa. Aku melihat gerak-gerik sang burung yang sibuk menutupi tiap lapisan telur yang ada. Rintik hujan kembali datang membuat genangan air di sela-sela jalan beraspal. Sayup-sayup terdengar dendang lagu pedih beriringan dengan petikan gitar yang selaras membuat sendu hati ini seketika. Aku rindu suara dendang lagu yang mengalun dari bibir manismu,aku rindu mendengar petikan gitar yang kau mainkan. Andai aku bisa mengutarakannya seperti hujan yang mengutarakan rindunya pada langit hitam,andai aku bisa menunjukkan rasa ini seperti burung yang menyelimuti telurnya dengan kedua sayapnya.

Hai kamu~

Hai kamu..
Tau apa yang sedang aku pikirkan saat ini ? Tau apa yang aku rasakan hari ini ? Aku sedang memikirkan kamu,aku sedang merasakan indahnya saat duduk berdua denganmu diiringi jatuhnya ribuan rintik hujan tak bertepi diiringi petikan gitar dan alunan lagu yang kau nyanyikan. Aku terbuai,melayang dalam anganku. Hari ini aku tak melihat indahnya senja juga tak melihat festival awan yang membuatku terpukau. Hari ini indahnya senjaku melekat pada jiwamu dan festival awan yang dulu membuatku terpukau sekarang hadir di jendela matamu. Tak perlu aku jalan menjauh mengikuti jejak hujan menuju senja yang hanya tampak di angan,tak perlu aku terbang mengikuti panggilan sang angin utuk melihat festival awan yang selalu membuatku rindu. Aku hanya perlu mengikuti jejakmu untuk bertemu senjaku,aku hanya perlu terbang mengikuti alur nafasmu untuk melihat festival awan yang selalu membuatku rindu.

Hai kamu~

Hai kamu..
Tau apa yang sedang aku pikirkan saat ini ? Tau apa yang aku rasakan hari ini ? Aku sedang memikirkan kamu,aku sedang merasakan indahnya saat duduk berdua denganmu diiringi jatuhnya ribuan rintik hujan tak bertepi diiringi petikan gitar dan alunan lagu yang kau nyanyikan. Aku terbuai,melayang dalam anganku. Hari ini aku tak melihat indahnya senja juga tak melihat festival awan yang membuatku terpukau. Hari ini indahnya senjaku melekat pada jiwamu dan festival awan yang dulu membuatku terpukau sekarang hadir di jendela matamu. Tak perlu aku jalan menjauh mengikuti jejak hujan menuju senja yang hanya tampak di angan,tak perlu aku terbang mengikuti panggilan sang angin utuk melihat festival awan yang selalu membuatku rindu. Aku hanya perlu mengikuti jejakmu untuk bertemu senjaku,aku hanya perlu terbang mengikuti alur nafasmu untuk melihat festival awan yang selalu membuatku rindu.

Selasa, 03 Desember 2013

Langit

Di sini langit gelap, awan pun tak menampakan putihnya kapas angkasa, tak terbendung lagi banyaknya tumpahan air yang jatuh dari langit seperti suasana hatiku yang menderu, membendung segala kekecewaan yang tak dapat ku lukiskan di langit yang hitam, mengukir sebuah warna yang dapat menggantikan awan kelabu. Semua pelangi pergi, seiring memudarnya warna jingga di hatiku, kemarin semua warna berlabuh di hatiku, meskipun langit gelap berkabut tapi pelangi pun tetap hadir di sekelilingku. Tapi kini pelangi itu pergi dan kabut pun semakin mempertebal cuaca hari ini, kini warna itu memudar di gantikan kalbu yang menghitam. Aku tak bersuara,tak mengoceh seperti celotehnya burung merpati, aku hanya diam bergelut rasa amarah yang mampu menembus dinding rasa berhiaskan pelangi,menghitamkan semua langit yang tak bertepi.

Minggu, 01 Desember 2013

Halo Desember!!

Halo Desember!
Malam ini aku di sambut jutaan air mata bidadari yang menangis bahagia. Bahagia karna Desember telah hadir. Bulan terakhir dari semua bulan yang hadir. Bulan terakhir yang selalu membawa keceriaan yang terukir. Manis. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan suasana malam ini, mendengar suara musik jazz yang mengalun dari alat musik yang khas menambah merdu malam ini. Malam ini spesial karna hujan hadir mengiringi gelak manis kata yang terlantun dalam irama sendu. Malam ini sempurna hanya satu yang tak sempurna, potongan cinta ini belum sempurna. Belum ada sepotong kue manis yang mampu menutupi setengah potongan ini. Tabir coklat telah terlena oleh panasnya rasa. Rasa rindu yang tersampaikan oleh jutaan not yang kini hadir memenuhi gendang telingaku. Malam ini indah tapi akan lebih indah bila kamu dapat hadir di sini menggerakan kedua kaki mengikuti irama yang hadir. Andai kamu di sini menikmati cuaca sendu bermandikan sejuta lagu. Hitam. Memang malam ini semua terasa hitam. Hitam yang manis melebihi coklat batang yang dijajarkan penjualnya. Aku hanya bisa mengandai,mengandaikan semua hal manis yang akan kita lalui suatu saat nanti. Aku memang hanya bisa bermimpi, memimpikan jutaan rindu yang akan singgah membentuk sebuah pelangi malam berhiaskan limpahan bintang. Jiwa ini menari mengikuti lenggok sang irama tapi hati ini tetap menunggu, menunggu hadir mu yang merubah semua hal gelap menjadi jutaan warna indah yang membahagiakan hingga air mata tak sanggup aku tahan dikedua kelopak mataku, aku tersenyum menantikan bintang bermandikan cahaya rembulan tapi aku sadar itu tak mungkin karna bidadari di sana sedang menangis melihat langit bersedih.

Kamis, 28 November 2013

Gelisah

Di sini ramai. Sangat ramai. Namun suasana hatiku pun tak juga membaik, entah apa yang merasuki jiwa ini. Entah bagaimana kegelisahan ini masuk ke dalam raga ini, merenggut semua kebahagiaan yang mulai bersemi dalam taman hati ini. Jiwa ini di selimuti kalbu dan berubah menjadi kelabu. Dimana pelangi yang beberapa saat lalu hadir ? Dimana bunga-bunga yang mekar dan memiliki warna yang indah? Kemana perginya mentari? Mengapa hujan selalu datang mengiringi kegelisahan yang gelap dan dingin? Akankah sinar mentari datang menggantikan dinginnya hujan ? Akankah pelangi hadir saat hujan menghilang? Aku rindu hadirnya mentari,aku rindu warna-warni pelangi,aku rindu melihat mekarnya bunga yang memiliki warna indah. Aku bosan dengan warna kelabu,aku bosan dengan dinginnya dunia ini. Petikan gitarpun mengiringi jelajahan jemari yang terbuai akan manisnya kata. Bintang malam ini bintang hadir menertawakan kegelisahan yang menguak anganku, malam ini rembulan menampakkan sinarnya menujukkan bentuknya yang bundar tak bertepi. Dendangkan lagu pedih pengiring duka yang t'lah lama hadir,pergilah kelabu bersama gelak tawa mereka,bersama candaan renyah yang mereka lontarkan. Datanglah pelangi warnai hariku kembali, sambutlah mentari hangat yang mulai menyelimuti hati ini. Bunga mekarlah susun irama cinta di setiap langkahku di setiap lentiknya mata yang berkedip. Datanglah dan hadirkan kebahagiaan baru untukku kini,esok dan nanti.

Rabu, 27 November 2013

Irama Hati

Sinar mentari menyorot ke wajahku, tenang dan bersinar. Aku terdiam mendengar celoteh dari orang-orang sekeliling, berdiri menikmati hembusan angin dan festival awan yang menakjubkan. Warna langit berubah seiring datangnya warna kelabu. Andai kau di sini menyaksikan festival awan senja bersama. Andai kau bisa menatap langit bersamaku di sini melihat sang mentari redup dan terlelap di pangkuan langit. Suara berderu membuat senja ini ramai, tapi itu semua takkan lama seiring denting waktu berjalan suara deru itu pun perlahan akan menghilang. Andai kita bisa menyanyikan sebuah lagu,sebelum sang mentari terlelap dalam mimpinya. Andai kamu dan aku telah menjadi kita. Andai kita dapat menyusun irama senja dalam sebuah melodi hati yang takkan bisa berakhir. Ah.. Aku hanya bisa beranda, suatu saat nanti cinta yang ku sembunyikan di balik cahaya mencari dan di balik melodi angin akan bersatu menciptakan sebuah irama cinta yang selaras dengan petikan gitarmu akan terkuak menuju pintu hatimu yang terbuka. Awan kelabu perlahan menutupi sinar mentari, seakan menyiapkan selimut agar sang mentari dapat terlelap dalam mimpinya. Akankah sang mentari akan memimpikan hal yang sama denganku? Dapatkah angin datang dan berbisik kepada hatimu sedikit saja memberitahukan bahwa aku. Disini. Mencintaimu...

Selasa, 26 November 2013

Ketika..

Ketika semua perjalanan yang ku tempuh menemukan tempat istirahat sejenak dan menemukan kebahagiaan di dalamnya dan semua itu harus hancur hanya karna satu keegoisan yang tak pernah memandang kebutuhan. Perjalanan yang ku tempuh bagaikan sebuah perjalanan menuju bukit yang teramat dekat dengan langit. Di sana aku akan menemukan kebahagiaan tanpa akhir, namun apalah daya raga ini terlalu lelah untuk meronta,menangis dan memohon. Hanya diam seribu bahasa yang dapat ku lontarkan, tak ada lagi senyuman manis di hadapannya saat ku menatap kembar bola mata itu. Sunyi. Dingin. Emosi. Hanya itu yang tersembunyi di balik kerangka tubuh ini. Takkan ku tawarkan harga ini pada keturunanku nanti. Takkan. Aku hanya ingin melihat mereka tertawa dan tersenyum saat menatap dua jendela hati ini. Aku hanya ingin menghapus bulir air mata di kedua belah pipinya yang halus. Tanpa ada perlawanan,tanpa ada keegoisan. Hanya kasih sayang dang cinta tulus yang aku selipkan di antara banyaknya anak rambut yang tumbuh di kepalanya. Hanya perhatian yang akan ku dendangkan di setiap tapak kakinya. Agar suatu saat nanti,saat senja menjemputku. Aku hanya bisa tersenyum bahagia di atas bulir air yang mereka keluarkan untukku. Aku ingin terus menghapus bulir air yang jatuh itu namun suatu hari nanti mereka akan mengerti apa arti senja dan senyum kebahagiaan yang aku suguhkan untuk mereka. Mereka akan tahu. Tapi nanti. Saat mereka telah menemukan kebahagiaan mereka dalam perihnya kehidupan ini.

Minggu, 24 November 2013

Aku

Aku berdiri terdiam di atas sepi berlandaskan perih yang selalu menyayat hati,semilir angin yang berhembus amat kencang seolah membawa duka lama yang teramat pedih. Di atas sini ku tundukkan kepalaku melihat banyaknya kendaran yang berlalu lalang mengusir sepi,seperti layaknya mereka berlalu lalang di kehidupanku berusaha menciptakan warna biru setelah kelabu di hari-hariku tapi entahlah hatiku tak tersentuh dengan warna-warni yang mereka ciptakan di hidupku,aku hanya menikmati warna kelabu yang begitu kontras dengan warna-warni dunia di luar sana. Sesekali aku hanya menoleh dan tersenyum pada warna-warna itu seolah aku terhibur dengan kehadirannya. Miris. Memang semua warna kelabu yang hadir memang membuatku terlihat miris, seperti mengejar namun aku hanya bisa diam. Terlihat bahagia namun aku hanya merasakan sepi. Harus bagaimana ku menyikapi keluhan hati ini, tak ada ramuan yang mampu mengusir mendungnya hati ini,tak ada warna selain kelabu, tak ada mentari selain hujan. Berdiri,terdiam,dan memejamkan mata menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahku, berdoa ketika aku membuka mata hanya warna-warni kehidupan di luar yang aku lihat,berharap agar warna kelabu yang selama ini menjadi selimut hatiku hilang untuk waktu yang lama. Aku tak mengharapkan sinar matahari tampak dan menghangatkan hatiku yang beku seolah mati. Aku hanya ingin membuka mata dan melihat pelangi setelah hujan datang.

Senja

Senja yang selalu datang sesuai jadwal membuatku selalu menunggu,menunggu untuk menikmati warna-warni di kala sang mentari redup,menikmati hembusan angin sendu yang selalu mengantarku pada kenangan lama yang selalu membuatku terbuai manja. Awan yang berarak menghias langit senja menambah sendu cuaca senja ini. Pandanganku kelabu hanya menatap jutaan pohon di bawah sana,hanya menatap gedung-gedung tinggi yang tak rapi. Hembusan angin tak henti-hentinya menjalin rasa dengan jiwa ini membuat pikiranku terbang melayang jauh ke angkasa seakan mengiringi sang mentari tidur lelap di pangkuan ratu langit. Dekapan lembutnya membuatku selalu merindu akan sosoknya yang nyata. Ranting pohon bergerak seakan menyesuaikan dengan irama hatiku detik ini. Tak menentu. Warna-warni lampu di bawah sana menambah ramai senja ini. Akankah angin mengantarkan cintaku padamu agar   kau tau betapa besar cinta ini ku sembunyikan di balik sinar mentari yang selalu menampakkan senyum pada dunia. Akankah hangatnya senyum mentari akan sampai kepadamu dan berbisik pada hatimu bahwa di balik senyumnya mentari tersimpan rasa cintaku yang teramat besar untukmu.

Jumat, 22 November 2013

Bintang

Aku terdiam duduk di atas semen yang sudah mengering menatap langit tak terpancarkan sinar mentari,langit telah gelap menampakkan siluet pink keunguan. Mataku mencari,mencari  satu titik dimana titik itu memancarkan sinar yang paling terang untuk menghias langit malam. Titik itu adalah bintang,bintang yang aku asumsikan sebagai kamu,kamu yang baru saja datang langsung menyusup masuk ke dalam kehidupanku yang penuh dengan sandiwara,kau datang dan memberikan satu bintang yang paling terang. Bintang yang selalu memaksaku untuk tersenyum di kala malam menjelang di kala mata terlalu berat untuk tetap terjaga. Kau yang tak menentu membuat hari-hariku terasa gelisah. Aku terus mempertanyakan hal yang sama berulang kali kepada diriku. Apakah kamu mempunyai hal yang sama untuk di bagikan? Apakah kamu selalu mengenang kejadian yang baru saja terjadi di kala mimpimu belum datang? Apakah harimu terasa gelisah dikala sikapku yang membuatmu ragu untuk membuka lebar pintu cintamu? Jika ya, maka kita sama-sama mempunyai hal sama untuk di bagikan. Hal yang mampu kita rangkai menjadi sebuah istana megah berhiaskan bintang di atapnya. Jika ya,maka kita mampu untuk membentuk istana baru untuk mengabadikan momen dimana kita akan selalu bersama.

Rabu, 20 November 2013

Debu

Cinta..
Cinta tak pernah salah tapi aku yang salah,aku mencintai orang yang salah dan di waktu yang salah,aku mencintai orang yang tak mengerti apa itu cinta,aku mencintai orang yang menganggap cinta hanyalah segenggam debu,debu yang tak terlihat namun terasa,buatku cinta bukanlah segenggam debu namun sebuah berlian yang tersayat teramat kecil dan tertimbun tumpukan debu,tak nampak namun sangatlah berarti. Mungkin dia tak bisa melihat cinta,tapi aku bisa. Aku bisa melihat cinta di matanya saat dia menatap wanita yang berdiri di hadapannya,aku bisa melihat cinta di setiap jemarinya yang menggenggam lembut tangan wanita itu. Aku bisa. Bisa melihat cinta di mata mereka yang sedang jatuh cinta. Cinta ibaratkan permainan,yang harus di kalahkan atau luka menindas hati dan meninggalkan bekas untuk waktu yang teramat lama. Cinta memang debu namun tak seperti debu biasanya, debu ini akan tetap ada sekalipun lidah mengelaknya sekalipun api membakarnya. Debu itu selalu membawa kerinduan lama kerinduan yang teramat menyanyat. Menyakitkan. Namun selalu kurindukan

Embun

Cinta yang tumbuh berasal dari setitik embun yang jatuh.. Berawal dari sebuah kisah yang tak di sengaja namun berkesan.. Bersemai bagai api yang membakar seluruh dinding hati dan melebur semua kerinduan yang tlah lama berkerak di dasarnya .. Namun duri yang bertebaran di luasnya jalan setapak membuatku takut untuk melangkah.. Datanglah tuntun aku melangkah melewati semua duri itu demi kerinduan baru yang kau ciptakan.. Ciptakan memori indah bersamamu dalam memori baru yang belum usang.. Ajari aku cara untuk berjalan di jalan berduri, agar bisa menggapai anganmu.. Agar bisa terbang bersama balon udara yang telah kau ciptakan untuk mengajakku mengelilingi indahnya cinta yang kita ciptakan bersama..

Haiii..

Halooo semuaaa udah lama gak ngepost di blogger ini yah :') karena kemarin-kemarin terjadi kegalauan yang amat memuncak dan moodboster buat nulis bloggernya juga udah pergi bersamanya yasudahlah blogger jadi gak keurus mihihi :3 tapi sekarang mau nulis blogger lagi nih dengan kosakata baru dan penyajian baru nanti di bandingkan ya dengan tulisan masa SMA bagusan yang manaaa haha :p sekarang kan aku sudah melepas seragam dan jadi mahasiswi seutuhnya haha =)) sering-sering cek blogger aku ya bakal ada kata-kata cinta yang menggelitik dan kocak dijamin nusuk wkwk udah kaya promosi yah :') garing yah :") yaudah deh welcome back for meee !! Selamat menikmati tulisan dari rara yang baru yah :* ({})

Kamis, 11 April 2013

Bruno Mars - It Will Rain

If you ever leave me baby,
Leave some morphine at my door
‘Cause it would take a whole lot of medication
To realize what we used to have,
We don’t have it anymore.

There’s no religion that could save me
No matter how long my knees are on the floor
So keep in mind all the sacrifices I’m makin’
Will keep you by my side
Will keep you from walkin’ out the door.


Cause there’ll be no sunlight
If I lose you, baby
There’ll be no clear skies
If I lose you, baby
Just like the clouds
My eyes will do the same, if you walk away
Everyday it will rain, rain, rain...

I’ll never be your mother’s favorite
Your daddy can’t even look me in the eye
Oooh if I was in their shoes, I’d be doing the same thing
Sayin there goes my little girl
Walkin’ with that troublesome guy

But they’re just afraid of something they can’t understand
Oooh well little darlin’ watch me change their minds
Yeah for you I’ll try I’ll try I’ll try I’ll try
I’ll pick up these broken pieces ’til I’m bleeding
If that’ll make you mine

Cause there’ll be no sunlight
If I lose you, baby
There’ll be no clear skies
If I lose you, baby
Just like the clouds
My eyes will do the same if you walk away
Everyday it will rain, rain, rain...


Don’t just say, goodbye
Don’t just say, goodbye
I’ll pick up these broken pieces ’til I’m bleeding
If that’ll make it right


Cause there’ll be no sunlight
If I lose you, baby
There’ll be no clear skies
If I lose you, baby
Just like the clouds
My eyes will do the same if you walk away
Everyday it will rain, rain, rain...

Sabtu, 06 April 2013

KAMU



Menatap hujan 
Dalam sepi.. 
Membuatku masuk 
Dalam lembaran lalu
Lembar demi lembar 
Dimana dirimu menjadi cerita utama..

Semua tingkahmu..
Tawamu..
Candamu..
Seyummu..
Masih sangat jelas tergambar..

Kata demi kata..
Kau rangkai menjadi sebuah nasihat
Kalimat demi kalimat..
Kau sambung menjadi motivasi

Tali yang kau ulurkan
Sekarang ku genggam dengan erat
Tapi mengapa?
Mengapa kau renggangkan tali itu

Kau seperti malaikat
Yang selalu baik
Menebarkan kebahagian
Dalam relung ini

Kau bangkitkanku
Dalam kegelapan
Kau ubah tangisku
Menjadi senyum terindah

Kini ku tau..
Kau di ciptakan untuknya
Bukan untuk ku miliki..

Tuhan..
ENGKAU sangat baik
Mengutusnya untukku
Untuk menjadi malaikatku
Walau hanya sesaat..

Tuhan..
Lihatlah dia
Betapa bahagianya dia..
Bersama malaikat lainnya
Yang kau kirim
Untuk membahagiakan hatinya




Rabu, 20 Februari 2013

Cinta dan Takdir

Seiring dengan gugurnya daun
Mata ini tak henti mengeluarkan embun
Sepanjang kaki melangkah
Hati ini tak juga berhenti gundah

Pernahkah ada kesempatan untukku
Untuk merasakan cinta dari belaian tangannya
Mengapa aku tak bisa menentukan takdirku
Untuk bisa menentukan siapa jodohku

RencanaMu membuatku
S'lalu mengubur harapan
LangkahMu s'lalu membuatku
Menyimpan tangis dalam kalbuku

Tuhan tolong jaga dia
Berikan dia kebahagiaan
Yang selama ini
Selalu dalam anganku

Selasa, 01 Januari 2013

Malam

Warna kembang api
Senantiasa
Mewarnai amalam ini

Hujan yang turun
Senantiasa
Menyejukkan malam ini

Suara trompet
Senantiasa
Meriahkan malam ini

Andai kau di sini
Menatap indahnya
Warna warni api
Di langit malam
Bersamaku

Andai kau di sini
Ikut mewarnai
Di saat-saat terakhir
Habisnya tahun ini

Pernahkah
Terlintas di benakmu
Kita hadir untuk mewarnai
Indahnya malam
Bersama

Menatap dan
Menghitung
Berapa banyak bintang
Yang menghiasi malam ini

Adakah satu kesempatan
Untukku melewati dan
Merasakan indahnya malam
Di pundakmu

Malam ini
Sangat berarti untukku
Begitu juga kamu
Yang sangat berarti
Untuk kehidupanku