Selasa, 31 Desember 2013
Aku Rindu Senja
Detik
Jumat, 27 Desember 2013
In My Imagination
Aku
Senin, 23 Desember 2013
Matahari,Bulan dan Hujan
Cinta,Kasih dan Jiwa
Bulan ku..
Selasa, 17 Desember 2013
Dan lalu..
Ketika mendengar kata menunggu hatiku terenyuh menahan segala melodi kalbu yang dulu membisu. Dulu aku berjalan diantara pohon besar dan gelap malam, berjalan tanpa alas kaki dengan sinar rembulan sebagai penuntun arahku, semua berlalu pahit,manis dan kecewa ku rasakan dalam satu malam lalu, aku terus mengalunkan langkah membentuk jalan baru lewat kaki kecilku ini, menyusuri hutan gelap yang memiliki banyak keasingan di dalamnya. Aku berjalan berharap akan bertemu mentari dan memetiknya untuk ku bawa pulang. Aku melihat cahaya,cahaya kuning,besar dan terlihat menghangatkan di ujung jalan sana, ku percepat langkah kakiku untuk menemui cahaya itu, namun di tengah jalan ku berhenti sejenak memandangi cahaya hangat itu lebih lama, dalam hati aku merasa takut,takut jika cahaya itu hanyalah sebuah keasingan lain yang hadir di dalam hutan ini, ku menengadah menatap rembulan yang kian meredup meninggalkan aku sendiri di hutan gelap dengan siluetku sendiri, aku pun tak melanjutkan untuk melangkah melaikan ku seret kakiku dengan perlahan, jejak kakiku perlahan menghilang seiring dengan turunnya rintik hujan yang membentuk lumpur hitam seakan menutup jalanku untukku kembali. Perlahan tapi pasti ku seret langkahku satu demi satu kaki,berharap bahwa cahaya itu benar mentari bukan hanya sekedar keasingan lain yang membawa kebahagiaan sementara untukku, kakiku terhenti untuk tetap menyeret langkah ini satu demi satu,aku melihat seekor tupai yang berbisik ke arahku membuatku mempertimbangkan segalanya "bertahan atau berjuang" kata-kata itu yang mungkin membuatku mempikirkan segalanya mulai dari awal lagi. "digenggam atau dilepas" itu adalah pilihan tersulit untukku lalui, tupai itu kemudian menghilang meninggalkan aku sendiri dengan jutaan tanda tanya di sekeliling otakku. Aku yakin. Sangat yakin bahwa cahaya itu adalah mentari tapi bagaimana bila cahaya itu hanyalah sebuah lampu jalan yang hadir menengahi gelap malam? Ia hanya bisa bertahan dalam hitungan jam! Tak membawa kebahagiaan seutuhnya. Rembulan pun kian meredup. Aku pun bertekad apapun cahaya di ujung jalan sana mungkin itu adalah jalan yang harus ku lalui, sekalipun cahaya itu adalah cahaya lampu jalan yang hanya mampu memberikan sinar kebahagiaan untuk sementara. Setidaknya aku merasa bahagia diantara hutan gelap yang memiliki sejuta misteri di dalamnya.
Senin, 16 Desember 2013
Waktu ku
Aku berdiri diatas segenap sepi yang mulai tak bermentari menatap indahnya bianglala yang terpampang jelas di atas langit jingga. Aku berbisik pada kicau burung yang mendekat berharap mereka menghantarkan pesan pada tuhan tentang semua permintaan maafku yang selalu kulakukan. Aku takkan henti mencaci dan membenci lumuran dosa melekat erat di setiap inci sendi tubuhku ini. Gerimis kecil mulai membasahi dahi tak tertahankan bulir air mata pun ikut jatuh menjelma menjadi gerimis kecil yang tak berdosa. Nadiku berbicara tentang perlakuan yang selama ini ku lakukan. Aku menjerit meluapkan segala kekecewaan yang selama ini ku alami. Aku tau ini adalah ganjaran yang harus ku terima untuk mengahpuskan kawat dosa yang menjerat erat tubuhku. Tak ada berarti bulir air mata yang jatuh membasahi pipi menjelma menjadi ribuan rintik hujan. Terlihat jelas sang mentari yang bersembunyi dibalik arak awan putih perlahan mulai tenggelam meninggalkan berkas cahaya sendu yang tergantikan oleh gelap. Gelap kini datang tanpa pasukan sejuta bintang dan sang ratu malam. Aku mendesah pilu meratap kisah suram yang selalu membuatku bertekuk gugup. Angin menerpa bulir-bulir air mata yang tetap membasahi pipi seolah mengatakan bahwa air mataku hanyalah sia-sia. Takkan ku merasakan indahnya alam nanti jika aku hanya mengejar alam kini. Jejak langkahku pun berubah menjadi jejak lumpur yang tak memiliki bentuk, merata dengan lumpur yang lainnya. Sinar sendu memancar dari kedua jendela hatiku berusaha untuk tetap bersalah dan memendam kekecewaan yang mendalam pada diriku. Hembusan nafasku terasa berat seakan aku bernafas pun salah, seakan aku tak mampu untuk menopang tubuh ini lebih jauh dari jalan yang kini sedang ku tempuh. Derai darah yang mengalir dalam nadi ini pun seakan mulai terhenti, tak mengizinkanku kembali meratapi kesalahan yang selama ini ku iris. Aku mulai berbisik pada siput yang berjalan lemah di sampingku berharap dia menuliskan jutaan maafku untuk tuhan yang selalu baik kepadaku. Aku berbisik pada rintik hujan berharap mereka mengatakan pada tanah basah untuk menyampaikan kekecewaanku pada diriku agar sampai pada tuhan lewat harum khasnya. Badanku terasa lebih dingin tak ada lagi kehangatan serta keceriaan yang dulu ku tampilkan. Sekarang hanya dingin dan kesendirian yang mampu memenuhi relung jiwa ini. Ampuni aku tuhan bila aku tak mampu lagi menopang tubuh ini,izinkan aku beristirahat di bawah pohon rindang beramaikan kicauan burung kecil,mencium aroma khas dari tanah basah yang mampu mengiringi kepergianku, izinkan rumput-rumput hijau mengalun sebagai tanda waktuku telah habis untuk meneruskan perjalanan ini. Aku tak mampu lagi untuk melangkah, tak mampu lagi untuk menghirup udara segar dari pohon hijau berhiaskan sarang. Izinkan aku bermimpi tanpa henti dalam dekap hangat cahayamu hingga aku terbangun kembali nanti.
Rabu, 11 Desember 2013
Semestinya
Alam bermandikan milyaran air di bawah sorot daun yang bermentari, semua sibuk dengan aktifitasnya, hanya aku yang terdiam disudut ruang putih tak berjendela. Hanya deru keramaian yang ku dengar,hanya raut wajah bahagia yang terpancar dari mereka,dan aku hanya bisa melihat itu. Sepercik rasa iri menyelimuti mengais sisa kebahagiaan yang dulu pernah terjalin. Sungguh ironi kisahku, menemukan kebahagiaan orang lain namun tak mampu menemukan kebahagiaanku sendiri. Hanya pelampiasan hitam yang tak mampu perlihatkan,hanya kesunyian yang menjadi teman melodi saat ini,esok dan mungkin selamanya. Hanya selembar kertas putih yang tersedia di hadapanku tanpa sebuah pena hitam yang mampu mengisi lembaran kaku itu. Semua bertanya apa yang terjadi sehingga aku membisu tak mengeluarkan sederet kata yang biasa ku lakukan,aku pun tak mengerti apa yang ku alami,aku hanya lelah. Lelah merasakan kesendirian,lelah merasakan kesakitan,dan lelah mengeluarkan tangisan. Aku jenuh. Mungkin ini saatnya aku melepaskan semua kenangan indah yang pernah tercipta,mungkin ini saatnya aku melupakan kisah hati misterius yang tak berujung pada sebuah kisah indah. Ini titik jenuhku,ini titik lelahku. Mungkin semua harus ku akhiri,mungkin semua harus ku hindari hingga luka yang lalu dapat mengering dan bersinar kembali. Jika aku mengakhiri semua,semua sudah jelas aku mengakhiri sebuah perasaan yang belum terealisasikan, yang belum menemukan pintu masuk ke dalam ruang putih berselimutkan asap cerah. Kini biarlah semua berlalu,berakhir sebagaimana mestinya ketika semua berawal.
Senin, 09 Desember 2013
The truth
Gemericik air tak henti-hentinya menetes dari atap yang beralaskan seng berbentuk gelombang, semua terasa berbeda. Malam ini memang terasa berbeda dengan ditemaninya musik digital yang sedang mengalun di pelataran kantin yang sudah tak bermentari. Malam ini hanya ada gemericik air dan sentuhan lembut sang angin yang berusaha singgah menyejukkan hati yang sudah berlandaskan api cemburu. Alunan musik pun tak mampu memadamkan api ini. Senyum di bibir ini hanya menjadi hiasan sementara yang enak dipandang. Aku tau keadaan kamu saat ini aku pun mencoba menghindari hal yang bisa ku mengerti dari hatimu. Jika kamu bertanya mengapa aku sangat meyakini bahwa saat ini kita sama, aku hanya bisa menjawab aku merasakan getaran yang tak biasa jika aku melihat sorot matamu, seperti ada percikan listrik yang menyadarkanku, bahwa kamu adalah obat untuk rasa sakitku selama ini. Jika kamu berkata aku terlalu berlebihan, mungkin iya aku sangat berlebihan. Tapi ketahuilah semua yang berlebihan ini adalah hal yang selama ini aku rasakan,aku hanya mampu menggoreskannya dengan tinta hitam yang membentuk sebuah kata. Aku tak sanggup untuk menahan gejolak dada yang begitu berderang saat aku mengeluarkan sepatah kata denganmu. Aku tak bisa jika melawan debaran kencang yang berusaha berontak dari dalam dada saat aku berada disekitarmu. Aku selalu menyembunyikan semua hal ini tapi entahlah sepertinya mereka membaca gerak-gerikku yang tak biasa terhadapmu, bukan aku tak mau memulai namun aku hanya belajar dari masa lalu yang membawaku pada kesakitan yang teramat dalam. Aku hanya tak ingin salah memberikan perasaan ini, aku belum siap untuk melihatmu pergi. Terlalu cepat. Ya memang . Tapi siapa yang mampu membaca perasaan ? Siapa yang mampu menahan benih yang terlanjur disebarkan dalam ladang ini? Haruskah aku tetap pada bulanku meskipun aku mengetahui bahwa kau adalah matahariku. Haruskah ? Kau sudah tau semua tentangku tapi sampai kapan kau merahasiakan dirimu yang sesungguhnya dari harapanku?
Rabu, 04 Desember 2013
Rindu
Hari ini langit tak ceria seperti biasanya,tak ada rona jingga diantara kelabu, semua hanya terlihat hitam dengan sedikit warna putih,angin berhembus menerpa ribuan helai daun yang terjajar rapi di ranting. Perlahan angin yang berhembus membawa butir air bening yang menyejukkan, semakin lama butiran air memanggil kawanannya, tak ada satupun kicau burung yang terdengar,semua kembali ke dalam sarang hangatnya menjaga telur-telur muda yang belum menetas,menjaga telur-telurnya dari raungan sang mangsa. Aku melihat gerak-gerik sang burung yang sibuk menutupi tiap lapisan telur yang ada. Rintik hujan kembali datang membuat genangan air di sela-sela jalan beraspal. Sayup-sayup terdengar dendang lagu pedih beriringan dengan petikan gitar yang selaras membuat sendu hati ini seketika. Aku rindu suara dendang lagu yang mengalun dari bibir manismu,aku rindu mendengar petikan gitar yang kau mainkan. Andai aku bisa mengutarakannya seperti hujan yang mengutarakan rindunya pada langit hitam,andai aku bisa menunjukkan rasa ini seperti burung yang menyelimuti telurnya dengan kedua sayapnya.
Hai kamu~
Hai kamu..
Tau apa yang sedang aku pikirkan saat ini ? Tau apa yang aku rasakan hari ini ? Aku sedang memikirkan kamu,aku sedang merasakan indahnya saat duduk berdua denganmu diiringi jatuhnya ribuan rintik hujan tak bertepi diiringi petikan gitar dan alunan lagu yang kau nyanyikan. Aku terbuai,melayang dalam anganku. Hari ini aku tak melihat indahnya senja juga tak melihat festival awan yang membuatku terpukau. Hari ini indahnya senjaku melekat pada jiwamu dan festival awan yang dulu membuatku terpukau sekarang hadir di jendela matamu. Tak perlu aku jalan menjauh mengikuti jejak hujan menuju senja yang hanya tampak di angan,tak perlu aku terbang mengikuti panggilan sang angin utuk melihat festival awan yang selalu membuatku rindu. Aku hanya perlu mengikuti jejakmu untuk bertemu senjaku,aku hanya perlu terbang mengikuti alur nafasmu untuk melihat festival awan yang selalu membuatku rindu.
Hai kamu~
Hai kamu..
Tau apa yang sedang aku pikirkan saat ini ? Tau apa yang aku rasakan hari ini ? Aku sedang memikirkan kamu,aku sedang merasakan indahnya saat duduk berdua denganmu diiringi jatuhnya ribuan rintik hujan tak bertepi diiringi petikan gitar dan alunan lagu yang kau nyanyikan. Aku terbuai,melayang dalam anganku. Hari ini aku tak melihat indahnya senja juga tak melihat festival awan yang membuatku terpukau. Hari ini indahnya senjaku melekat pada jiwamu dan festival awan yang dulu membuatku terpukau sekarang hadir di jendela matamu. Tak perlu aku jalan menjauh mengikuti jejak hujan menuju senja yang hanya tampak di angan,tak perlu aku terbang mengikuti panggilan sang angin utuk melihat festival awan yang selalu membuatku rindu. Aku hanya perlu mengikuti jejakmu untuk bertemu senjaku,aku hanya perlu terbang mengikuti alur nafasmu untuk melihat festival awan yang selalu membuatku rindu.
Selasa, 03 Desember 2013
Langit
Di sini langit gelap, awan pun tak menampakan putihnya kapas angkasa, tak terbendung lagi banyaknya tumpahan air yang jatuh dari langit seperti suasana hatiku yang menderu, membendung segala kekecewaan yang tak dapat ku lukiskan di langit yang hitam, mengukir sebuah warna yang dapat menggantikan awan kelabu. Semua pelangi pergi, seiring memudarnya warna jingga di hatiku, kemarin semua warna berlabuh di hatiku, meskipun langit gelap berkabut tapi pelangi pun tetap hadir di sekelilingku. Tapi kini pelangi itu pergi dan kabut pun semakin mempertebal cuaca hari ini, kini warna itu memudar di gantikan kalbu yang menghitam. Aku tak bersuara,tak mengoceh seperti celotehnya burung merpati, aku hanya diam bergelut rasa amarah yang mampu menembus dinding rasa berhiaskan pelangi,menghitamkan semua langit yang tak bertepi.
Minggu, 01 Desember 2013
Halo Desember!!
Halo Desember!
Malam ini aku di sambut jutaan air mata bidadari yang menangis bahagia. Bahagia karna Desember telah hadir. Bulan terakhir dari semua bulan yang hadir. Bulan terakhir yang selalu membawa keceriaan yang terukir. Manis. Mungkin kata itu yang tepat untuk menggambarkan suasana malam ini, mendengar suara musik jazz yang mengalun dari alat musik yang khas menambah merdu malam ini. Malam ini spesial karna hujan hadir mengiringi gelak manis kata yang terlantun dalam irama sendu. Malam ini sempurna hanya satu yang tak sempurna, potongan cinta ini belum sempurna. Belum ada sepotong kue manis yang mampu menutupi setengah potongan ini. Tabir coklat telah terlena oleh panasnya rasa. Rasa rindu yang tersampaikan oleh jutaan not yang kini hadir memenuhi gendang telingaku. Malam ini indah tapi akan lebih indah bila kamu dapat hadir di sini menggerakan kedua kaki mengikuti irama yang hadir. Andai kamu di sini menikmati cuaca sendu bermandikan sejuta lagu. Hitam. Memang malam ini semua terasa hitam. Hitam yang manis melebihi coklat batang yang dijajarkan penjualnya. Aku hanya bisa mengandai,mengandaikan semua hal manis yang akan kita lalui suatu saat nanti. Aku memang hanya bisa bermimpi, memimpikan jutaan rindu yang akan singgah membentuk sebuah pelangi malam berhiaskan limpahan bintang. Jiwa ini menari mengikuti lenggok sang irama tapi hati ini tetap menunggu, menunggu hadir mu yang merubah semua hal gelap menjadi jutaan warna indah yang membahagiakan hingga air mata tak sanggup aku tahan dikedua kelopak mataku, aku tersenyum menantikan bintang bermandikan cahaya rembulan tapi aku sadar itu tak mungkin karna bidadari di sana sedang menangis melihat langit bersedih.
Kamis, 28 November 2013
Gelisah
Di sini ramai. Sangat ramai. Namun suasana hatiku pun tak juga membaik, entah apa yang merasuki jiwa ini. Entah bagaimana kegelisahan ini masuk ke dalam raga ini, merenggut semua kebahagiaan yang mulai bersemi dalam taman hati ini. Jiwa ini di selimuti kalbu dan berubah menjadi kelabu. Dimana pelangi yang beberapa saat lalu hadir ? Dimana bunga-bunga yang mekar dan memiliki warna yang indah? Kemana perginya mentari? Mengapa hujan selalu datang mengiringi kegelisahan yang gelap dan dingin? Akankah sinar mentari datang menggantikan dinginnya hujan ? Akankah pelangi hadir saat hujan menghilang? Aku rindu hadirnya mentari,aku rindu warna-warni pelangi,aku rindu melihat mekarnya bunga yang memiliki warna indah. Aku bosan dengan warna kelabu,aku bosan dengan dinginnya dunia ini. Petikan gitarpun mengiringi jelajahan jemari yang terbuai akan manisnya kata. Bintang malam ini bintang hadir menertawakan kegelisahan yang menguak anganku, malam ini rembulan menampakkan sinarnya menujukkan bentuknya yang bundar tak bertepi. Dendangkan lagu pedih pengiring duka yang t'lah lama hadir,pergilah kelabu bersama gelak tawa mereka,bersama candaan renyah yang mereka lontarkan. Datanglah pelangi warnai hariku kembali, sambutlah mentari hangat yang mulai menyelimuti hati ini. Bunga mekarlah susun irama cinta di setiap langkahku di setiap lentiknya mata yang berkedip. Datanglah dan hadirkan kebahagiaan baru untukku kini,esok dan nanti.
Rabu, 27 November 2013
Irama Hati
Sinar mentari menyorot ke wajahku, tenang dan bersinar. Aku terdiam mendengar celoteh dari orang-orang sekeliling, berdiri menikmati hembusan angin dan festival awan yang menakjubkan. Warna langit berubah seiring datangnya warna kelabu. Andai kau di sini menyaksikan festival awan senja bersama. Andai kau bisa menatap langit bersamaku di sini melihat sang mentari redup dan terlelap di pangkuan langit. Suara berderu membuat senja ini ramai, tapi itu semua takkan lama seiring denting waktu berjalan suara deru itu pun perlahan akan menghilang. Andai kita bisa menyanyikan sebuah lagu,sebelum sang mentari terlelap dalam mimpinya. Andai kamu dan aku telah menjadi kita. Andai kita dapat menyusun irama senja dalam sebuah melodi hati yang takkan bisa berakhir. Ah.. Aku hanya bisa beranda, suatu saat nanti cinta yang ku sembunyikan di balik cahaya mencari dan di balik melodi angin akan bersatu menciptakan sebuah irama cinta yang selaras dengan petikan gitarmu akan terkuak menuju pintu hatimu yang terbuka. Awan kelabu perlahan menutupi sinar mentari, seakan menyiapkan selimut agar sang mentari dapat terlelap dalam mimpinya. Akankah sang mentari akan memimpikan hal yang sama denganku? Dapatkah angin datang dan berbisik kepada hatimu sedikit saja memberitahukan bahwa aku. Disini. Mencintaimu...
Selasa, 26 November 2013
Ketika..
Ketika semua perjalanan yang ku tempuh menemukan tempat istirahat sejenak dan menemukan kebahagiaan di dalamnya dan semua itu harus hancur hanya karna satu keegoisan yang tak pernah memandang kebutuhan. Perjalanan yang ku tempuh bagaikan sebuah perjalanan menuju bukit yang teramat dekat dengan langit. Di sana aku akan menemukan kebahagiaan tanpa akhir, namun apalah daya raga ini terlalu lelah untuk meronta,menangis dan memohon. Hanya diam seribu bahasa yang dapat ku lontarkan, tak ada lagi senyuman manis di hadapannya saat ku menatap kembar bola mata itu. Sunyi. Dingin. Emosi. Hanya itu yang tersembunyi di balik kerangka tubuh ini. Takkan ku tawarkan harga ini pada keturunanku nanti. Takkan. Aku hanya ingin melihat mereka tertawa dan tersenyum saat menatap dua jendela hati ini. Aku hanya ingin menghapus bulir air mata di kedua belah pipinya yang halus. Tanpa ada perlawanan,tanpa ada keegoisan. Hanya kasih sayang dang cinta tulus yang aku selipkan di antara banyaknya anak rambut yang tumbuh di kepalanya. Hanya perhatian yang akan ku dendangkan di setiap tapak kakinya. Agar suatu saat nanti,saat senja menjemputku. Aku hanya bisa tersenyum bahagia di atas bulir air yang mereka keluarkan untukku. Aku ingin terus menghapus bulir air yang jatuh itu namun suatu hari nanti mereka akan mengerti apa arti senja dan senyum kebahagiaan yang aku suguhkan untuk mereka. Mereka akan tahu. Tapi nanti. Saat mereka telah menemukan kebahagiaan mereka dalam perihnya kehidupan ini.
Minggu, 24 November 2013
Aku
Aku berdiri terdiam di atas sepi berlandaskan perih yang selalu menyayat hati,semilir angin yang berhembus amat kencang seolah membawa duka lama yang teramat pedih. Di atas sini ku tundukkan kepalaku melihat banyaknya kendaran yang berlalu lalang mengusir sepi,seperti layaknya mereka berlalu lalang di kehidupanku berusaha menciptakan warna biru setelah kelabu di hari-hariku tapi entahlah hatiku tak tersentuh dengan warna-warni yang mereka ciptakan di hidupku,aku hanya menikmati warna kelabu yang begitu kontras dengan warna-warni dunia di luar sana. Sesekali aku hanya menoleh dan tersenyum pada warna-warna itu seolah aku terhibur dengan kehadirannya. Miris. Memang semua warna kelabu yang hadir memang membuatku terlihat miris, seperti mengejar namun aku hanya bisa diam. Terlihat bahagia namun aku hanya merasakan sepi. Harus bagaimana ku menyikapi keluhan hati ini, tak ada ramuan yang mampu mengusir mendungnya hati ini,tak ada warna selain kelabu, tak ada mentari selain hujan. Berdiri,terdiam,dan memejamkan mata menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahku, berdoa ketika aku membuka mata hanya warna-warni kehidupan di luar yang aku lihat,berharap agar warna kelabu yang selama ini menjadi selimut hatiku hilang untuk waktu yang lama. Aku tak mengharapkan sinar matahari tampak dan menghangatkan hatiku yang beku seolah mati. Aku hanya ingin membuka mata dan melihat pelangi setelah hujan datang.
Senja
Senja yang selalu datang sesuai jadwal membuatku selalu menunggu,menunggu untuk menikmati warna-warni di kala sang mentari redup,menikmati hembusan angin sendu yang selalu mengantarku pada kenangan lama yang selalu membuatku terbuai manja. Awan yang berarak menghias langit senja menambah sendu cuaca senja ini. Pandanganku kelabu hanya menatap jutaan pohon di bawah sana,hanya menatap gedung-gedung tinggi yang tak rapi. Hembusan angin tak henti-hentinya menjalin rasa dengan jiwa ini membuat pikiranku terbang melayang jauh ke angkasa seakan mengiringi sang mentari tidur lelap di pangkuan ratu langit. Dekapan lembutnya membuatku selalu merindu akan sosoknya yang nyata. Ranting pohon bergerak seakan menyesuaikan dengan irama hatiku detik ini. Tak menentu. Warna-warni lampu di bawah sana menambah ramai senja ini. Akankah angin mengantarkan cintaku padamu agar kau tau betapa besar cinta ini ku sembunyikan di balik sinar mentari yang selalu menampakkan senyum pada dunia. Akankah hangatnya senyum mentari akan sampai kepadamu dan berbisik pada hatimu bahwa di balik senyumnya mentari tersimpan rasa cintaku yang teramat besar untukmu.
Jumat, 22 November 2013
Bintang
Aku terdiam duduk di atas semen yang sudah mengering menatap langit tak terpancarkan sinar mentari,langit telah gelap menampakkan siluet pink keunguan. Mataku mencari,mencari satu titik dimana titik itu memancarkan sinar yang paling terang untuk menghias langit malam. Titik itu adalah bintang,bintang yang aku asumsikan sebagai kamu,kamu yang baru saja datang langsung menyusup masuk ke dalam kehidupanku yang penuh dengan sandiwara,kau datang dan memberikan satu bintang yang paling terang. Bintang yang selalu memaksaku untuk tersenyum di kala malam menjelang di kala mata terlalu berat untuk tetap terjaga. Kau yang tak menentu membuat hari-hariku terasa gelisah. Aku terus mempertanyakan hal yang sama berulang kali kepada diriku. Apakah kamu mempunyai hal yang sama untuk di bagikan? Apakah kamu selalu mengenang kejadian yang baru saja terjadi di kala mimpimu belum datang? Apakah harimu terasa gelisah dikala sikapku yang membuatmu ragu untuk membuka lebar pintu cintamu? Jika ya, maka kita sama-sama mempunyai hal sama untuk di bagikan. Hal yang mampu kita rangkai menjadi sebuah istana megah berhiaskan bintang di atapnya. Jika ya,maka kita mampu untuk membentuk istana baru untuk mengabadikan momen dimana kita akan selalu bersama.
Rabu, 20 November 2013
Debu
Cinta..
Cinta tak pernah salah tapi aku yang salah,aku mencintai orang yang salah dan di waktu yang salah,aku mencintai orang yang tak mengerti apa itu cinta,aku mencintai orang yang menganggap cinta hanyalah segenggam debu,debu yang tak terlihat namun terasa,buatku cinta bukanlah segenggam debu namun sebuah berlian yang tersayat teramat kecil dan tertimbun tumpukan debu,tak nampak namun sangatlah berarti. Mungkin dia tak bisa melihat cinta,tapi aku bisa. Aku bisa melihat cinta di matanya saat dia menatap wanita yang berdiri di hadapannya,aku bisa melihat cinta di setiap jemarinya yang menggenggam lembut tangan wanita itu. Aku bisa. Bisa melihat cinta di mata mereka yang sedang jatuh cinta. Cinta ibaratkan permainan,yang harus di kalahkan atau luka menindas hati dan meninggalkan bekas untuk waktu yang teramat lama. Cinta memang debu namun tak seperti debu biasanya, debu ini akan tetap ada sekalipun lidah mengelaknya sekalipun api membakarnya. Debu itu selalu membawa kerinduan lama kerinduan yang teramat menyanyat. Menyakitkan. Namun selalu kurindukan
Embun
Cinta yang tumbuh berasal dari setitik embun yang jatuh.. Berawal dari sebuah kisah yang tak di sengaja namun berkesan.. Bersemai bagai api yang membakar seluruh dinding hati dan melebur semua kerinduan yang tlah lama berkerak di dasarnya .. Namun duri yang bertebaran di luasnya jalan setapak membuatku takut untuk melangkah.. Datanglah tuntun aku melangkah melewati semua duri itu demi kerinduan baru yang kau ciptakan.. Ciptakan memori indah bersamamu dalam memori baru yang belum usang.. Ajari aku cara untuk berjalan di jalan berduri, agar bisa menggapai anganmu.. Agar bisa terbang bersama balon udara yang telah kau ciptakan untuk mengajakku mengelilingi indahnya cinta yang kita ciptakan bersama..
Haiii..
Halooo semuaaa udah lama gak ngepost di blogger ini yah :') karena kemarin-kemarin terjadi kegalauan yang amat memuncak dan moodboster buat nulis bloggernya juga udah pergi bersamanya yasudahlah blogger jadi gak keurus mihihi :3 tapi sekarang mau nulis blogger lagi nih dengan kosakata baru dan penyajian baru nanti di bandingkan ya dengan tulisan masa SMA bagusan yang manaaa haha :p sekarang kan aku sudah melepas seragam dan jadi mahasiswi seutuhnya haha =)) sering-sering cek blogger aku ya bakal ada kata-kata cinta yang menggelitik dan kocak dijamin nusuk wkwk udah kaya promosi yah :') garing yah :") yaudah deh welcome back for meee !! Selamat menikmati tulisan dari rara yang baru yah :* ({})
Kamis, 11 April 2013
Bruno Mars - It Will Rain
Leave some morphine at my door
‘Cause it would take a whole lot of medication
To realize what we used to have,
We don’t have it anymore.
There’s no religion that could save me
No matter how long my knees are on the floor
So keep in mind all the sacrifices I’m makin’
Will keep you by my side
Will keep you from walkin’ out the door.
Cause there’ll be no sunlight
If I lose you, baby
There’ll be no clear skies
If I lose you, baby
Just like the clouds
My eyes will do the same, if you walk away
Everyday it will rain, rain, rain...
I’ll never be your mother’s favorite
Your daddy can’t even look me in the eye
Oooh if I was in their shoes, I’d be doing the same thing
Sayin there goes my little girl
Walkin’ with that troublesome guy
But they’re just afraid of something they can’t understand
Oooh well little darlin’ watch me change their minds
Yeah for you I’ll try I’ll try I’ll try I’ll try
I’ll pick up these broken pieces ’til I’m bleeding
If that’ll make you mine
Cause there’ll be no sunlight
If I lose you, baby
There’ll be no clear skies
If I lose you, baby
Just like the clouds
My eyes will do the same if you walk away
Everyday it will rain, rain, rain...
Don’t just say, goodbye
Don’t just say, goodbye
I’ll pick up these broken pieces ’til I’m bleeding
If that’ll make it right
Cause there’ll be no sunlight
If I lose you, baby
There’ll be no clear skies
If I lose you, baby
Just like the clouds
My eyes will do the same if you walk away
Everyday it will rain, rain, rain...
Sabtu, 06 April 2013
KAMU
Rabu, 20 Februari 2013
Cinta dan Takdir
Seiring dengan gugurnya daun
Mata ini tak henti mengeluarkan embun
Sepanjang kaki melangkah
Hati ini tak juga berhenti gundah
Pernahkah ada kesempatan untukku
Untuk merasakan cinta dari belaian tangannya
Mengapa aku tak bisa menentukan takdirku
Untuk bisa menentukan siapa jodohku
RencanaMu membuatku
S'lalu mengubur harapan
LangkahMu s'lalu membuatku
Menyimpan tangis dalam kalbuku
Tuhan tolong jaga dia
Berikan dia kebahagiaan
Yang selama ini
Selalu dalam anganku
Selasa, 01 Januari 2013
Malam
Warna kembang api
Senantiasa
Mewarnai amalam ini
Hujan yang turun
Senantiasa
Menyejukkan malam ini
Suara trompet
Senantiasa
Meriahkan malam ini
Andai kau di sini
Menatap indahnya
Warna warni api
Di langit malam
Bersamaku
Andai kau di sini
Ikut mewarnai
Di saat-saat terakhir
Habisnya tahun ini
Pernahkah
Terlintas di benakmu
Kita hadir untuk mewarnai
Indahnya malam
Bersama
Menatap dan
Menghitung
Berapa banyak bintang
Yang menghiasi malam ini
Adakah satu kesempatan
Untukku melewati dan
Merasakan indahnya malam
Di pundakmu
Malam ini
Sangat berarti untukku
Begitu juga kamu
Yang sangat berarti
Untuk kehidupanku
