Aku pernah mencintaimu
dalam gelap. Dalam hening dan dalam sunyi. Kau datang bagai bisik. Membujuk
mesra tanpa pernah memalingkan arah. Aku tertahan dalam sarangmu. Memadu kasih
dengan bayanganmu. Hingga hujan datang membawa ribuan duri. Untuk apa? Untuk
membunuhku. Saat itu bayangmu seolah hilang. Bermunculan dari satu pohon ke
pohon lain. Semakin jauh. Aku hanya
dapat meratapmu dalam sesak. Dalam dingin yang mulai membekukan diri. Sesaat
aku melihat bayangan lain, tidak itu bukan bayangan. Itu nyata. Rambut terurai,
bibir melengkung tatkala melihatmu ada diujung jalannya. Kau nyata dengannya,
tapi tidak denganku. Aku meringkuk dalam gelap. Dingin. Lembab. Aku merintih
dan terisak tanpa suara. Sesak. Hujan datang lagi, tanpa henti membanjiri
tubuhku dengan duri. Gelap adalah warna yang selama ini kulihat. Hitam adalah
sahabatku, isak adalah suaraku. Entah berapa lama aku meringkuk, melihat lubang
buaian yang kini telah menghitam dan bernanah. Semakin lama aku tak melihat
bayangmu, purnama pun tak menceritakan sosokmu lagi. Dia bungkam. Menyaksikan
aku sekarat dalam hitam. Siapakah kamu? Mengapa sehebat ini kau menyiksaku?
Bagaimana caramu membawa jiwaku untuk memberikanmu waktu lebih lama untuk hidup
dan memutuskan untuk bersamanya? Tidakkah kau lihat? Jingganya binar mata dan
kuningnya sinar yang bermekaran dalam senyumku kala itu saat melihat bayangmu
yang suatu saat menjanjikanku untuk menjadi nyata. Aku menggali diriku
dalam-dalam, hanya untuk menjadi muaramu. Tapi nyatanya kau memalingkan diri
dan menjadi nyata untuknya.
Aku memberanikan diri
menyusuri hutan, saat purnama melarangku dalam diam. Sampai aku menemukan bilik
di mana ada seseorang di sana. Iya menyesatkanku tapi aku bisa keluar dari akar
kesakitan yang ia buat khusus. Aku berjalan hingga menemukan suara debur.
Mencoba berlari dan inginku tenggelam hingga dasar laut terdalam. Tibatiba dia
menahanku. Mengajakku berjalan menyusuri bagian hutan yang lain. Bagian yang
belum pernah aku saksikan. Banyak rasa di dalamnya, banyak cahaya, banyak canda
dan tawa. Hari demi hari aku lalui, berusaha melupakan bagian hutan satunya.
Tapi tetap saja, kemana pun aku pergi, jejak hitam itu menyembunyikan diri di
suatu tempat dalam hati. Menunggu, menanti, untuk kembali menyakiti hati. Menenggelamkan
aku dalam hitam dan keputusasaan. Hingga akhirnya saat ini ia berhasil
menelisik masuk dan mengancamku. Semua terasa runyam, aku melihat dia. Tertawa,
bercanda, memberikan cahayanya untuk dia. Mungkinkah sisi hutan bagian itu akan
membawaku kembali? Memenjarakan aku dalam akar kesakitan yang lebih kuat dari
sebelumnya? Harusnya aku mendengar larangan purnama. Untuk tetap tinggal dan
mengukir duri sebagai pakaianku. Tapi tetap saja ada bagian hati yang masih
bisa merasakan cahayanya. Semoga saja. Semoga ia bisa menyelamatkanku kembali
untuk yang kedua kali.