Jumat, 09 Mei 2014

Mereka Sama

Aku menangis di sudut malam, merasakan gelap yang diselimuti pengap tanpa ada cahaya. Aku membutuhkan cahaya sebagai penerang malamku, aku butuh bulan. Tapi dimana ia saat ini? menghilang entah kemana. Dadaku sesak, tak hentinya ku menangis, melihat sekelabat kisah lalu dimana bulanku. Masih anggun bersinar. Aku berkeluh diantara dinginnya malam tak ada hangat yang membalut tubuh renta ini. Aku butuh kehangatan sinar mentari. Tapi dimana ia saat ini? tak datang menengok apalagi menghampiri. Kulitku kering, menatap pori-pori kulit yang kini berkerut, merasakan dingin yang menyelinap masuk hingga ke sela-sela tulang. Aku mengingat kembali saat mentari masih hadir di sini, menyelimutiku dari kejamnya dingin. Aku terngiang kebosanan saat hanya ada kesunyian yang berbicara. Aku butuh pelangi untuk menghiburku dari ocehan sunyi yang membosankan. Tapi dimana ia saat ini? tak terlihat batang hidungnya, bahkan melirik ke arah ku pun juga tidak. Aku hampir mati karena harus mendengar sunyi bergumam. Aku terpejam dan membayangkan saat pelangi masih hadir disini, mewarnai gelapku dan mengalihkan perhatianku dari gumaman asing sang sunyi. Apa yang harus aku bawa? Apa yang harus aku harapkan? Mentari ? Pelangi ? ataukah Bulan ? mereka sama ! mereka tak pernah tinggal untuk waktu yang lama. Aku tak butuh bulan jika ada kunang-kunang hingga gelapku menghilang tak kembali, aku tak butuh mentari jika ada api yang mampu membakar kayu hingga habis tak bersisa bila itu mampu mengusir dingin dari sela-sela tulangku, aku pun tak butuh pelangi jika ada angin yang datang membawa pergi bosanku. Aku hanya butuh tanah untukk berpijak, untukku mengadu dan untukku merenung. Aku tak tau apa yang aku harapkan dari seonggok anggunnya bulan, seujung cahaya mentari bahkan segaris warna pelangi. Aku tak tau. Bagiku mereka sama saja. Tak bisa tinggal untuk selalu berada di dekatku. Aku hanya butuh satu hal yang mencakup mereka dan dia bisa tinggal bersamaku selamanya. Apapun itu, aku tak perduli, bagiku jika ia bisa merengguh jiwa dan hatiku, dan mampu memilih untuk tinggal, aku pun akan menerima kehadirannya meskipun pada kenyataannya. Dia berbeda. Berbeda dan amat sangat berbeda dari kesempuraan mereka, tapi suatu saat pun aku akan melihat cahaya berlian diantara ketidaksempurnaannya yang mampu membuatku bangga untuk tetap tinggal bersamanya.