Selasa, 04 Desember 2018

Dialog Diri


Selamat pagi matahari. Hari ini bulan tak seindah kemarin. Pagi ini pun wangi hujan tak semerbak yang lalu. Rutinitasku berganti, tapi tidak dengan kenangan. Dia berhenti. Teruntuk hati yang selalu patah. Ingat tidak? Bagaimana waktu itu kita mempercepat langkah kaki menaikki banyak anak tangga. Terengah-engah dan ketika sampai, sempat-sempatnya pula kita memfoto langit. Iya sih, saat itu langit memang sedang biru-birunya, seperti laut di atas kepala. Tak lama berselang kita tergesa-gesa memasukkan telepon genggam ke dalam saku. Siap bertarung. Laju itu pun terhenti, tepat di depan sudut kaki ini. Kedua pintunya terbelah, menatapku tanpa jera. Berdesakkan tak kenal lelah, menikmati udara dari sela-sela jendela kereta. Telat nih! pikirku. Berkali-kali ku coba nikmati berbagai desakan di dalam gerbong kereta, mencoba menikmati tiap esensi saat memulai hari. Inikah perjalanan baru yang harus kulalui setiap paginya? Hari berganti hari, minggu pun berganti bulan. Kini aku tak sendiri. Ingatkah hati saat kau pertama kali mencintai? Berusaha mati-matian menangguhkan segala kemungkinan di kemudian hari, berusaha untuk membangun tembok tinggi-tinggi agar tidak terjatuh lagi. Proses demi proses membutuhkan banyak waktu, butuh keyakinan hingga kau bersikeras mengiyakan.

Tapi entah apa yang merasuki jiwaku saat itu, saat fajar mengencani barat aku pun sibuk berdebat. Benarkah jalan ini? Meski aku tahu bahwa dirinya kini sudah tak sendiri lagi? Dengan segala keyakinan aku mengiyakan dan berdelusi akan bertahan. Banyak asa yang sudah kutangguhkan, banyak rasa yang telah kusingkirkan. Alaaahhh paling dia hanya bosan, main-main di tengah keramaian dan bertemu semacam persinggahan! Tak mungkin lah ia seserius itu! Begitu kata logikaku. Dengan kepercayaan diri, aku berjalan menyusuri setapak di tempat pengasingan hati, jauh dari kata tahu diri. Pelan tapi pasti, aku berdiri sendiri menyaksikan binar cahaya mentari di cermin bawah langit. Sama! Pintu demi pintu ia buka, rahasia demi rahasia ia ungkap. Tak ada beda! Ia bagaikan refleksi diriku dalam wadah berbeda, dalam kekuatan serupa berusaha memikulkan segala beban di atas kepala seorang diri. Bukan karena ingin, tapi hidup hanya memberinya konsekuensi. Aku tak sendiri! Badai kehidupan yang kami lalui, sama-sama meninggalkan pesakitan besar yang sebisa mungkin ditutupi dengan senyuman. Berulang kali jatuh, tak sedikit pula membungkuk berusaha utuh. Tapi percuma saja, semesta takkan membiarkan kami mendapatkan bahagia semudah langit mengecup sore.

Sore berkawan malam, aku? Rasanya hanya berkawan dengan sepi. Mendengarkan logika yang memerangi hati mati-matian. Bising rasanya, tapi aku tak bisa lari. Logika bersikeras memaki, mencaci, mencari celah persembunyian keraguan. Sedangkan hati? Dengan tenang melebarkan sayap, siap terbang. Rela kau jatuh dari ketinggian untuk sesuatu yang sudah jelas muaranya? Siapkah kau untuk membalut lukamu sendiri seperti sebelumnya? Tanya akal. Terlalu banyak pertanyaan yang mengusik kedamaian, terlalu luas perasaan membentangkan harapan. Bukan perkara cinta yang mendalam, bukan pula perkara ambisi yang teredam. Hanya saja…. Rasa-rasanya aku.. sudahlah. Sempat terpikir untuk mundur, menutup semua pintu dan mata berusaha menghilangkan semua asa. Memang dasarnya keras kepala! Hati pun tak sudah-sudah berbicara, hanya perkara rasa aman. Tiap kali hati berbicara, saat itu pula logika membara. Membombardir hati dengan beragam aksara tanya, meletupkan tiap pesakitan untuk sekadar mengingatkan. Lucunya, hati diam tak bergeming. Tak memunculkan jawaban, tak pula melontarkan pertanyaan. Seolah ia mati, atau lebih tepatnya pura-pura mati. Baru kali ini kau tak mampu menjawab persoalan logika, baru kali ini pula kau buntu tanpa ada pembelaan. Cuma nyaman! Itu yang selalu kau ucapkan.

Bagaimana pengorbanannya? Masih baru. Apakah dia merasa hal yang sama? Mungkin saja. Tidakkah kau kasihan dengan wanitanya? Tentu, untuk itu aku menerimanya kembali kepangkuan semestinya. Tapi kenapa kau memperkeras diri? Tidak tahu. Di mana harga yang selalu kau junjung tinggi itu? Dia tetap ada, tetap waspada. Yakinkah? Tidak mengerti. Semua berlalu begitu cepat, teridentifikasi pun tidak. Tapi rasanya telah mengenal lama.

Jika ia bilang aku adalah mimpinya, mungkinkah ia mimpiku juga?

Teruntuk hati yang selalu ingin mencintai, dapatkah kau berdiri kembali jika tahu bahwa mawar yang kau genggam itu berduri? Aku amat sangat mengerti jika inginmu untuk tetap berdiri, tapi tak bisa pula aku mengabaikan logika. Aku tak ingin terjebak dalam pesakitanku sendiri, menangis hingga rasanya sesak tiada henti.

Hati, bisakah kau identifikasi diri? Ke mana arahmu akan pergi? Baikkah ia? Yakinkah kau dengannya? Siapkah kau untuk kembali kecewa? Karena katanya, ia tak sanggup untuk memperjuangkanmu bahkan untuk sekadar menentukan sesuatu yang ia ingini sendiri. 

Hati, maukah kau berjuang sendiri lagi? Maukah kau menyusuri sepi dan tenggelam dalam sunyi untuk kesekian kali? 

Aku tahu, kau ingin menauti jemarinya tiap kali ia berdiri, berada dalam dekapnya tiap kali ia menepi.  Menatap jendelanya tiap kali mereka terbuka, mencicipi bibirnya tiap kali ia banyak bicara. Tapi kau tahu sendiri bahwa jiwanya takkan mampu kau miliki. Dan entah malam ke berapa ia akan berdiri dan meninggalkanmu sendiri lagi. Siapkah?