Jumat, 24 Oktober 2014

Pengemis Kehidupan

Aku adalah pengemis, pengemis berkedok mahasiswa yang memiliki sejuta kepura-puraan ceria. Pengemis yang mencoba tegar dalam terpaan hidup. Aku adalah pengemis yang tak miskin harta, tak miskin keceriaan, aku adalah pengemis yang selalu kehausan. Haus akan dekapan hangat dan nyaman, hangat akan belaian lembut yang mampu menyapu sejuta rasa risih. Aku adalah pengemis yang mencoba menuntun orang melewati semak berduri tanpa lecet sedikitpun, aku tau. Aku hanyalah pengemis bodoh yang mencoba tegar, sok pahlawan, sok pintar dan sok baik adalah jelmaanku dalam setiap pikiran orang lain. Aku pengemis, yang mencoba mengantarkan paket keceriaan kepada orang sekelilingku, yang mencoba bahagia meski hati terluka. Aku adalah pengemis yang pertama, merasakan bahwa material itu sama sekali tak berharga dibanding sebuah ketulusan. Aku adalah pengemis yang kedua, mengatakan bahwa satu luka memiliki satu derita dan kecewa. Aku adalah pengemis yang ketiga, mengatakan bahwa aku hidup untuk melihat orang bahagia. Iya mereka bukan aku. Aku baik, karena aku ingin bukan karena aku ini sok baik. Aku peduli, karena aku sayang, sayang sama mereka yang membutuhkan kasih sayangku untuk mendekap hangat peluh mereka. Aku tulus, karena kelak aku ingin anak-anakku diberi ketulusan melalui orang lain. Aku memang terluka tapi aku tak ingin mereka melihat warna hidupku yang sejelasnya, aku memang kecewa tapi aku tak ingin mereka melihat kesedihanku dibalik tirai keceriaan. Dan, aku memang derita tapi aku takkan membiarkan mereka melihatku dengan tatapan iba. Warnaku memang kelam, tapi aku adalah pengemis yang bermurah hati untuk mewarnai hidup orang lain. Lukaku memang tak seindah luka dalam perban, namun aku adalah pengemis yang ria akan keceriaan. Aku tak tau kelak aku kan menjadi pengemis atau tidak. Mengais-ngais sisa perhatian dan kasih sayang dari hati setiap manusia. Aku tak tau kelak anak-anakku kan merasakan apa. Merasakan kehidupan yang arogan dari neraka-neraka kehidupan. Aku pengemis yang mengais perhatian dan kasih sayang, namun aku tak dendam dengan kehidupan bahkan dengan tuhan. Aku hanya ingin bermimpi kelak anak-anakku kan merasakan ketulusan dan keceriaan tanpa adanya topeng kepura-puraan yang saat ini ku perankan.

Senin, 20 Oktober 2014

Malam Ini

Suasana malam ini begitu menggairahkan, banyak cerita dibalik kelamnya sang malam, dingin, hembusan angin begitu dingin menyelimuti ruas tulang ini, tuas api pun berkobar menghantarkan bau khas kehangatan. Tak ada satu pun bintang yang menghiasi hitamnya langit, tak ada naungan yang menjanjikan kehangatan malam, hanya  bising yang mengantarkanku pada kerinduan senja, aku rindu saat dimana langit berubah warna menjadi jingga, aku rindu dimana burung-burung sibuk berkicau dan mengepakkan sayap untuk kembali ke sarang mereka, mencari kehangatan diantara ranting-ranting yang mereka atur sedemikian rupa. Aku rindu bercengkrama seperti mereka dibawah langit jingga dan didekap hembusan angin sore. Aku rindu mendendangkan lagu serupa yang membuatku terbang bersama mereka yang ingin kembali ke sarang. Aku mungkin tak serupa dengan mereka, aku mungkin hanya menjadi manekkin yang hidup diantara cerianya malam mereka. Aku tak mengutarakan sepatah kata pun, aku hanya berdiam dan memperhatikan, ikut tersenyum tipis bila ocehan itu begitu menggoda untuk ditertawakan. Sunyi, malam ini layaknya malam-malam sebelumnya tapi ada satu yang berbeda, dendang lagu yang serasi dengan petikan gitar melodi menjadi kesatuan padu untuk meromantiskan malam ini. Aku tak melihat apapun yang tersenyum tapi aku tau mereka, mereka yang sudah tenggelam dalam minpi ikut bersenandung bersama alunan gitar dibawah alam sadar mereka. Malam ini sama tapi berbeda karena kehadiran sang melodi dan   dendangan sederhana yang membuat malam ini hangat melebihi malam sebelumnya.

Ragu

Awalnya aku ragu
Menuangkan tinta warna-warni
Diatas kanvas baru yang kaku

Ragu..
Untuk membuang kertas usang
Yang didalamnya tersimpan kenangan kelam
Meremas kertas itu menjadi,
Bola-bola kertas tak berarti

Ragu..
Untuk menyisipkan kenangan baru
Mewarnai dinding dengan kuas baru
Membersihkan ruangan yang berdebu

Ragu..
Mengusir gelap dan menjadikannya terang
Menghapus bintang dan digantikan cerahnya pagi
Merenggut bulan dan disulap mentari

Ragu..
Melakukan semua hal yang ku anggap tabu
Merintis cara yang tersembunyi dibalik kabut
Dan..
Memaknai kata yang berselimut kelabu

Ragu..
Menjajaki setapak yang kini berbeda
Mengarungi sungai yang kini bergelombang
Mewarnai awan yang kini tak lagi hitam

Rabu, 15 Oktober 2014

Nikmati

Aku pernah..
Mengindahkanmu dalam sejuta mimpi
Merasakan dekapmu yang kuanggap abadi
Mencintaimu tanpa sebuah kejelasan pasti

Aku pernah..
Berdiri disampingmu hingga aku lelah
Mengukir senyummu hingha aku terlelap
Menangisimu hingga aku sesak
Memimpikanmu hingga aku enggan terbangun

Aku pernah..
Melupakanmu dalam tawa
Menghapus bayangmu dalam diam
Membencimu dalam pejaman,
dan mengingatmu dalam kebisuan

Sekarang..
Aku mencoba menikmati kubang luka yg kau suguhkan
Meratapi tiap kekecewaan yang murka
Menghapus bulir air mata yang deras
Hingga aku terlelap,
atau mungkin mati terpejam

Merpati Rapuh

Sejak awal aku mengira kau malaikat tak bersayap, mendekapku hangat dengan kedua lengan kekarmu. Kau menyuntikku dengan suntikkan kebahagiaan, merajut senyum bersama yang sekilas tampak nyata. Kau bimbing aku hingga aku menjadi seekor merpati dewasa, mengepakkan sayapku dengan anggun dan berkicau dengan halus, tampak kau tersenyum melihat tingkahku yang konyol serta lugu. Aku mengepakkan sayapku hingga menyentuh langit, dari atas sana kulihat dia membisikkanmu sesuatu, aku terbang kembali ke bawah mencoba mencari dekap hangatmu yang semula Ku rasakan, tapi kau berbeda, kau tak lagi sama dengan apa yang dulu kau bagikan untukku. Aku melemah, aku tak berdaya saat kau melangkah jauh untuk berpaling dariku. Aku mencoba berdiri mengepakkan sayapku dengan anggun dan kembali berkicau tapi tetap saja aku lemah. Meski aku kini mampu untuk terbang kembali, mencoba bergabung dengan ribuan merpati lain. Aku tetap saja melemah setiap detiknya, aku terbang dari satu sarang ke sarang lainnya, aku tak menemukan apapun. Aku tak menemukan dekapan hangat seperti yang kau punya, hanya dekapan itu yang membuatku bahagia, hanya itu tak ada yang lain. Tapi, kau menjauh pergi mencari merpati lain yang bisa kau cintai, merpati yang lebih anggun dan lebih mempesona, lebih sempurna dibandingkan merpati sepertiku yang terlalu lemah dan tak berdaya. Saatku melintas di lalu lintas langit dia menyapaku, kembali menarikku dan kembali menghantarkan dekapan lembut itu, semula ku merasa aku menemukan kebahagiaanku seutuhnya, sejak kembalinya ia yang mendekap hangar kedua sayapku, namun aku melihat keanehan yang ia sembunyikan, perlahan ia pun kembali pergi, kembali membuangku ke dasar lautan air mata yang tak berdasar. Aku kembali terpuruk, kembali merasakan dingin yang tak henti-hentinya menusukku, aku kembali diseret dalam ribuan duri kekecewaan, kembali ditenggelamkan dalam lautan air mata. Aku tak sanggup untuk terus menangis, aku tak sanggup untuk terus dihujam oleh duri kekecewaan, aku mencoba bangkit, mencoba mencabuti duri dari sela-sela kulitku, aku berusaha berenang untuk mencapai permukaan, kembali menghirup udara segar yang mungkin tak sesegar kemarin, waktu ia mendekapku dengan tangan kekarnya, aku menyembunyikan bekas lukaku dibalik baju panjang yang kukenakan setiap harinya, menutupi isak tangisku dengan jutaan canda dan tawa. Aku mencoba tegar. Mencoba menerima kenyataan hidup yang pahit. Aku mulai mengeringkan sayapku, mencoba mengepakkan sayapku dan kembali terbang menyusuri langit senja. Aku melihat kawananku, mereka pun menerima kehadiranku, mereka dan aku merajut tawa dan canda yang sangat bahagia, tanpa sadar lukaku telah kututup dengan sempurna, aku tebang dengan membawa sejuta kebahagiaan, membagikannya pada merpati lain layaknya sinter claus . Hingga aku menemukan mereka disuatu sarang yang hangat dan aman, banyak cerita yang aku dan mereka rajut hingga suatu saat aku menceritakan tentang ia yang telah pergi dan menghilang kepada mereka, mereka mengatakan padaku tentang kebenaran, seperti disambar jutaan petir aku pun terjun kembali ke dasar lautan air mata yang dulu sempat ia tenggelamkan, aku kembali merasakan duri-duri kekecewaan yang menusuk sela-sela kulitku, seperti merobek luka lama aku pun tenggelam dalam kisah yang menyiksaku sedemikian rupa. Sakit teramat sakit, tak pernah ku bayangkan kenyataan yang sepahit ini, tak pernah kuindahkan masa lalu yang seburuk ini. Kenyataan ini rasanya seperti mencabikku dengan puluhan singa yang kelaparan, menghancurkan ku dari dasar jiwa hingga  ke permukaan. Air mata ini seakan tak berhenti meratap kekecewaan yang sudah terjadi. Hati ini seakan tak mampu menampung sesak yang menghujamku bertubi-tubi. Aku hancur. Aku remuk. Bagai berlian yang terinjak hingga halus tak berbentuk. Itulah aku, merpati rapuh korban masa lalu, itulah aku merpati pembohong pembawa sejuta kebahagiaan yang tak mampu memberi bahagia pada masa lalunya. 

Sabtu, 11 Oktober 2014

Taman Harmonika

Lingkaran taman ini sungguh rindang, memancarkan aura sendu ditengah teriknya mentari. Aku tengah mengarahkan kakiku melintasi lautan hijau, detak sepatu yang menyentuh lantai taman sungguh seirama dengan langkahku, saat sinar membakar habis kulitku, terdengar alunan suara lembut yang mampu membawaku terbang pada jutaan sinar mentari. Sejuknya angin yang berhembus membuatku semakin menikmati alunan lembut itu, seolah sebagai penuntun jalan ku arungi lautan hijau melalui arah angin. Ku temukan lingkaran tua dengan beberapa prajurit harmonika, seperti pelataran kerajaan yang menyuguhkan keromantisan melalui dekapan nada. Kakiku meraba mencoba masuk pada pelataran tua itu, menikmati dekapan hangat dan lembut para prajurit harmonika, sekilas ku lihat tatapan tajam mereka namun seiring lantunan nada indah mereka melihat aku sungguh menikmati dekapan mereka, mereka pun mulai membuka jalan untukku duduk dan menikmati dekapan itu lebih lama lagi. Pohon hijau menggugurkan dedaunan kering, menambah sentuhan romantisme di tengah sendunya mentari, aku terbang tinggi melewati jutaan dedaunan yang masih giat bertahan pada sang ranting. Aku terpejam, terbang bersama angin siang yang membakar permukaan kulit, aneh. Sungguh aneh, aku tak merasakan sinar tajam yang mampu merusak kulitku, yang aku rasakan hanyalah dekapan lembut sang nada yang mampu membawaku terbang tanpa merasa tersakiti. Sendunya nada, sangat mewakili jutaan perasaanku saat ini, perasaan yang tak dapat ku jadikan kata-kata. Anganku terbang, jiwaku pun menangis. Merasa tersayat dari jutaan rasa sakit, merasa bebas dari penjara hati yang terus menerus mengurungku dalam peristiwa yang sama. Jiwaku yang menangis seolah merasa bebas, jiwaku yang terkurung seolah akan bebas. Angin dan nada perpaduan konkrit yang mampu membawaku terbang melepas jutaan rasa sakit yang membawaku tenggelam kepermukaan hina. Angin dan nada yang saat ini hadir seolah ingin membebaskan aku dari keterpurukan hati, sakit yang Ku rasa seolah bebas, benci yang ku dekap seolah meronta ingin bebas. Aku tak mampu membencinya, tak mampu untuk membalas perlakuannya, nada. Jeritku pada nada membuat jiwa ini semakin kencang untuk menangis, meronta ingin mendekap kebahagiaan. Nada, ampuni aku, aku terlalu sakit untuk menerima kenyataan ini, bantu aku untuk lepas dari kebenciaan ini. Jika aku bisa menjabarkan rasa sakit ini, mungkin aku bisa menamparnya, melampiaskan semua emosi jiwa yang aku pendam selama ini. Tapi aku tak bisa, tak bisa jika harus melihatnya terluka. Aku hanya ingin dia bahagia tanpa harus menghancurkan kebahagiaanku. Bawa aku terbang jauh nada, bawa aku bersama dekapan hangatmu, bawa aku pergi dari penjara hati yang gemar mengurungku dalam rasa sakit. Ribuan air mata ini takkan bisa membebaskan aku, jutaan jeritan bahkan milyaran rontaan tubuh hanya mampu membuatku tetap berada dalam sakit. Bantu aku kabur dalam rasa sakit ini angin, terbangkan aku ke masa depan, aku lelah mencintai mereka yang salah, aku lelah menelan tombak kehidupan yang selalu merobek kantung air mataku. Tolong bebaskan aku, aku hanya merasa bebas disini, tidak didalam diriku sendiri.

Kamis, 09 Oktober 2014

KECEWA

Bagai jantung yang berdetak, nafas pun kan terus terburu. Ketika sesak yang memaksa untuk masuk dan mendapat tempat dalam dada. Semua terasa sakit. Teramat sakit, tak ada kata yang mampu kuucapkan selain, kecewa. Kecewa, ya kecewa. Satu kata yang mampu mewakili kelamnya jiwa saat ini, tak mampu ku jabarkan semua yang ku rasakan, tak mampu ku lampiaskan segenap api kekecewaan, yang kini tengah membara. Aku hanya mampu bersandar dan menangis, aku hanya mampu menahan sesak yang seolah ingin tinggal lebih lama dalam relung kosong ini. Andai aku tak mengikuti kemana kaki ku melangkah, mungkin aku tak akan merasakan ini, andai aku tak mengikuti jejak angin yang membawaku pada persimpangan gelap itu, mungkin aku takkan tersesat, seperti saat ini, tapi itu semua hanyalah pengandaian semu. Tak ada kata yang mampu ku lontarkan, tak ada decak amarah yang mampu ku sisipkan, aku tak mampu. Tak mampu jika berbalik arah dan menghilang. Tapi aku tak kuasa menahan semua emosi yang menyesakkan ini, tak kuasa menahan derai air mata saat sandiwara hati dimulai. Aku sudah basah, kenapa tak sekalian saja aku tenggelam? tenggelam dalam kesakitan yang menembus hingga dasar jiwa, tenggelam dalam kubang air mata yang ku ciptakan sendiri. Kenapa aku tak mampu memamerkan sebongkah berlian senyum dihadapannya? Kenapa harus masam yang ku tonjolkan, aku tak kuasa untuk mendekapnya, mengeluarkan semua isak tangis, yang mungkin kan membanjiri tubuhnya. Tatapan tajam itu tak pernah lepas dari bayangku, tak pernah lelah menghantui mimpiku. Jika saja itu mimpi Indah mungkin aku takkan ingin terbangun, dan menjalani hidup. Sayang, mimpi indah itu hanyalah sekedar mimpi, kenyataan yang saat ini menjadi mimpi adalah mimpi buruk, yang kesekian kalinya mampir dalam malamku. Lelah aku menjalani ini, sesak relung kosong ini saat semua mimpi buruk yang pergi, karena datangnya fajar, harus kembali memaksa masuk dalam malamku. Kapan semua ini berakhir? Kapan aku mampu menghirup udara segar yang menyambut pagiku? Salah apa aku? Hingga sang mimpi buruk tak mengizinkan ku untuk terbangun dan menyudahi rasa sakit? Aku benci perasaan ini, perasaan sakit dimana hanya aku yang mengerti apa yang aku rasakan, tanpa mampu aku utarakan. Pedih mata ini, tiap kali harus menerjukan jutaan air mata tak berdosa hanya karena rasa ini. Kapan aku menang dalam perang ini? Aku sudah lelah kecewa. pergilah, aku hanya ingin terbangun dan kembali terlelap dengan mimpi indah lainnya.