Pagi ini aku terbangun dari mimpi disebuah pengungsian tua, bangunan renta yang kini menjadi tempat bernaung ribuan jiwa. Aku membuka mata,meraih sehelai masker biru yang tergeletak disamping kananku,aku menggunakan masker itu rutin setiap harinya. Sudah satu minggu aku tinggal dipengungsian ini sendiri. Ya sendiri. Tanpa keluarga yang menemani hari-hariku,sebenarnya hidup dipengungsian ini adalah anugerah yang terindah untukku karna tak ada lagi kata kelaparan dan tak ada lagi kata kedinginan,semua tersedia. Meskipun minim tapi tinggal dipengungsian jauh lebih baik dibandingkan kembali hidup dijalanan yang tak kenal belas kasihan,aku berdiri melangkah keluar dari bangunan renta itu, aku melihat jalan raya tepat di depanku, semua yang terlihat begitu muram dan berkabut. Semua tertutup kelabu. Semua berubah menjadi asap tebal yang tak kunjung menepi. Tak ada warna hijau dari dedaunan,tak ada banyak warna dari kendaraan yang berlalu-lalang,semua abu-abu,tak jelas dan kabur. Hanya debu dan asap yang terlihat memenuhi udara. Dia marah, marah akan kelakuanku yang terkadang sering menjengkelkan,sering melanggar peraturan demi peraturan yang dia tulis, dia menulis ribuan peraturan yang ku langgar diatas semua butir debu, hingga aku tak dapat melihatnya degan jelas. Dia menghukumku dengan sejuta bisikan diatas asap tebal hingga aku tak mampu mendengar dengan telingaku. Aku tau dia marah, aku tau dia kecewa, tapi mengapa? mengapa semua kesalahanku harus terumbar diatas debu dan asap? mengapa tak kau tunjukkan saja caraku untuk memperbaikinya? memperbaiki ribuan bahkan jutaan kesalahanku yang kau ukir dalam butir-butir debu tak bersalah. Mendengar jutaan bahkan miliyaran bisikan yang kau sisipkan diatas apas tebal tak berdosa. Sebut saja salahku! sebut saja nasihatmu! hingga tak ada lagi korban dari debu dan asap tebal yang kau tebarkan dibumi ini. Jangan ada lagi debu dan asap yang memenuhi jalan ini, karena aku rindu jingga. Karena aku rindu hangatnya warna kuning yang bersiap mengeluarkan peluh dan keringat dari tubuhku, bawalah jingga kembali. Bawalah selimut hidupku yang kini menghilang tak berbekas. Aku rindu rona oranye dibawah jingga, rindu melihat ribuan burung terbang kembali ke sangkar. Meskipun dengan kembalinya jingga aku harus kembali hidup dijalan. Aku tak masalah. Jalanan adalah tempat tidurku dan jingga adalah selimut hidupku. Bawalah kembali debu dan asap tebal ini. Mereka tak bersalah,mereka tak berdosa. Aku janji takkan mengulangi kesalahan yang sama, aku janji tak ada penyesalan dan tangisan malam setelah debu dan asap ini pergi. Aku hanya ingin kembali meski aku tak dapat merasakan kehangatan yang seutuhnya, meski aku takkan luput dari kotor dan kedinginan. Aku memang rindu rumah, rumah yang hangat dan tentram serta jauh dari kata kedinginan,tapi itu dulu. Kini aku merindukan rumah luas berisikan ribuan jiwa yang bernyanyi,berjuang dan bertahan hidup demi sebutir nasi hangat. Aku memang rindu pelukan bunda, yang hangat dan menjanjikan perlindungan, namun itu dulu. Kini aku merindukan ketangkasan dan pembelaan untuk saling melindungi demi bertahan hidup diantara kejamnya polusi udara kota. Aku kini mulai merindukan selimutku, tempat tidurku. Aku janji, takkan mengeluh dan menangis pada malam hari menyesalkan kehendak tuhan yang telah merusak takdir hidupku yang dulu tentram. Maafkan aku, bawalah kembali jinggaku, bawalah kembali debu dan asap tebal tak bersalah ini hingga aku mampu melihat warna-warni besi yang berjalan, melihat indahnya daun hijau yang tumbuh diantara belukar. Bawalah jinggaku, aku rindu ia menjadi selimutku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar