Rabu, 12 November 2014

Lukisan dan Aku

Dalam sebuah ruang aku mencintai sebuah lukisan, lukisan usang yang memikat hati untuk selalu ku telusuri setiap detail keindahannya. Dalam rumahku aku menyimpan lukisan itu, hanya menyimpan tanpa pernah berkata bahwa akulah pemilik lukisan itu, aku masih menunggu persetujuan sang raja untuk memiliki lukisan itu. Dahulu aku sangat menyukai lukisan itu, bahkan ketika lukisan itu berpemilik, setelah pemilik itu pergi, aku semakin menyukai lukisan itu. Lalu dengan riang ku letakkan ia didepan pintu rumahku, aku tak berani membawanya masuk ke dalam rumah, takut jika nanti sang pemilik mencari lukisannya. Setiap hari ku pandang lekat-lekat lukisan itu, begitu sederhana namun menyimpan sejuta rahasia, setiap hari aku menatap lukisan itu, seolah didalam lukisan itu terdapat sebuah acara hiburan, tak jarang aku tertawa karenanya. Semakin lama lukisan itu berada didepan pintu, semakin banyak para gadis yang terpikat oleh kesederhanannya. Suatu ketika beberapa gadis datang dan pergi dengan mengaku bahwa ia lah pemilik lukisan itu. Aku merasa aku bukan pemilik lukisan itu, jadi ku biarkan saja para gadis itu pergi dengan membawa lukisan itu, dan entah mengapa, sering kali aku merasa cemburu ketika lukisan itu tengah berada diantara para gadis desa. Mungkin karna aku telah menaruh hati pada lukisan tua itu. Dan mana mungkin lukisan itu menyadari bahwa aku menyimpan sekotak perasaan yang ku kunci rapat dan tak pernah ku tunjukkan padanya. Selama lukisan itu berada diantara para gadis, aku pun membenahi rumahku yang sudah berdebu, aku sibuk membenahi dan menjamu beberapa tamu yang singgah diambang pintu, entah untuk berteduh ataupun sekedar bercengkrama. Aku telah selesai membenahi rumahku berkat bantuan magic yang mampu mengunci pintu masa lalu ku dengan sempurna. Aku pun selalu meladeni mereka yang singgah diambang pintu, entah mengapa aku merasa lelah dengan aktifitas itu, dan seketika lukisan yang dulu begitu aku cintai berada tepat didepan pintuku, melotot marah seolah aku membuangnya, sudah lama aku tak menjumpai lukisan itu berada diantara kerumunan para gadis, hampir setiap hari aku bercengkrama dengan bayangan lukisan itu, tanpa melihat sosok aslinya. Aku pun mengatakan dalam hati bahwa aku merindukan sosok lukisan itu didepan rumahku. Aku ingin membawa lukisan itu masuk sehingga ku gantungkan dalam bingkai yang Indah tepat diruang utama rumahku. Namun, aku tak mempunyai keberanian untuk melakukan itu, aku hanya ingin lukisan itu yang berkata bahwa ia ingin masuk dan tinggal didalam rumah sederhanaku, jika aku yang membawanya masuk, itu terasa tidak adil. Tak ada pesetujuan dari lukisan itu bahwa ia ingin tinggal, jadi aku masih membiarkannya didepan pintu sampai ia berkata dan aku mempersilahkannya masuk dengan senang hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar