Aku masih ingat waktu pertama kita bertemu, kemudian menjalani hari-hari bersama tanpa rasakan datang-perginya waktu. Aku masih bisa mendengar tiap untaian cerita yang kau utarakan padaku bahagia, sedih, pilu. Semua kau tumpah ruahkan padaku. Semua masih tergambar dengan jelas bahkan sekilas tampak nyata, kau nyaringkan gelak tawa saat waktu menggelitik tubuhmu atau bahkan kau menitikkan air matamu saat waktu melukai harapanmu. Sampai akhirnya waktu menunjukkan sebuah tanda tanya besar diantara aku dan kamu, kau berjalan menyusuri jejak kakiku di masa lalu, mencari kebenaran atas sebuah tanda tanya itu. Dengan cara apapun kau berusaha untuk mengungkap apa yang waktu sembunyikan dari kenyataan. Sampai kau menemukkan titik terang, sampai kau tebarkan angka acak ketika berbicara padaku. Kau punya kunci untuk pintu yang telah lama tertutup rapat, kau buka dan kau tebarkan bunga kenangan di dalamnya tawa, canda, dan air mata, semua kau tebarkan bersama bunga kenangan itu. Perlahan kau membuatku tersadar akan angka acak yang sering kau bincangkan padaku, perlahan kau menuntunku untuk menguruti angka tersebut. Angka demi angka yang merangkai sebuah cerita, membuatku merasa menjadi wanita paling bodoh karna tak menyadari hal itu. Sekarang kau menjelaskan segalanya, merangkai cerita baru yang lebih jelas dan terbuka, membuatku merasa sempurna karna memilikimu. Angka-angka yang kau tebarkan masih saja teracak tapi bedanya sekarang kau jelaskan padaku perlahan, kau urutkan angka itu untukku, kau bawaku pada duniamu. Melihat dunia dari matamu, menggenggam angin melalui jemarimu, seakan aku masuk ke dalam tubuhmu, merasakan setiap desir darah yang mengalir dalam nadimu. Itu memang terjadi, kita menyatu. Kau pun merasakan demikian, mimpi demi mimpi kita ukir, masa demi masa kita arungi, masalah demi masalah kita hadapi. Semua seolah satu, kita percaya bahwa takdir yang memertemukan kita, tapi apa kita juga percaya bila takdir menginginkan perpisahan diantara kita? aku tak berharap banyak untukmu yang menjanjikan akan tinggal, meskipun harapan itu tetap ada. Bila kau menemukannya, kejarlah.. aku takkan halangi kau untuk gapai kebahagiaanmu yang nyata. Setidaknya di luar pintu aku masih dapati kau walau hanya sebagai teman. Seperti dulu, saat pintu ini masih tertutup rapat, saat kau belum mulai mencari kebenaran di jejak masa laluku. Tawa, canda saat kita berkumpul nampaknya akan kembali hidup, seolah apa yang kau tebarkan di balik pinu ini tak pernah terjadi. Tapi, satu hal yang harus kau ingat, bahwa apa yang telah kau dapatkan di balik pintu ini dan apa yang telah kau tebarkan. Selama mungkin itu takkan pernah mati...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar