Kamis, 15 Februari 2018

Diri

Aku pernah mencintaimu dalam gelap. Dalam hening dan dalam sunyi. Kau datang bagai bisik. Membujuk mesra tanpa pernah memalingkan arah. Aku tertahan dalam sarangmu. Memadu kasih dengan bayanganmu. Hingga hujan datang membawa ribuan duri. Untuk apa? Untuk membunuhku. Saat itu bayangmu seolah hilang. Bermunculan dari satu pohon ke pohon lain. Semakin jauh.  Aku hanya dapat meratapmu dalam sesak. Dalam dingin yang mulai membekukan diri. Sesaat aku melihat bayangan lain, tidak itu bukan bayangan. Itu nyata. Rambut terurai, bibir melengkung tatkala melihatmu ada diujung jalannya. Kau nyata dengannya, tapi tidak denganku. Aku meringkuk dalam gelap. Dingin. Lembab. Aku merintih dan terisak tanpa suara. Sesak. Hujan datang lagi, tanpa henti membanjiri tubuhku dengan duri. Gelap adalah warna yang selama ini kulihat. Hitam adalah sahabatku, isak adalah suaraku. Entah berapa lama aku meringkuk, melihat lubang buaian yang kini telah menghitam dan bernanah. Semakin lama aku tak melihat bayangmu, purnama pun tak menceritakan sosokmu lagi. Dia bungkam. Menyaksikan aku sekarat dalam hitam. Siapakah kamu? Mengapa sehebat ini kau menyiksaku? Bagaimana caramu membawa jiwaku untuk memberikanmu waktu lebih lama untuk hidup dan memutuskan untuk bersamanya? Tidakkah kau lihat? Jingganya binar mata dan kuningnya sinar yang bermekaran dalam senyumku kala itu saat melihat bayangmu yang suatu saat menjanjikanku untuk menjadi nyata. Aku menggali diriku dalam-dalam, hanya untuk menjadi muaramu. Tapi nyatanya kau memalingkan diri dan menjadi nyata untuknya.

Aku memberanikan diri menyusuri hutan, saat purnama melarangku dalam diam. Sampai aku menemukan bilik di mana ada seseorang di sana. Iya menyesatkanku tapi aku bisa keluar dari akar kesakitan yang ia buat khusus. Aku berjalan hingga menemukan suara debur. Mencoba berlari dan inginku tenggelam hingga dasar laut terdalam. Tibatiba dia menahanku. Mengajakku berjalan menyusuri bagian hutan yang lain. Bagian yang belum pernah aku saksikan. Banyak rasa di dalamnya, banyak cahaya, banyak canda dan tawa. Hari demi hari aku lalui, berusaha melupakan bagian hutan satunya. Tapi tetap saja, kemana pun aku pergi, jejak hitam itu menyembunyikan diri di suatu tempat dalam hati. Menunggu, menanti, untuk kembali menyakiti hati. Menenggelamkan aku dalam hitam dan keputusasaan. Hingga akhirnya saat ini ia berhasil menelisik masuk dan mengancamku. Semua terasa runyam, aku melihat dia. Tertawa, bercanda, memberikan cahayanya untuk dia. Mungkinkah sisi hutan bagian itu akan membawaku kembali? Memenjarakan aku dalam akar kesakitan yang lebih kuat dari sebelumnya? Harusnya aku mendengar larangan purnama. Untuk tetap tinggal dan mengukir duri sebagai pakaianku. Tapi tetap saja ada bagian hati yang masih bisa merasakan cahayanya. Semoga saja. Semoga ia bisa menyelamatkanku kembali untuk yang kedua kali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar