Sejak awal aku mengira kau malaikat tak bersayap, mendekapku hangat dengan kedua lengan kekarmu. Kau menyuntikku dengan suntikkan kebahagiaan, merajut senyum bersama yang sekilas tampak nyata. Kau bimbing aku hingga aku menjadi seekor merpati dewasa, mengepakkan sayapku dengan anggun dan berkicau dengan halus, tampak kau tersenyum melihat tingkahku yang konyol serta lugu. Aku mengepakkan sayapku hingga menyentuh langit, dari atas sana kulihat dia membisikkanmu sesuatu, aku terbang kembali ke bawah mencoba mencari dekap hangatmu yang semula Ku rasakan, tapi kau berbeda, kau tak lagi sama dengan apa yang dulu kau bagikan untukku. Aku melemah, aku tak berdaya saat kau melangkah jauh untuk berpaling dariku. Aku mencoba berdiri mengepakkan sayapku dengan anggun dan kembali berkicau tapi tetap saja aku lemah. Meski aku kini mampu untuk terbang kembali, mencoba bergabung dengan ribuan merpati lain. Aku tetap saja melemah setiap detiknya, aku terbang dari satu sarang ke sarang lainnya, aku tak menemukan apapun. Aku tak menemukan dekapan hangat seperti yang kau punya, hanya dekapan itu yang membuatku bahagia, hanya itu tak ada yang lain. Tapi, kau menjauh pergi mencari merpati lain yang bisa kau cintai, merpati yang lebih anggun dan lebih mempesona, lebih sempurna dibandingkan merpati sepertiku yang terlalu lemah dan tak berdaya. Saatku melintas di lalu lintas langit dia menyapaku, kembali menarikku dan kembali menghantarkan dekapan lembut itu, semula ku merasa aku menemukan kebahagiaanku seutuhnya, sejak kembalinya ia yang mendekap hangar kedua sayapku, namun aku melihat keanehan yang ia sembunyikan, perlahan ia pun kembali pergi, kembali membuangku ke dasar lautan air mata yang tak berdasar. Aku kembali terpuruk, kembali merasakan dingin yang tak henti-hentinya menusukku, aku kembali diseret dalam ribuan duri kekecewaan, kembali ditenggelamkan dalam lautan air mata. Aku tak sanggup untuk terus menangis, aku tak sanggup untuk terus dihujam oleh duri kekecewaan, aku mencoba bangkit, mencoba mencabuti duri dari sela-sela kulitku, aku berusaha berenang untuk mencapai permukaan, kembali menghirup udara segar yang mungkin tak sesegar kemarin, waktu ia mendekapku dengan tangan kekarnya, aku menyembunyikan bekas lukaku dibalik baju panjang yang kukenakan setiap harinya, menutupi isak tangisku dengan jutaan canda dan tawa. Aku mencoba tegar. Mencoba menerima kenyataan hidup yang pahit. Aku mulai mengeringkan sayapku, mencoba mengepakkan sayapku dan kembali terbang menyusuri langit senja. Aku melihat kawananku, mereka pun menerima kehadiranku, mereka dan aku merajut tawa dan canda yang sangat bahagia, tanpa sadar lukaku telah kututup dengan sempurna, aku tebang dengan membawa sejuta kebahagiaan, membagikannya pada merpati lain layaknya sinter claus . Hingga aku menemukan mereka disuatu sarang yang hangat dan aman, banyak cerita yang aku dan mereka rajut hingga suatu saat aku menceritakan tentang ia yang telah pergi dan menghilang kepada mereka, mereka mengatakan padaku tentang kebenaran, seperti disambar jutaan petir aku pun terjun kembali ke dasar lautan air mata yang dulu sempat ia tenggelamkan, aku kembali merasakan duri-duri kekecewaan yang menusuk sela-sela kulitku, seperti merobek luka lama aku pun tenggelam dalam kisah yang menyiksaku sedemikian rupa. Sakit teramat sakit, tak pernah ku bayangkan kenyataan yang sepahit ini, tak pernah kuindahkan masa lalu yang seburuk ini. Kenyataan ini rasanya seperti mencabikku dengan puluhan singa yang kelaparan, menghancurkan ku dari dasar jiwa hingga ke permukaan. Air mata ini seakan tak berhenti meratap kekecewaan yang sudah terjadi. Hati ini seakan tak mampu menampung sesak yang menghujamku bertubi-tubi. Aku hancur. Aku remuk. Bagai berlian yang terinjak hingga halus tak berbentuk. Itulah aku, merpati rapuh korban masa lalu, itulah aku merpati pembohong pembawa sejuta kebahagiaan yang tak mampu memberi bahagia pada masa lalunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar