Sabtu, 11 Oktober 2014

Taman Harmonika

Lingkaran taman ini sungguh rindang, memancarkan aura sendu ditengah teriknya mentari. Aku tengah mengarahkan kakiku melintasi lautan hijau, detak sepatu yang menyentuh lantai taman sungguh seirama dengan langkahku, saat sinar membakar habis kulitku, terdengar alunan suara lembut yang mampu membawaku terbang pada jutaan sinar mentari. Sejuknya angin yang berhembus membuatku semakin menikmati alunan lembut itu, seolah sebagai penuntun jalan ku arungi lautan hijau melalui arah angin. Ku temukan lingkaran tua dengan beberapa prajurit harmonika, seperti pelataran kerajaan yang menyuguhkan keromantisan melalui dekapan nada. Kakiku meraba mencoba masuk pada pelataran tua itu, menikmati dekapan hangat dan lembut para prajurit harmonika, sekilas ku lihat tatapan tajam mereka namun seiring lantunan nada indah mereka melihat aku sungguh menikmati dekapan mereka, mereka pun mulai membuka jalan untukku duduk dan menikmati dekapan itu lebih lama lagi. Pohon hijau menggugurkan dedaunan kering, menambah sentuhan romantisme di tengah sendunya mentari, aku terbang tinggi melewati jutaan dedaunan yang masih giat bertahan pada sang ranting. Aku terpejam, terbang bersama angin siang yang membakar permukaan kulit, aneh. Sungguh aneh, aku tak merasakan sinar tajam yang mampu merusak kulitku, yang aku rasakan hanyalah dekapan lembut sang nada yang mampu membawaku terbang tanpa merasa tersakiti. Sendunya nada, sangat mewakili jutaan perasaanku saat ini, perasaan yang tak dapat ku jadikan kata-kata. Anganku terbang, jiwaku pun menangis. Merasa tersayat dari jutaan rasa sakit, merasa bebas dari penjara hati yang terus menerus mengurungku dalam peristiwa yang sama. Jiwaku yang menangis seolah merasa bebas, jiwaku yang terkurung seolah akan bebas. Angin dan nada perpaduan konkrit yang mampu membawaku terbang melepas jutaan rasa sakit yang membawaku tenggelam kepermukaan hina. Angin dan nada yang saat ini hadir seolah ingin membebaskan aku dari keterpurukan hati, sakit yang Ku rasa seolah bebas, benci yang ku dekap seolah meronta ingin bebas. Aku tak mampu membencinya, tak mampu untuk membalas perlakuannya, nada. Jeritku pada nada membuat jiwa ini semakin kencang untuk menangis, meronta ingin mendekap kebahagiaan. Nada, ampuni aku, aku terlalu sakit untuk menerima kenyataan ini, bantu aku untuk lepas dari kebenciaan ini. Jika aku bisa menjabarkan rasa sakit ini, mungkin aku bisa menamparnya, melampiaskan semua emosi jiwa yang aku pendam selama ini. Tapi aku tak bisa, tak bisa jika harus melihatnya terluka. Aku hanya ingin dia bahagia tanpa harus menghancurkan kebahagiaanku. Bawa aku terbang jauh nada, bawa aku bersama dekapan hangatmu, bawa aku pergi dari penjara hati yang gemar mengurungku dalam rasa sakit. Ribuan air mata ini takkan bisa membebaskan aku, jutaan jeritan bahkan milyaran rontaan tubuh hanya mampu membuatku tetap berada dalam sakit. Bantu aku kabur dalam rasa sakit ini angin, terbangkan aku ke masa depan, aku lelah mencintai mereka yang salah, aku lelah menelan tombak kehidupan yang selalu merobek kantung air mataku. Tolong bebaskan aku, aku hanya merasa bebas disini, tidak didalam diriku sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar