Aku berdiri terdiam di atas sepi berlandaskan perih yang selalu menyayat hati,semilir angin yang berhembus amat kencang seolah membawa duka lama yang teramat pedih. Di atas sini ku tundukkan kepalaku melihat banyaknya kendaran yang berlalu lalang mengusir sepi,seperti layaknya mereka berlalu lalang di kehidupanku berusaha menciptakan warna biru setelah kelabu di hari-hariku tapi entahlah hatiku tak tersentuh dengan warna-warni yang mereka ciptakan di hidupku,aku hanya menikmati warna kelabu yang begitu kontras dengan warna-warni dunia di luar sana. Sesekali aku hanya menoleh dan tersenyum pada warna-warna itu seolah aku terhibur dengan kehadirannya. Miris. Memang semua warna kelabu yang hadir memang membuatku terlihat miris, seperti mengejar namun aku hanya bisa diam. Terlihat bahagia namun aku hanya merasakan sepi. Harus bagaimana ku menyikapi keluhan hati ini, tak ada ramuan yang mampu mengusir mendungnya hati ini,tak ada warna selain kelabu, tak ada mentari selain hujan. Berdiri,terdiam,dan memejamkan mata menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahku, berdoa ketika aku membuka mata hanya warna-warni kehidupan di luar yang aku lihat,berharap agar warna kelabu yang selama ini menjadi selimut hatiku hilang untuk waktu yang lama. Aku tak mengharapkan sinar matahari tampak dan menghangatkan hatiku yang beku seolah mati. Aku hanya ingin membuka mata dan melihat pelangi setelah hujan datang.
Minggu, 24 November 2013
Aku
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar