Ketika semua perjalanan yang ku tempuh menemukan tempat istirahat sejenak dan menemukan kebahagiaan di dalamnya dan semua itu harus hancur hanya karna satu keegoisan yang tak pernah memandang kebutuhan. Perjalanan yang ku tempuh bagaikan sebuah perjalanan menuju bukit yang teramat dekat dengan langit. Di sana aku akan menemukan kebahagiaan tanpa akhir, namun apalah daya raga ini terlalu lelah untuk meronta,menangis dan memohon. Hanya diam seribu bahasa yang dapat ku lontarkan, tak ada lagi senyuman manis di hadapannya saat ku menatap kembar bola mata itu. Sunyi. Dingin. Emosi. Hanya itu yang tersembunyi di balik kerangka tubuh ini. Takkan ku tawarkan harga ini pada keturunanku nanti. Takkan. Aku hanya ingin melihat mereka tertawa dan tersenyum saat menatap dua jendela hati ini. Aku hanya ingin menghapus bulir air mata di kedua belah pipinya yang halus. Tanpa ada perlawanan,tanpa ada keegoisan. Hanya kasih sayang dang cinta tulus yang aku selipkan di antara banyaknya anak rambut yang tumbuh di kepalanya. Hanya perhatian yang akan ku dendangkan di setiap tapak kakinya. Agar suatu saat nanti,saat senja menjemputku. Aku hanya bisa tersenyum bahagia di atas bulir air yang mereka keluarkan untukku. Aku ingin terus menghapus bulir air yang jatuh itu namun suatu hari nanti mereka akan mengerti apa arti senja dan senyum kebahagiaan yang aku suguhkan untuk mereka. Mereka akan tahu. Tapi nanti. Saat mereka telah menemukan kebahagiaan mereka dalam perihnya kehidupan ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar