Aku berdiri disepanjang jalan raya, hari ini telah gelap bermandikan rintik hujan yang membuat suasana menjadi dingin dan beku. Banyak kendaraan beroda yang berlalu lalang memenuhi ruas jalan yang dipenuhi oleh genangan air, lampu mobil pun kian menghiasi rintik hujan yang turun tanpa henti. Aku memberhentikan sebuah mobil berwarna biru yang hampir dipenuhi oleh para penumpang, aku pun menaiki mobil itu,terlihat beberapa orang telah terduduk nyaman ditengah dinginnya udara malam. Mereka terduduk nyaman tapi tidak dengan sorot mata yang selalu menengok ke arah luar sana dan tenggelam dalam pikirannya masing-masing, di dalam mobil itu terdapat bermacam-macam karakter. Aku tengah duduk tepat dibelakang supirdan menghadap ke arah pintu masuk mobil yang selalu terbuka, mobil melaju perlahan masih tetap mencari penumpang untuk memenuhi kursi yang masih kosong. Tiba-tiba sepasang remaja menaiki mobil tersebut dengan membawa sebuah gitar mini yang biasa disebut dengan "Okulele". Remaja laki-laki mulai memetik okulele yang berada di kedua tangan perkasanya, melantunkan nada indah berirama ceria,remaja perempuan yang duduk tepat di sebelah remaja laki-laki itu pun mulai membuka mulut, menyanyikan kata indah bernuansa asmara. Lirik itu mempunyai kata yang biasa tapi aku melihat ada yang tak biasa diantara lirik yang mereka nyanyikan ada sinar kehangatan ditengah dinginnya udara malam,sorot mata di tengah mereka seakan mengisyaratkan bahwa mereka tengah dilanda asmara yang sedang berkobar di hati mereka masing-masing, syair lagu yang mereka lantunkan tak digubris oleh penumpang yang terlihat lelah dan ingin segera sampai di rumah mereka yang hangat,bersuarakan si kecil yang selalu menciptakan gelak tawa yang tak biasa. Sepasang remaja itu tak mempersalahkan ketika semua penumpang hanya tenggelam dalam pikiran mereka,hanya aku yang selalu melirik setiap gerak-gerik sepasang remaja itu yang tengah menikmati lagu yang mereka bawakan untuk sekedar mencari receh. Mereka tak malu akan baju lusuh yang mereka kenakan untuk saling bertatap muka, mereka tak gengsi akan lelah yang melanda kaki mereka asal mereka tetap bersama yang mereka rasakan hanyalah kebahagiaan. Kebahagiaan sederhana yang mungkin tak biasa bagi kita yang hidup dengan segala fasilitas, cinta mereka sederhana, tak perlu barang mewah untuk mewakili jati dirinya, tak perlu gengsi untuk menunjukkan cinta mereka di tengah hiruk pikuk keadaan kota malam itu. Mereka hanya perduli akan rasa cinta yang hadir di tengah mereka,mereka mengesampingkan receh yang akan mereka bawa pulang, syair lagu pun habis kini waktunya mereka meminta imbalan atas lagu yang telah mereka nyanyikan,namun tak ada satu pun yang memberinya sebongkah receh sebagai hasil jerih payahnya, tetapi mereka keluar dari mobil biru yang telah di penuhi penumpang dengan senyum yang merekah dibibir keduanya tanpa perduli hujan tengah marah menumpahkan seluruh isi awan hitam yang akan membanjiri malam ini dengan ribuan rintik yang indah seakan melengkapi kebahagiaan diantara kedua remaja yang tengah dilanda asmara sederhana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar