Rumah segitiga berkaca ditempatkan sedemikian rupa di tengah kota besar. Di kelilingi jutaan bunga berwarna merah ditemani satu lingkaran keramik hitam dengan percikan air di tengahnya. Jalan setapak yang tak terlalu besar hanya mampu diisi oleh beberapa orang,tampak beberapa orang berlalu lalang menjauhi jalan setapak ini seolah di sepanjang jalan ini tak ada yang indah. Aku duduk terdiam disebuah besi berwarna hijau yang mulai memudar,cuaca hari ini mendung tak bermega, tak ada rona putih diantara langit hitam di atas sana. Di tempatku terdiam aku menatap hamparan rumput hijau yang tertata sangat rapi seakan membebaskan pikiranku dari kerangkeng yang menjerat tubuhku, pikiranku melayang terbang bersama angin sore. Lampu-lampu yang berada di jalan setapak pun satu per satu mulai menyinari sepanjang jalan berkeramik yang tak terlalu besar, lampu-lampu jalan itu bersinar dengan warna yang sangat menghangatkan. Pikiranku yang bebas seolah menemani burung walet yang mencoba ramah kepada para pengunjung taman, burung walet tak pernah jera untuk selalu ramah meskipun hanya segelintir orang yang menyadari akan keramahan sang burung, sang burung pun tak pernah terlihat sedih. Mereka asik terbang, membentangkan sayap kecil mereka untuk beradu dengan gulungan angin yang mengudara. Di hamparan rumput hijau yang ku tatap dengan sendu membentuk pikiranku yang sedang melayang bebas menjadi sebuah kerajaan pohon yang di huni oleh ribuan walet yang ramah, serta merta ribuan bunga indah yang memiliki banyak warna menggoda mata. Serat-serat kayu yang menjadi dinding kerajaan ku berikan alunan melodi yang akan membuat suasana kembali ceria walaupun cuaca tak seindah apa yang kita impikan. Langit pun kian gelap, rumah kaca yang hambar kini tampak bercahaya dengan penerangan yang menggoda untuk dinikmati, aku pun beranjak dari tempat yang sedaritadi ku duduki, berjalan mengitari taman bersama beberapa orang teman yang sedang asik berbincang. Aku menemukan tempat indah diatas pelataran parkir tak jauh dari rumah kaca yang masih tampak terlihat agung, aku menemukan dimana hamparan semen rata yang mempunyai pemandangan yang luar biasa, seakan membawaku dekat dengan langit sore yang mulai menghitam, di sejukkan dengan warna-warni lampu yang mengelilingi puluhan gedung yang dapat ku lihat dari atas pelataran parkir ini, angin yang bergelung pun kian terasa saat berhembus menghempas diri yang mulai merasakan peluh yang tak dapat terukirkan. Tak jauh dari tempatku berada, aku melihat sepasang kekasih yang sedang bercumbu mesra, seakan-akan tak ada pasangan yang lebih romantis selain mereka. Bercumbu dibawah langit sore yang menghitam ditemani oleh gulungan angin yang berhembus serta dihiasi puluhan warna-warni indah yang mengelilingi bentuk gedung tinggi yang hampir menyentuh langit sore. Aku tersenyum, mendengar setiap untaian kata manis yang terucap dari bibir tipis sang pujangga, dan anggukan lembut sang bidadari cinta yang hanya tersenyum tatkala sang pujangga mengeluarkan "bisa" yang dapat membunuhnya perlahan. Langit sore pun kini berubah menjadi hitam pekat tanpa dihiasi sang sirrius, hujan pun mulai mengguyur hamparan rumput hijau yang kini menambah merdu melodi kehidupan malam ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar