Sabtu, 04 Januari 2014

Perahu Kertas

Aku tak berharap kamu hadir di sini menemani,mengusap peluh jiwaku yang lelah berharap. Aku tak menginginkan kamu tinggal memberikanku gelak tawa yang kian hari,kian berwarna. Aku hanya memimpikan kamu mampir ke dalam malamku,memberikanku satu senyuman yang dapat ku genggam selamanya, Aku hanya berhayal kamu datang memberikanku satu masa yang pasti, dimana kau dan aku dapat bersama menempuh ribuan air laut yang tak mungkin akan ku lalui sendiri. Aku hanya menginginkan kamu membuatkanku sebuah perahu kertas, untukku mengarungi kisah hidup di masa aku tak bersamamu. Aku hanya ingin mengarungi lautan kehidupan dengan perahu kertas yang bertuliskan namamu,yang memiliki sidik jarimu di setiap sisinya. Aku mengerti kau tak bisa hadir saat ini memberikanku kepastian akan hadirmu yang selalu menemaniku saat aku mengarungi samudera kegelapan. Aku hanya mampu untuk menunggu, menghitung ribuan sirius yang jauh di angkasa sana. Aku mau menjadi nahkoda dari perahu kertas yang kau buatkan khusus untukku, biarkan aku memimpin perahu itu sendiri untuk bertemu sirius. Memintanya mengajarkanku cara bersinar, sampai akhirnya kau benar-benar hadir menggantikanku menjadi nahkoda perahu kertas yang mampu menampung kita untuk mengarungi dunia ini bersama. Menatap jutaan sirius di angkasa gelap yang mungkin akan tersenyum saat tau kita telah bersama, biarkan air laut menerpa perahu kertas kita memberikan kita hentakan dimana kita bisa berdekatan dan saling mendekap erat seakan tak ada yang rela saat seperti itu kan hilang di telan gulungan ombak yang akan kembali ke tengah lautan malam. Biarkan batu karang hadir diantara kita memberikan kita lantunan lagu di tengah perahu kertas yang kita pakai untuk mengarungi dunia. Biarkan ikan berbincang melihat senda gurau kita yang mungkin membuat mereka iri tepat dibawah sana. Perahu kertas ini mengarungi lautan hingga mencapai samudera kehidupan,sampai akhirnya perahu kertas kita tiba di pelabuhan terakhir untuk kita bersanding melanjutkan cerita cinta yang tlah lama kita rajut dibawah ribuan sirius dan dewi malam, ditemani dengan ribuan karang yang mengalun dan bisikan para ikan yang selalu menatap iri. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar