Kala aku menangis merindukan bulan yang tak pernah dapat ku gapai,saat itulah aku menyadari betapa indahnya bulan yang selalu menemani malam-malamku. Aku tersenyum menatap gelap malam,yang berhiaskan bundarnya bulan pada malam ini, mengenang jalan lalu yang lama ku arungi bersamanya,tenggelam dalam cahaya indah yang terus mengiringi langkahku. Aku hanyut dalam melodi cinta yang mengalun bagaikan air yang mengalir,menuju satu muara yang tak bertepi. Semua hadir bintang takkan ada artinya tanpamu, tanpa sinarmu yang selalu membuatku terpesona dalam sudut mata hati ini. Aku selalu menyimpan indahmu dalam mimpiku,membawa cahayamu di setiap langkah menuju padang rumput dan meninggalkan hutan gelap berlumpur. Bulan. Ya engkau adalah bulanku. Mengiringi setiap jalan hitamku yang belum memiliki tepi. Duri pun tak mampu memnggoreskan luka saat aku, menatap cerahnya bentuk bundarmu. Saat kau menghilang, aku baru menyadari betapa sakit duri yang menggoreskan luka di lenganku yang mengeluarkan tetesan darah merah yang mampu membuatku menitikkan air mata. Aku pun tersadar ketika kau menghilang dan di gantikan sang mentari, aku baru. Sangat baru menyadari bahwa ketika matahari terbit dan menggantikan posisimu, aku baru menyadari bahwa aku merindukan sang dewi malam. Selalu ada masa dimana semua terkenang, tentang hadirmu yang selalu mengiringi gelapnya jalanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar