Alam bermandikan milyaran air di bawah sorot daun yang bermentari, semua sibuk dengan aktifitasnya, hanya aku yang terdiam disudut ruang putih tak berjendela. Hanya deru keramaian yang ku dengar,hanya raut wajah bahagia yang terpancar dari mereka,dan aku hanya bisa melihat itu. Sepercik rasa iri menyelimuti mengais sisa kebahagiaan yang dulu pernah terjalin. Sungguh ironi kisahku, menemukan kebahagiaan orang lain namun tak mampu menemukan kebahagiaanku sendiri. Hanya pelampiasan hitam yang tak mampu perlihatkan,hanya kesunyian yang menjadi teman melodi saat ini,esok dan mungkin selamanya. Hanya selembar kertas putih yang tersedia di hadapanku tanpa sebuah pena hitam yang mampu mengisi lembaran kaku itu. Semua bertanya apa yang terjadi sehingga aku membisu tak mengeluarkan sederet kata yang biasa ku lakukan,aku pun tak mengerti apa yang ku alami,aku hanya lelah. Lelah merasakan kesendirian,lelah merasakan kesakitan,dan lelah mengeluarkan tangisan. Aku jenuh. Mungkin ini saatnya aku melepaskan semua kenangan indah yang pernah tercipta,mungkin ini saatnya aku melupakan kisah hati misterius yang tak berujung pada sebuah kisah indah. Ini titik jenuhku,ini titik lelahku. Mungkin semua harus ku akhiri,mungkin semua harus ku hindari hingga luka yang lalu dapat mengering dan bersinar kembali. Jika aku mengakhiri semua,semua sudah jelas aku mengakhiri sebuah perasaan yang belum terealisasikan, yang belum menemukan pintu masuk ke dalam ruang putih berselimutkan asap cerah. Kini biarlah semua berlalu,berakhir sebagaimana mestinya ketika semua berawal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar