ku berlari menatap bulan dalam keheningan
malam,menghitung jutaan bintang yang bersinar dalam kegelapan, ku menengadah
menatap jutaan meteor yang mungkin jatuh sebagai air mata langit dengan sejuta
misteri di dalamnya. dapatkah aku menggenggam satu meteor itu dan menaruhnya
dalam toples bintang malam yang ku sediakan khusus untuknya. waktu membawaku
pergi,tenggelam dalam sepi yang takkan berujung, pada sebuah kertas kaku untuk
ku tulis kembali. angin membawa nyawaku melayang menatap indahnya
senja,putihnya awan dan kilaunya jutaan bintang yang mulai menghiasi angkasa
malam, jutaan lagu berdendang di setiap sendi kehidupan malam, membuatku
merindukan bulan yang mungkin sedang bahagia bersama dewi malam. Semua hal tentangnya seakan menjadi bagian dalam hidupku, selalu menjadi alasan di setiap langkahku. Aku selalu bertanya pada ribuan daun hijau yang saling berhimpit tertiup sang angin, menyakan kabar dan sejumlah hal konyol lainnya. Aku selalu menatap putihnya awan membayangkan setiap kejadian yang mungkin sedang dia lakukan jauh di dimensi sana. Aku mengangguminya seperti aku mengaggumi keanggunan sang dewi malam. Aku meresapi setiap tawa candanya seperti aku menikmati hembusan angin seolah dia sedang bernafas di hadapanku,membelai lembut jiwaku dengan jemari lentiknya yang kasat mata. Aku mengayun mendengarkan dendang lagu yang di alunkannya lewat senar gitar yang mengiringi melodi cintanya seakan dia menuntunku,menuntunkuuntuk tepat berada di depan pintu merah jambu bertuliskan kata "Cinta,Kasih dan Jiwa".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar